Syukur atas Rahmat Imamat

tahbisan imamat

Selasa 8 Juli 2014, Hari Biasa Pekan XIV
Hosea 8:4-7.11-13; Mzm 115:3-7ab-10; Matius 9:32-38

“Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.” (Matius 9:36)

HARI ini, kami kenangkan dan syukuri hari tahbisan imamat kami, saya dan sembilan rekan imam lain yang ditahbiskan menjadi imam 8 Juli 1996. Delapan belas tahun silam, kami bersepuluh menerima Sakramen Tahbisan Imam dari Bapak Julius Kardinal Darmaatmadja SJ, Uskup Agung Jakarta. Saat itu, Keuskupan Agung Semarang “seperti domba yang tidak bergembala” karena Uskup Agung Semarang, yakni Julius Kardinal Darmaatmadja SJ sudah dipindah ke Keuskupan Agung Jakarta.

Delapan belas tahun silam, kami, sepuluh orang ditahbiskan menjadi imam di Kapel St. Paulus Seminari Tinggi St. Paulus Yogyakarta. Sepuluh imam baru angkatan tahbisan kami terdiri dari sembilan Imam Diosesan untuk Keuskupan Agung Semarang dan satu Imam MSF. Dari sembilan Imam Diosesan angkatan tahbisan kami, yang masih bertahan dalam pelayanan imamat tujuh orang (Rm. Awan, Rm. Hanto, Rm. Rudi, Rm. Sugi, Rm. Sari, Rm. Wihandono dan saya).

Dua orang rekan imam mengundurkan diri status imamat.

Rahmat imamat sungguh-sungguh melulu rahmat dari Allah bagi kami. Kami dipanggil, dipilih dan ditahbiskan menjadi imam bukan karena kesucian kami, juga bukan karena kehebatan kami, juga bukan karena kepandaian kami. Rahmat panggilan kami terima dan syukuri melulu sebagai rahmat yang dianugerahkan Tuhan kepada kami yang lemah, rapuh, ringkih dan berdosa ini.

Paling tidak, itulah yang saya rasakan dan alami. Itulah sebabnya, tidak ada daya kekuatan lain bagiku selain kuasa rahmat dari Allah sendiri. Seperti yang diserukan oleh St. Paulus yang menjadi motto tahbisanku, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahan(mu)lah kuasa menjadi sempurna (2 Korintus 12:9).

Sekitar seminggu menjelang tahbisan, saya membuat lagu berdasarkan ayat tersebut: Kuasa-Mu Sempurna! Beginilah syair lagu itu yang kunyanyikan dalam Album “Kuasa-Mu Sempurna”:
“Kadang aku bertanya, makna segala peristiwa, walau tak kutemukan jawaban yang pasti bagiku. Namun kupercaya itulah kasih-Nya, yang dilimpahkan Tuhan kepadaku.

Refr.: Syukur bagi-Mu, oh, Tuhanku, atas segala rahmat-Mu. Dalam kelemahan dan kerapuhanku, kuasa-Mu, semakin sempurna.

Kini telah kusadari, rahmat-Nya berlimpah senantiasa. Tangan-Nya selalu menuntunkku, dalam setiap langkah hidupku. Semakin kupercaya, itulah kasih-Nya, yang dilimpahkan Tuhan kepadaku.”

Dalam menghayati dan menghidupi rahmat imamat, saya mengalami betapa Sakramen Ekaristi dan Adorasi Ekaristi, bahkan Adorasi Ekaristi Abadi menjadi daya kekuatan bagiku yang lemah, rapuh, ringkih dan berdosa ini. Kaitan antara Ekaristi Suci, Sakramen Mahakudus, Adorasi Ekaristi bahkan Adorasi Ekaristi Abadi dengan rahmat imamat sangatlah erat. Sakramen Ekaristi dan Adorasi Ekaristi Abadi, bagiku, adalah sumber daya kekuatan istimewa dalam menapaki, menghayati dan menghidupi rahmat imamat, anugerah terindah dari Allah kepadaku manusia yang lemah.

Ekaristi dan Adorasi Ekaristi Abadi adalah daya kekudusan yang ampuh bagiku yang rapuh. Ekaristi dan Adorasi Ekaristi Abadi adalah daya cinta sempurna dari-Nya bagiku yang berdosa. Ekaristi dan Adorasi Ekaristi Abadi merupakan persembahan silih dan pembersih jiwa dan hidupku yang ringkih.

Tuhan Yesus Kristus, syukur bagi-Mu dan terima kasih atas rahmat imamat yang Kau anugerahkan kepadaku, kepada kami. Semoga kami selalu taat dan setia pada rahmat-Mu ini kendati kami lemah, rapuh, ringkih dan berdosa. Semoga kami selalu siap sedia menjadi saluran rahmat dan berkat bagi umat dan masyarakat, bagi sesama dan semesta, kini dan sepanjang masa. Amin.

PF kepada rekan-rekan imam yang tertahbis pada 8 Juli 1995 (angkatan Mgr. Pius Riana Prapdi cs) dan 8 Juli 1996 (angkatan saya). Saling mendoakan dalam kasih Tuhan.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.