Surat Cinta dari Tuhan (1)

Ayat bacaan: Mazmur 8:4-5
===================
“Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?”

Menerima sebuah surat cinta tentu luar biasa rasanya. Hati terasa berbunga-bunga, seperti melayang di angkasa dalam kegembiraan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Jika anda pernah menerima surat cinta, anda tentu setuju dengan saya. Surat itu kemungkinan besar akan disimpan supaya bisa terus dibaca berulang-ulang. Sebuah surat cinta bisa membuat kita merasa berharga dan dicintai, sehingga kita pun punya semangat untuk berbuat yang terbaik dalam hidup kita.

Kemarin saya baru saja membagikan sebuah pengingat bahwa kita orang percaya seharusnya mampu menjadi surat Kristus bagi dunia. Hari ini saya ingin membagikan renungan yang masih berhubungan dengan surat, tetapi kali ini tentang surat cinta yang berasal dari Allah buat kita anak-anakNya. Apakah ada surat seperti itu? Tentu saja ada, meski tidak melalui surat menyurat baik lewat pos biasa maupun surat elektronik. Tapi surat cinta dari Tuhan sesungguhnya ada di ruang pandang kita yang bisa kita baca dan lihat setiap hari.

Mari kita baca apa yang direnungkan Daud dan ia tuangkan ke dalam salah satu bagian dalam kitab Mazmur. “Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” (Mazmur 8:4-5). Daud sepertinya sedang memandang keindahan langit di waktu malam. Apa yang ia lihat sangat indah, jauh lebih indah dibanding manusia yang kerap mengecewakan Tuhan. Tapi Tuhan ternyata mengingat manusia, bahkan mengindahkan atau memelihara, mempedulikannya. Bukan itu saja, Daud melanjutkannya seperti ini. “Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya: kambing domba dan lembu sapi sekalian, juga binatang-binatang di padang; burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut, dan apa yang melintasi arus lautan. Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!” (ay 6-10).

Keindahan alam semesta beserta isinya bagaikan sebuah surat cinta yang menyapa kita setiap hari. Di tengah berbagai kesulitan dalam hidup, kita sering lupa menyadari bahwa alam semesta ini diciptakan Tuhan begitu indahnya. Bintang-bintang berkelip, bulan purnama, langit biru diselimuti awan putih, rerumputan hijau dengan bunga warna warni mekar dimana-mana dan sebagainya. Awan putih di antara langit biru cerah, gemericik air dan angin sepoi-sepoi, semua itu tentu sangat indah untuk kita nikmati.  Tapi semakin jarang saja manusia meluangkan waktu untuk menikmati hasil ciptaan Tuhan yang indah itu. Kita melupakan hal itu dan terus meragukan kepedulian Tuhan, bahkan keberadaanNya. Kita terus mengeluh dan mengira Tuhan berlama-lama untuk melakukan sesuatu, padahal jika kita mau mengambil waktu sebentar untuk melihat sekeliling kita, maka kita akan menyadari bahwa Tuhan sebenarnya telah melakukan begitu banyak hal yang indah bagi kita. Seperti keindahan alam misalnya, bukankah itu juga berkat yang luar biasa dari Tuhan yang seharusnya kita syukuri?

Kembali kepada Daud, pada saat ia menulis Mazmur 104 yang diberi judul “Kebesaran TUHAN dalam segala ciptaan-Nya”, kita bisa kembali melihat bagaimana ia sedang mengagumi keindahan alam yang tersaji di depannya. Rasanya itu yang ia alami pada saat itu karena dalam Mazmur ini ia menggambarkan keindahan alam ciptaan Tuhan dengan sangat puitis. Alam yang indah itu jelas merupakan buah tangan Tuhan, sebuah bukti keiahian Tuhan yang bisa kita saksikan dengan amat sangat nyata.

(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.