Tabita (1)

Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 9:36
========================
“Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita–dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah.”

tabita, dorkas

Seringkali orang berpikir terlalu jauh untuk berbuat baik. Ada banyak orang yang tahu panggilan Tuhan untuk membantu sesama yang membutuhkan, ada banyak orang yang ingin bisa berbuat baik kepada orang lain, merasa kasihan melihat penderitaan orang lain, namun tetap merasa belum mampu untuk berbuat apapun. Sebagai manusia kita kerap merasa kekurangan, sangat susah merasa cukup, sementara kebutuhan-kebutuhan terus saja bertambah seiring banyaknya hal-hal yang ditawarkan dunia yang rasanya harus kita miliki. Apalagi setelah melihat teman, saudara atau tetangga memiliki gadget-gadget jenis baru, kita pun rasanya harus memiliki sebelum dicap ketinggalan jaman. Hal-hal seperti itu terus menghambat kita untuk berbuat sesuatu, dan kita tidak tertarik untuk melakukan sesuatu yang kecil sekalipun karena merasa bahwa itu tidaklah berarti apa-apa. Padahal pandangan Tuhan sama sekali tidak seperti itu. Sekecil apapun yang kita perbuat karena belas kasih dan tanpa pamrih, itu akan dihargai sangat besar oleh Tuhan. Janda miskin yang memberi hanya dua peser seperti sebagaimana tertulis dalam Markus 12:41-44 bisa menunjukkan bagaimana besarnya penghargaan Tuhan terhadap sesuatu yang sangat kecil bahkan mungkin tidak berharga di mata manusia. Tetapi hari ini mari kita lihat satu contoh lain mengenai seorang janda bernama Tabita atau Dorkas.

Kitab Kisah Para Rasul pasal 9 menceritakan sebuah kisah nyata singkat mengenai kehidupan dan mukjizat yang dialami seorang janda yang hidup di kota kecil di tepi laut. Namanya Tabita, atau dalam bahasa Yunani disebut Dorkas. Lihatlah bagaimana namanya diperkenalkan dalam kitab tersebut. “Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita–dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah.” (Kisah Para Rasul 9:36). Yope bukanlah kota besar yang terkenal pada masa itu. Disana hidup seorang janda yang tidak melayani Tuhan dengan berkotbah di mimbar. Dia mungkin tidak sanggup untuk itu, dan mungkin juga itu bukan panggilannya. Tetapi lihatlah bagaimana ia “berkotbah” dan memberi kesaksian lewat perbuatan baiknya. Dalam ayat 40 kita bisa melihat bagaimana caranya memberi sedekah, yaitu dengan membuatkan baju dan pakaian untuk para janda miskin di kota Yope. Di sebuah kota kecil yang tidak terkenal, ada seorang wanita janda bernama Tabita atau Dorkas, yang bersinar lewat perbuatan-perbuatan baik dan sedekahnya. Alkitab mencatat itu dengan jelas, itu artinya Tuhan mengetahui dan berkenan dengan apa yang ia perbuat.

Tabita atau Dorkas bukanlah siapa-siapa. Dia bukan orang yang berada di depan untuk mewartakan Injil dari satu tempat ke tempat yang lain lengkap dengan segala resikonya. Dia bukan orang seperti Paulus, Barnabas dan sebagainya yang terus bergerak untuk berkotbah dalam mewartakan kabar gembira ke berbagai pelosok dunia. Tidak, ia hanyalah seorang janda bersahaja yang hidup di kota kecil yang mungkin hanya tahu menjahit. Tapi jelas Tuhan memandangnya dan menghargai betul bagaimana Tabita mempergunakan talenta yang ia miliki untuk memberkati orang lain. Kecil atau besar, itu relatif. Tabita pun mungkin tidak berpikir sampai sebegitu jauh. Ia hanya menjalankan panggilannya untuk membantu orang lain yang susah yang kebetulan ada disekitarnya. Ia tidak berpikir muluk-muluk, ia hanya melakukan apa yang bisa ia lakukan. Tapi perhatikanlah bahwa Tabita tidak berhenti hanya sebatas pada wacana atau rasa kasihan saja, tetapi bergerak untuk melakukan tindakan nyata dalam menolong orang lain. Alkitab memang tidak mencatat apakah Tabita termasuk orang kaya atau tidak, tapi itu bukanlah hal yang penting. Apa yang penting adalah bagaimana ia terjun langsung secara nyata untuk mengalirkan kasih Tuhan kepada orang lain, memberkati orang lain dengan apa yang ia miliki dan apa yang mampu ia perbuat, dan dengan itu ia sudah memberi kesaksian tersendiri sebagai orang percaya, sebagai murid Kristus. Di sebuah kota kecil, out of nowhere, ada seorang murid Kristus yang berhati mulia, dan Alkitab mencatatnya dengan tinta emas.

Tidaklah kebetulan bahwa kita ditempatkan di sebuah lokasi dimana kita berada saat ini. Tidak semua dari kita tinggal di kota besar, diantara teman-teman mungkin ada yang tinggal di kota kecil, di desa, pedalaman atau mungkin hutan, baik karena pekerjaan, sejak lahir atau sedang melayani di sana. Dari Tabita kita bisa belajar bahwa di kota sekecil apapun, meski tidak terkenal sekalipun dengan segala keterbatasan tempat itu dan keterbatasan kemampuan kita, ingatlah bahwa segala sesuatu yang kita perbuat, biar sesederhana apapun, itu akan tetap berharga sangat tinggi bagi Tuhan ketika kita melakukan itu semua dengan ketulusan tanpa mengharap imbalan dan dengan tujuan untuk memuliakan Tuhan dengan memberkati orang lain. Yesus sendiri mengatakan: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Matius 25:40) Lihatlah bahwa Yesus tidak mengatakan segala hal besar, pertolongan besar, sumbangan besar, bantuan besar, mewah dan mahal, tetapi Yesus mengatakan “segala sesuatu”. Itu termasuk perbuatan-perbuatan kecil yang mungkin dipandang sebelah mata oleh dunia, tetapi jika kita melakukan itu bagi Tuhan, maka itu akan sangat berharga di mataNya. Tabita menyadari panggilannya dan mau terjun langsung untuk menyatakan kasih dengan perbuatan nyata. Dia tidak mengeluh terhadap apa yang tidak ia miliki, ia memilih untuk mempergunakan talenta yang ia punya untuk melakukan itu, dan Tuhan sangatlah berkenan kepadanya. Untuk melayani Tuhan dan melakukan pekerjaanNya kita tidak selalu harus berkotbah, tetapi setiap tindakan nyata kita yang kecil sekalipun bisa sangat berharga dimataNya. Firman Tuhan berkata: “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.” (2 Korintus 9:7). Marilah kita pandang sekitar kita, adakah orang yang ditempatkan Tuhan untuk bertemu dengan kita hari ini? Dimanapun anda berada, apapun yang anda punyai saat ini, besar atau kecil, semua itu bisa dipakai untuk memberi kemuliaan bagi Tuhan.

Berkatilah orang lain dimanapun kita berada

Follow us on twitter:http://twitter.com/dailyrho

5 pencarian oleh pembaca:

  1. renungan harian dipandang sebelah mata
Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.