Talenta dan Cakap (1)

Ayat bacaan: Amsal 22:29
===================
“Pernahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina.”

“Anak saya tampaknya punya bakat musik..” demikian kata teman saya mengenai anaknya yang masih berusia 6 bulan. Di usia sedemikian kecil ternyata bakat sudah mulai terlihat. Si bayi sangat suka mendengar musik. Ia akan tersenyum bahkan mengeluarkan suara seperti sedang bernyanyi sambil menggoyang-goyangkan kaki dan terkadang tangannya. Itu terjadi hampir setiap kali ia mendengar lagu, sehingga sang ayah bisa mengetahui bahwa anaknya memiliki ketertarikan istimewa terhadap musik. Tapi meski demikian, bisakah ia langsung menjadi penyanyi atau musisi tanpa pernah belajar? Setelah belajar, apakah mereka bisa langsung sukses atau harus terus berlatih dengan tekun agar kemampuannya bisa terasah baik? Tentu saja, sehebat-hebatnya talenta yang dihadiahkan, kita harus tetap mengasah dan melatih agar apa yang dipercayakan Tuhan kepada kita itu bisa berbuah dan selanjutnya bisa memberkati banyak orang.

Adalah penting untuk mencari tahu atau mengenali talenta-talenta yang sudah disediakan Tuhan dalam hidup kita, tapi tidak kalah penting pula untuk menyadari bahwa anda tidak akan bisa berbuat banyak tanpa terlebih dahulu mengolah talenta atau keahlian-keahlian khusus yang telah Dia berikan. Talenta seringkali hadir dalam bentuk “raw material” yang masih harus lebih dulu diasah agar bisa menghasilkan potensi luar biasa. Kita perlu terlebih dahulu memeriksa dengan seksama apa sebenarnya yang telah Tuhan sediakan bagi kita, berdoa untuk mengetahui apa yang menjadi rencana Tuhan sesungguhnya untuk kita masing-masing. Setiap orang punya panggilan masing-masing sesuai dengan talenta-talenta yang telah disediakan sejak semula. Agar bisa berbuah, kita harus serius dalam mengolahnya. Mengetahui, mengasah, mengembangkan dan mempergunakan potensi yang ada untuk mencapai kesuksesan sehingga mampu memberkati orang lain dan memuliakan Tuhan dalam setiap yang kita lakukan, itulah singkatnya point yang harus kita perhatikan.

Tuhan tidak pernah menginginkan kita untuk menjadi orang yang bekerja setengah-setengah. Tuhan tidak menginginkan kita untuk menjadi orang yang biasa-biasa saja. Jika anda terus mengasah potensi yang ada dalam diri anda, mengasah keterampilan, bakat atau kemampuan-kemampuan khusus dalam diri anda dan dengan sungguh-sungguh mempergunakannya, maka anda akan tampil menjadi orang-orang yang cakap di bidangnya. Itulah yang Tuhan inginkan. Seperti itulah kita seharusnya, menjadi orang-orang yang cakap di bidang masing-masing.

Seperti apa orang yang cakap itu dan dimana posisi seorang yang cakap di masyarakat? Mari kita lihat ayat bacaan hari ini. Salomo mengajukan sebuah kalimat penting akan hal ini. “Pernahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina.” (Amsal 22:29). Perhatikan kata “cakap” yang disambungkan dengan kata pekerjaan. Dalam versi bahasa Inggris kata cakap disebut dengan “dilligent and skillful” alias “rajin dan ahli.” Itulah yang dimaksudkan lewat kata “cakap”, seperti itulah seharusnya gambaran dari orang-orang percaya. Bukan setengah-setengah, bukan asal jadi dan bukan pula pas-pasan. Di sini tercakup hal mengetahui potensi dalam diri kita, lalu mengolah, mengasah dan mempergunakannya dengan baik, untuk tujuan baik. Inilah gambaran orang-orang yang cakap, dan orang cakap tentu akan berdiri di posisi terhormat.

(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.