Surat Permohonan Maaf Uskup Agung Atlanta Mgr. Wilton Gregory (2)

< ![endif]-->

Berikut merupakan terjemahan bebas tanggapan Uskup Agung Mgr. Wilton D. Gregory dari Keuskupan Atlanta menjawab kontroversi  yang muncul atas projek pembangunan rumah Uskup yang megah.

—————-

 KAMI terganggu dan kecewa melihat pemimpin Gereja tidak memberikan teladan hidup sederhana seperti yang diharapkan Paus Fransiskus. Bagaimana kami bisa menanamkan nilai tersebut pada anak-anak kami ketika mereka melihat pimpinan keuskupan hidup berkelimpahan? Kami berharap Anda berpikir ulang atas keputusan tersebut dan memberikan contoh hidup sebagai imam bagi para kaum muda kita sehingga mereka mau menjawab panggilan Tuhan. Anak-anak laki-laki kami yang berusia 18 dan 14 tahun tidak bisa mencerna pesan yang sedang Anda sampaikan.”

Begitulah salah satu dari banyak pesan yang masuk melalui surat, email, maupun telepon yang saya terima dari umat di Keuskupan kita dan juga di luar itu. Kecaman mereka kepada saya selaku seorang uskup dalam Gereja Katolik dan sebagai contoh bagi keluarga dan anak-anak mereka, tulus dan tepat menyengat saya. Seharusnya saya sudah menduga hal itu akan terjadi.

Mohon dimengerti, saya sebetulnya tidak bermaksud pindah tempat tinggal. Alasan yang melatarbelakangi adalah bahwa Paroki Katedral Sang Kristus Raja sebagai salah satu paroki yang berkembang pesat di Keuskupan Agung Atlanta, mengalami masalah keterbatasan lahan untuk diperluas.

Keterbatasan lahan tersebut bisa disiasati dengan memindahkan pastoran untuk dijadikan perluasan Katedral. Karena rumah Uskup termasuk dekat dengan Katedral dan terdiri dari beberapa apartemen dan ruang umum, sehingga dianggap sesuai kalau dijadikan pastoran yang baru. Maka Pastor Paroki Sang Kristus Raja suatu hari memberanikan diri menanyakan apakah paroki boleh membeli kediaman Uskup tersebut dan menjadikannya sebagai pastoran.

Dengan demikian para pastor bisa berjalan kaki untuk memimpin misa di Katedral. Usulan tersebut saya setujui walaupun saya sadar itu berarti saya perlu mencari tempat tinggal baru.

Tak lama setelah persetujuan tersebut, Keuskupan dan Paroki Katedral menerima hibah luar biasa dari Bapak Joseph Mitchell yang bermurah hati memberikan rumahnya di Jalan Habersham untuk dipergunakan Keuskupan dan Paroki Katedral.

Maka kami jadi memiliki tempat yang tidak begitu jauh untuk memindahkan rumah Uskup.

Pada saat itu ada yang mengusulkan bahwa lebih tepat kalau Paroki Katedral membangun pastoran di situ dan para pastor bisa bepergian ke Katedral dengan mobil mereka. Tetapi dengan pertimbangan bahwa rumah Uskup lebih dekat dengan Katedral, saya khawatir kalau menyetujui usulan tersebut, saya akan dicap egois dan sombong oleh umat dan itu akan merusak hubungan baik saya dengan mereka!

Maka saya setuju menjual kediaman West Wesley kepada Paroki Katedral dan mulai mencari tempat baru dimana saya dan penerus saya akan tinggal. Saat itu saya tidak benar-benar memperhatikan apa yang saya putuskan. Rencana itu awalnya terlihat sangat sederhana. Kami akan membangun seperti yang di rumah lama – aula dan ruang umum, dapur besar untuk katering, serta banyak kamar untuk mengakomodasi acara dan pertemuan.

Apa yang tidak kami pertimbangkan dan yang terlewat oleh saya adalah bahwa dunia dan Gereja telah berubah.

Bahkan sebelum fenomena yang kita kenal sekarang sejak Paus Fransiskus terpilih meneruskan Tahta Petrus, kami para uskup telah diingatkan oleh kelemahan dan kerentanan kami sendiri bahwa kami dipanggil untuk hidup lebih sederhana, lebih menyerupai Yesus Kristus, untuk hidup di dunia bukan menguasai dunia.

atlanta 3

Uskup Agung Atlanta Mgr. Wilton Gregory (Ist)

Sebagai gembala dari Gereja lokal ini, suatu tanggung jawab yang saya jalankan penuh suka cita lebih dari lainnya, tentu saja hal tersebut bukan hanya terdiri dari hal-hal seperti dulunya.

