Tambah Buruk

Ayat bacaan: Yohanes 5:14
======================
“Kemudian Yesus bertemu dengan dia dalam Bait Allah lalu berkata kepadanya: “Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk.”

Ada seorang teman yang masih muda dan sering mengendarai motor dengan ugal-ugalan. Sudah banyak yang memperingatkan, bahkan ia sudah beberapa kali terjatuh, tapi ternyata itu belum juga cukup untuk membuatnya kapok. Suatu kali ia melewati sebuah turunan curam hanya dengan mempergunakan sebelah tangan dan seperti biasa, tidak hati-hati. Ia tidak memperhitungkan bahwa saat itu baru saja habis hujan sehingga jalanan menjadi lebih licin plus banyak batu-batu kecil yang terseret air bertebaran di tengah jalan. Motornya terpeleset dan terguling. Lukanya lumayan di bagian perut. Beruntung ia tidak sampai mengalami patah dan tidak ada luka berarti di bagian kaki karena terlindungi celana jeans yang tebal. Saya berharap semoga kejadian itu bisa menjadi pelajaran berharga yang membuatnya memperhatikan betul keselamatan ketika mengendarai motor.

Bersikap bandel meski sudah diingatkan seringkali membawa kerugian, kecelakaan bahkan malapetaka dalam hidup kita. Bersikap ‘tomat’: hari ini tobat besok kumat’, itu pun hanya akan merugikan diri sendiri. Kalau sudah tahu akibatnya tapi masih bandel, jelas nanti harus menanggung resikonya. Dengan kata lain, kita menabur sikap bandel, kita menuai kerugian. Masih untung jika kerugiannya tidak serius. Bagaimana kalau sampai mengakibatkan cacat atau kerugian lain yang akibatnya berat, atau merugikan bahkan mencelakakan orang lain? Ketidaksadaran, ketidakpedulian, tidak acuh atau cuek terhadap nasihat seringkali membawa dampak seperti ini dalam hidup kita. Dalam banyak kasus yang mudah kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, kebandelan yang terus berulang tampaknya membawa kejadian yang lebih buruk.

Betapa seringnya kita lupa bahwa dosa itu bisa meningkat eskalasinya dan membawa akibat yang terus semakin parah. Dosa lama yang kembali kita rangkul, dosa-dosa ‘kecil’ yang terus kita biarkan bisa mendatangkan dosa lebih banyak dan dengan sendirinya membawa akibat lebih buruk. Kalau tadinya kita merasa menyesal ketika berbuat dosa, ketika itu terus berulang-ulang kita biarkan maka lama kelamaan berbuat dosa akan terasa lebih ringan karena hati nurani kita tidak lagi berfungsi atau terlanjur mati. Kita jadi terbiasa berbuat dosa dan tidak lagi merasa bersalah ketika melakukannya. Dosa terus bertambah banyak dan terus dibuahi sehingga mendatangkan banyak masalah dalam tingkatan yang seringkali bertambah pula.

Yesus mengingatkan hal ini ketika ia menyembuhkan orang lumpuh di kolam yang disebut Betesda (Yohanes 5:1-18). Orang ini sudah begitu lama mengalami lumpuh (38 tahun) dan sangat berharap akan kesembuhan. Sayangnya waktu itu tidak satupun orang yang mau membawanya masuk ke dalam kolam. Tapi Yesus yang ada disana melihatnya dan tanpa perlu basah ia pun disembuhkan.

Setelah sembuh ia bertemu dengan Yesus di dalam Bait Allah. “Kemudian Yesus bertemu dengan dia dalam Bait Allah lalu berkata kepadanya: “Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk.” (ay 14). Perhatikan bahwa Yesus mengingatkan orang ini agar jangan berbuat dosa lagi setelah sembuh, karena itu bisa membawa dampak yang lebih buruk lagi kepadanya. Yesus pun pernah beberapa kali mengatakan “jangan berbuat dosa lagi” secara langsung seperti dalam kisah “perempuan yang berzinah” (Yohanes 7:53-8:11). Ketika perempuan yang berzinah itu hampir dihakimi oleh para ahli Taurat dan orang Farisi dengan hukuman dirajam sampai mati akibat kesalahannya, Yesus datang memberikan pengampunan. Satu pesan yang disampaikan Yesus kepadanya: “..jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” (8:11).

Dosa yang terus menerus dilakukan akan membawa dampak yang lebih berat lagi. Jika demikian, kesadaran sangatlah diperlukan agar kita tidak berbuat dosa lagi. Secara jelas Paulus juga mengingatkan kita agar tidak terbuai dan lengah menjaga kesadaran. “Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi!” (1 Korintus 15:34). Sadarlah kembali, dan sadarlah sebaik-baiknya, kata Paulus. Jangan puas dengan sadar yang hanya setengah-setengah. Kesadaran seperti itulah yang bisa membuat kita awas akan jebakan-jebakan iblis agar kita kembali tercemar oleh berbagai dosa yang seharusnya sudah kita tinggalkan.

Kalau mengacu kepada 1 Petrus 5:8, kita harus sadar bahwa iblis akan terus berkeliling mengaum-aum mencari celah untuk menjauhkan kita dari keselamatan. Dia akan terus berusaha untuk itu, tetapi ia tidak akan bisa berbuat apa-apa jika kita tidak memberi celah sedikitpun baginya untuk masuk. Ia hanya bisa berkeliling, mengaum-aum tanpa bisa melakukan apapun karena tidak ada celah yang bisa ia manfaatkan. Itulah sebabnya menjaga kesadaran sebaik-baiknya merupakan tugas yang sangat penting untuk kita ingat setiap saat. Si jahat akan terus berusaha tanpa lelah untuk menipu dan menjebak kita agar kita kembali menjadi hamba dosa. Tetapi iblis tidak akan sanggup berbuat apa-apa jika kita tetap berada dalam kondisi sadar penuh setiap hari.

Dosa yang dilakukan berulang-ulang bisa mendatangkan akibat yang semakin buruk. Begitulah berat resikonya apabila kita terus bermain-main dengan dosa. Oleh karena itulah kita harus mengingat betul pesan Paulus agar kita benar-benar memperhatikan kesadaran kita sebaik-baiknya. Kesadaran yang sebaik-baiknya sangatlah penting dalam menentukan apakah kita bisa menjaga kekudusan diri kita atau tidak, apakah kita bisa tetap bersih atau kembali tercemar oleh banyak dosa. Apabila kita tahu apa yang salah tetapi kita terus menerus melakukannya maka yang terjadi bisa lebih buruk dari yang kita duga. Tidaklah cukup bagi kita untuk sekedar tahu saja akan mana yang baik dan buruk tanpa benar-benar menjaga kesadaran kita secara baik. Jika itu kita lakukan, itu hanya akan memperburuk status kita dan dengan sendirinya kita tengah mengeluarkan diri kita dari keselamatan yang sudah diberikan Kristus buat kita.

Menjaga diri dengan kesadaran sebaik-baiknya menghindarkan kita untuk berulang kali melakukan dosa yang bisa mendatangkan hal yang lebih buruk 

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.