Sungkan Meminta Tolong (2)

(Sambungan)

Ada dua hal yang bisa kita pelajari dari kisah Nehemia ini. Pertama, ketika kita masuk ke dalam masa-masa sulit penuh uraian air mata, hal terpenting yang seharusnya kita lakukan adalah mencari Tuhan terlebih dahulu. Nehemia melakukan tepat seperti itu. Ia segera berdoa saat mendengar sesuatu yang menyedihkan hatinya, lalu kembali berdoa saat hendak memutuskan sesuatu. Jadi berdoalah, dan kuduskanlah diri terlebih dahulu dengan mengakui segala dosa-dosa yang masih mengotori diri kita, agar kita bisa mendengar suara Tuhan dengan jelas tanpa terhalang apapun.

Kedua, jangan malu untuk meminta bantuan orang lain yang punya kapasitas lebih dari kita. Kalau memang kita tidak sanggup melakukannya, kalau memang bukan bagian kita, kenapa harus malu meminta tolong dan menyerahkannya kepada orang yang lebih berkompeten untuk mengerjakan? Selama bukan karena malas dan memanfaatkan orang, tidak ada salahnya untuk meminta pertolongan. Itu bukanlah hal yang memalukan atau salah. Seperti yang saya sampaikan kemarin, Tuhan suka dan kerap menjawab doa kita dan menurunkan pertolongan lewat tangan orang lain. Dari kisah Nehemia kita melihat bahwa Tuhan bisa menyalurkan berkatNya bagi pekerjaan Nehemia lewat sosok orang lain, dalam hal ini lewat raja Artahsasta.

Ada kalanya kita melakukan sesuatu sendirian, tapi ada pula saat kita harus mengijinkan Tuhan untuk menyalurkan berkatNya lewat tangan orang lain. Kita tidak perlu malu mengakui bahwa sebagai manusia kita ini terbatas kemampuannya. Ingat bahwa Tuhan sejak awal sudah menetapkan kita untuk tidak hidup sendirian. Kita adalah mahluk sosial yang selalu butuh berinteraksi dan saling dukung, saling bantu untuk bisa meningkat. Hidup dengan gengsi, keangkuhan, kesombongan, atau di sisi lain hidup dengan rasa sungkan dan segan yang berlebihan cepat atau lambat akan membuat kita jalan di tempat, atau malah semakin mundur. Lihatlah apa kata firman Tuhan berikut ini: “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” (Galatia 6:2). Hukum Kristus terpenuhi jika kita saling bertolong-tolongan dalam memikul beban bersama-sama. Bagaimana mungkin orang bisa menolong jika kita sendiri hanya diam saja dan tidak mau mengakui bahwa kita butuh bantuan? Oleh sebab itu kita harus menghindari sikap tinggi hati, sombong atau sebaliknya rasa sungkan yang terlalu berlebihan. Tidak ada salahnya untuk memohon bantuan, tapi sebelumnya berdoalah, tanyakan kepada Tuhan apa yang harus kita lakukan. Mendengar dan mengikuti apa yang diinstruksikan Tuhan merupakan hal yang seharusnya kita lakukan. Kepada jemaat Galatia Paulus mengatakan: “Sebab kalau seorang menyangka, bahwa ia berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri.” (ay 3). Artinya apabila kita merasa mampu segalanya, padahal sebenarnya kita tengah butuh bantuan, itu sama artinya dengan menipu diri sendiri.

Nehemia mengajarkan kita bagaimana pentingnya berdoa di saat kita tengah mengalami permasalahan dan bahwa tidak perlu malu atau sungkan untuk meminta tolong selama itu bukan karena kitanya malas dan lebih suka memanfaatkan orang lain. Tidak peduli seberat apa pergumulan kita hari ini, Tuhan mampu mengubah itu semua menjadi hujan berkat. “Apabila melintasi lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air; bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat.” (Mazmur 84:7). Dan ini berlaku bagi orang yang menggantungkan segenap kekuatan serta hidupnya ke dalam tangan Tuhan. (ay 6). Nehemia tidak sungkan untuk memohon pertolongan dari orang lain ketika Tuhan menghendaki demikian, ia tidak malu mengakui bahwa ia membutuhkan pertolongan, demikian pula kita sebaiknya bersikap agar hukum Kristus dapat terjadi.

Tuhan sanggup mencurahkan berkatNya secara langsung, tapi sering memilih untuk menyalurkannya lewat orang lain

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.