Tamak (2)

(sambungan)

Kita harus mengerti bahwa kekayaan yang ada pada kita adalah titipan Tuhan. Karena itu kita harus mempergunakannya untuk kemuliaan Tuhan dan untuk sesama kita. Dikatakan “Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” (Kisah Para Rasul 20:35). Perhatikan, semakin dalam kita masuk ke dalam hadiratNya, semakin dekat kita pada Tuhan, maka prinsip kebahagiaan pun seharusnya berubah. Jika dulu kita berbahagia ketika kita diberi, maka kini kita akan jauh lebih berbahagia ketika bisa memberi, membantu meringankan beban orang-orang yang tengah menderita dan berbagi kebahagiaan dengan mereka.

Sebuah perikop penting dari surat rasul Paulus menjabarkan lebih lanjut mengenai hal ini. “Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.”(2 Korintus 9:6-7). Tidak berhenti sampai disitu, kemudian ditegaskan pula bahwa Tuhan sanggup melimpahkan segala kasih karuniaNya bahkan hingga berkelebihan, dan ini semua bukan untuk memperkaya diri, menyombongkan diri dan dinikmati sendiri dengan serakah, melainkan untuk berbuat baik dan beramal. (ay 8). Dalam kesempatan lain, Petrus pun mengingatkan hakekat penting dari menerima berkat.  “….hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat.” (1 Petrus 3:9) Ini hal penting yang harus kita cermati. Kita memperoleh berkat adalah agar kita bisa memberkati orang lain lewat segala yang kita miliki, bukan untuk ditimbun demi kepentingan diri sendiri, memuaskan semua hasrat konsumerisme seperti yang terus diekspos dunia. Singkatnya, kita diberkati untuk memberkati.

Ketamakan tidak akan membawa manfaat apa-apa. Perilaku seperti ini tidak akan pernah berkenan di hadapan Tuhan. Tuhan akan sangat kecewa apabila segala berkat yang Dia berikan malah dipakai untuk menindas dan merugikan orang lain, atau dipakai sebagai alas kesombongan. Semakin banyak kita diberkati, kita harus semakin banyak pula memberkati, karena itulah alasan utama mengapa kita menerima berkat dari Tuhan. Tidak perlu takut rugi dalam memberi, karena Tuhan sudah menyatakan bahwa kita tidak akan berkekurangan apabila mau menjadi duta-duta kasihNya di dunia. Dalam Amsal dikatakan: “Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan.” (Amsal 11:24).

Pelit, tamak, serakah, egois dan sejenisnya tidak akan pernah membawa hasil apa-apa selain kerugian buat diri kita sendiri. Apa yang dikehendaki Tuhan adalah kita harus mau memberkati orang lain dengan segala berkat dari Tuhan, atas dasar kasih kita kepada mereka dan Tuhan sendiri. Jika kita punya sikap mengasihi Tuhan dan taat pada kehendakNya, tidak saja di dunia ini kita akan dicukupkan bahkan sampai berkelimpahan, tapi kita pun akan beroleh hidup kekal. “Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.”(1 Yohanes 2:17). Memburu uang tidak akan ada habisnya. Kita memang bisa membeli barang-barang di dunia yang kita mau, tapi semua itu tidak akan bermanfaat apa-apa dalam kehidupan kekal. Oleh karena itu, jadilah berkat bagi sesama.

Ketamakan tidak akan pernah membawa manfaat, justru mendatangkan merugikan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.