Tabita (2)

Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 9:36
==========================
“Lida dekat dengan Yope. Ketika murid-murid mendengar, bahwa Petrus ada di Lida, mereka menyuruh dua orang kepadanya dengan permintaan: “Segeralah datang ke tempat kami.”

tabita, dorkasAda begitu banyak alasan yang bisa mencegah kita untuk menjadi berkat bagi orang lain meski hati kita mungkin sudah tergerak merasa kasihan dan ingin bisa membantu. Ada beberapa teman yang selalu berkata ia ingin kaya terlebih dahulu untuk bisa membantu orang lain. Masalahnya, harus sampai seberapa kaya kita terlebih dahulu baru bisa membantu orang lain? Dan banyak pula diantara kita yang berpikir kalau membantu itu perlu biaya dan pengorbanan besar, sementara yang sederhana atau kecil itu tidak akan banyak bermanfaat. Tidak jarang pula yang merasa kalau sumbangsih atau sedekah kecil lewat harta atau perbuatan itu tidak akan terlalu bernilai di mata Tuhan. Ini adalah anggapan yang salah. Sekecil apapun yang kita berikan atau perbuat, selama itu tulus, Tuhan akan memandangnya sebagai sesuatu yang sangat berarti. Bukan hanya Tuhan, tetapi manusia pun juga demikian. Seringkali pertolongan terbaik yang bisa kita berikan justru hanya dengan meluangkan waktu kita untuk mendengar keluh kesah orang lain. Itu tidak perlu biaya apa-apa. Atau bahkan secercah senyuman pun bisa memberkati orang lain.

Mari kita lanjutkan kisah mengenai seorang janda murid Yesus bernama Tabita atau Dorkas yang tinggal di sebuah kota kecil yang tidak terkenal di pinggir laut. Kemarin kita sudah melihat bagaimana Tabita memberkati orang lain lewat talentanya, melakukan panggilannya dengan tindakan nyata lewat membuatkan baju dan jubah untuk para janda miskin di kotanya. Tabita bukanlah siapa-siapa. Ia bukan seperti Paulus dan para murid yang terus berkotbah dari satu kota ke kota yang lain menghadapi berbagai resiko yang mengancam nyawa mereka setiap saat. Tabita hanya melakukan apa yang bisa ia lakukan. Ia punya talenta menjahit, dan ia mempergunakan itu untuk menyatakan kasih dan memberkati sesama. Dan itu besar nilainya di mata Tuhan. Apa yang ia perbuat dicatat dalam Alkitab yang hingga hari ini kisahnya masih bisa kita baca. Tabita dikenal sebagai murid perempuan yang banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah. (Kisah Para Rasul 9:36).

Pada suatu ketika Tabita sakit, lalu ia pun meninggal. Jenazahnya sudah dimandikan dan jasadnya dibaringkan di ruang atas. Lalu terdengarlah kabar bahwa Petrus sedang berada tidak jauh dari kota itu. Dan inilah yang terjadi selanjutnya: “Lida dekat dengan Yope. Ketika murid-murid mendengar, bahwa Petrus ada di Lida, mereka menyuruh dua orang kepadanya dengan permintaan: “Segeralah datang ke tempat kami.” (ayat 38). Orang-orang yang mencintai Tabita segera berangkat menuju Lida dan bergegas menemui Petrus untuk memintanya datang. Mendengar kabar itu, Petrus pun segera bergegas berangkat ke Yope. “Maka berkemaslah Petrus dan berangkat bersama-sama dengan mereka. Setelah sampai di sana, ia dibawa ke ruang atas dan semua janda datang berdiri dekatnya dan sambil menangis mereka menunjukkan kepadanya semua baju dan pakaian, yang dibuat Dorkas waktu ia masih hidup.” (ay 39). Lihatlah betapa mereka semua kehilangan sosok Tabita yang baik hati. Dan mukjizat pun terjadi. “Tetapi Petrus menyuruh mereka semua keluar, lalu ia berlutut dan berdoa. Kemudian ia berpaling ke mayat itu dan berkata: “Tabita, bangkitlah!” Lalu Tabita membuka matanya dan ketika melihat Petrus, ia bangun lalu duduk. Petrus memegang tangannya dan membantu dia berdiri. Kemudian ia memanggil orang-orang kudus beserta janda-janda, lalu menunjukkan kepada mereka, bahwa perempuan itu hidup.” (ay 40-41). Tabita dibangkitkan! Dan lewat mukjizat tersebut banyaklah orang-orang yang kemudian menjadi percaya kepada Yesus.(ay 42).