Saya telah mengecewakan Anda; walaupun para penasihat dan saya sendiri mampu menjustifikasi proyek ini secara finansial, logis dan praktikal, tetapi saya secara pribadi saya gagal menghitung biaya proyek tersebut dari sisi integritas saya dan kepercayaan pastoral umat di Georgia.

Saya gagal mempertimbangkan dampak keputusan tersebut pada keluarga-keluarga dalam Keuskupan kita yang bergulat dengan pembayaran kredit rumah, biaya pendidikan dan  biaya-biaya lainnya, tetapi tetap dengan setia menjawab permohonan saya untuk membiayai pelayanan Gereja kita.

Saya gagal melihat kesulitan yang saya akibatkan pada para uskup,para pastor, diakon, dan staf di bawah Keuskupan Agung Atlanta yang harus menjawab pertanyaan dan kritikan dari para umat tentang kabar yang beredar di media ketika mereka sendiri mungkin juga tidak yakin apa yang harus mereka yakini.

Saya gagal melihat bahwa tindakan saya akan menjadi contoh bagi para remaja dari Ibu yang mengirim email kepada saya seperti yang saya tampilkan di awal tulisan saya ini.

Kepada Anda semua, dari lubuk hati yang terdalam, saya minta maaf.

Kita mengajarkan bahwa stewardship adalah memberikan setengah dari yang seseorang miliki, dan setengahnya tentang bagaimana seseorang menggunakan bagian yang dipilihnya. Saya percaya hal tersebut benar. Intensi kita adalah menciptakan kembali tempat tinggal yang saya tinggalkan, walaupun saya tahu bahwa ada situasi dimana ada ordo yang meninggalkan rumah besar mereka, ada yang karena masalah keuangan dan ada yang karena memang pilihan mereka, dan mereka menemukan cara untuk berinteraksi dengan umat dalam pastoral mereka tanpa dipersepsikan hidup dalam kemewahan.

Jadi, kemana kita akan melangkah?

Saya bertekad untuk maju ke depan dan mulai mendengarkan dengan lebih baik daripada sebelumnya. Ketika saya berpikir bahwa itu hanyalah masalah sederhana untuk pindah dari satu rumah ke rumah lainnya, juga segala aspek keuangan dan perspektif logis sudah kami pertimbangkan, ternyata implikasi pastoral terlupakan. Saya khawatir bahwa ketika saya seharusnya berkonsultasi, saya hanya melakukan pelaporan, dan itu merupakan kegagalan saya. Kepada semua yang sebenarnya ingin menasihati saya untuk melakukan hal yang berlawanan dengan keputusan salah tersebut tetapi segan melakukannya dengan  berbagai pertimbangan, saya minta maaf.

atlanta 5

Uskup Agung Atlanta (AS) menjadi berita di media lokal Amerika (Ilustrasi/Fox News)

Terdapat struktur di dalam Keuskupan kita dimana saya bisa mendapatkan kebijakan bersama dari para awam dan hirarki kita. Pada bulan April saya akan bertemu dengan Dewan Pastoral Keuskupan, dan di awal Mei Dewan Pastoral Keuskupan (sebuah kelompok multi budaya umat Katolik dari berbagai lapisan usia, perwakilan dari seluruh paroki, yang bertindak sebagai lembaga penasihat bagi saya) akan melakukan pertemuan. Saya akan meminta Dewan Keuangan Keuskupan untuk menjadwalkan pertemuan luar biasa mereka. Pada setiap pertemuan tersebut, saya akan meminta petunjuk terbaik untuk bertindak.

Jika merupakan kehendak dari kelompok yang terpercaya tersebut agar Keuskupan memulai proses penjualan kediaman Habersham, saya akan mulai mencari tempat lain yang sesuai.

Merupakan kehormatan dan rahmat bagi saya menjadi Uskup Agung kalian selama sembilan tahun ini. Saya berjanji kepada kalian bahwa pelayanan saya kepada kalian lah yang menjadi alasan saya bangun setiap hari – bukan rumah dimana saya tinggal atau kode pos kemana surat akan dikirimkan. Saya tidak akan membahayakan hubungan baik yang membahagiakan yang telah terbangun dengan banyak orang untuk sesuatu yang bagi saya pribadi tidaklah berarti sama sekali.

Dengan rendah hati dan penuh penyesalan, saya mohon kalian berdoa untuk saya, dan tentu, saya akan mendoakan kalian seperti yang selalu dan terus saya lakukan.

Sumber: http://www.georgiabulletin.org/commentary/2014/03/the-archbishop-responds/

Tautan:

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.