Dari kelanjutan kisah Tabita ini kita bisa melihat bahwa perbuatan sederhana pun bisa menjadi berkat tersendiri bagi orang lain dan juga sangat dihargai oleh Tuhan. Seandainya Tabita bukan orang yang baik dan peduli, maukah orang repot-repot pergi ke kota lain untuk memanggil Petrus? Rasanya tidak. Kenyataannya Tabita begitu dicintai oleh orang-orang di kotanya sehingga mereka tidak mau kehilangan dia. Lalu lihat pula bagaimana kemudian mukjizat Tuhan turun atasnya dengan kembali dibangkitkan dari kematian. Bukan itu saja, ia pun membawa jiwa-jiwa baru untuk diselamatkan. Semua ini berawal dari kebaikan hati Tabita yang merepresentasikan kebaikan hati Tuhan lewat apa yang bisa ia perbuat kepada sesama. Apa yang dilakukan Tabita sangatlah sederhana. Dia punya kemampuan menjahit, dan dia memakai itu untuk memberkati secara nyata. Dan lihatlah bahwa itu sangat bernilai baik bagi manusia maupun bagi Tuhan.

Firman Tuhan mengajarkan kita untuk tidak menahan-nahan kebaikan. “Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.” (Amsal 3:27). Kebaikan tidak selalu memerlukan biaya atau tenaga besar, hal-hal yang sederhana dan kecil pun bisa sangat berarti. Tuhan sendiri tidak mementingkan besar kecilnya, melainkan ketulusan dan keikhlasan kita dalam memberi, sebab “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati. (1 Samuel 16:7). Jangan berpikir terlalu jauh untuk memberi yang besar jika kita belum mampu untuk itu, kita hanya diminta untuk memberi sesuai kemampuan kita. Tetapi di sisi lain, ingat pula bahwa apa yang kita tabur, itu pula yang akan kita tuai. (Galatia 6:7) Kita tidak perlu takut berkekurangan jika tergerak membantu orang lain, karena Tuhan tidak akan menutup matanya dari setiap perbuatan yang kita lakukan dalam namaNya. Ketika kasih di dalam diri kita menggerakkan kita untuk berbuat sesuatu bagi orang lain, jangan tolak dan jangan tunda. Bergeraklah segera dengan melakukan perbuatan nyata sesuai kesanggupan kita. Kemudian renungkan baik-baik ayat berikut: “Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya, yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan, tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman.” (Roma 2:6-8). Tuhan akan memberi ganjaran sesuai perbuatan kita.

Lewat Tabita kita bisa belajar bahwa kita tidak perlu mengeluhkan apa yang tidak kita punyai, tetapi kita bisa mempergunakan apapun yang ada pada kita untuk memberkati sesama dan memuliakan Tuhan. Tuhan tidak memandang besar kecilnya pemberian kita, tetapi Tuhan melihat hati kita, apa yang mendasari kita untuk melakukannya. Lewat perbuatan-perbuatan baik yang kita lakukan, kita bisa memberikan kesaksian tersendiri tentang kebaikan Tuhan dan bisa membawa banyak orang untuk mengenal pribadi Kristus yang sebenarnya. Ketika Yesus sendiri memberi keteladanan sejak masa kecilnya dimana Alkitab mencatat “Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.” (Lukas 2:52), kita pun bisa berbuat seperti itu dengan menunjukkan kebaikan kita dalam kasih yang ada dalam diri kita. Betapa indahnya janji Tuhan kepada orang-orang yang menyenangkan hatiNya dan berkenan di hadapanNya. “Sebab TUHAN Allah adalah matahari dan perisai; kasih dan kemuliaan Ia berikan; Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela.” (Mazmur 84:11). Adalah keharusan bagi kita untuk menolong orang yang kesusahan tanpa memandang latar belakang mereka. Dan kita bisa mencontoh Tabita yang dengan senang hati memberikan apa yang bisa ia lakukan untuk memberkati sesamanya. Manusia saja menghargai itu, apalagi Tuhan. Dia tidak akan menahan-nahan atau menunda-nunda curahan berkatNya kepada anak-anakNya yang melakukan kehendakNya dan menjadi teladan Kerajaan Allah di muka bumi ini. Periksalah apa yang bisa anda berikan, dan temukan panggilan anda. Lalu buatlah tindakan nyata yang mampu mengalirkan berkat kepada sesama dan memuliakan Tuhan di dalamnya. Seperti halnya Tabita, Tuhan pun akan mencatat kita dengan penuh sukacita di dalam hatiNya.

Bagikan berkat sesuai kemampuan, talenta dan panggilan yang kita miliki

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Published by Wilhelmina Sunarti

Membaca firman Allah setiap hari akan menjaga hati kita dari rasa lelah dalam memikul salib kita. Semoga tulisan para gembala yang ada pada website kami bermanfaat bagi Saudaraku semua. Salam damai dalam kasih Kristus...

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.