Sumber Daya bagi Iman (1)

Ayat bacaan: Galatia 5:6
===================
“Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih.” (Galatia 5:6)

Dalam renungan terdahulu saya sudah menyampaikan dari mana iman sebenarnya timbul. Iman dikatakan “timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” (Roma 10:17). Iman yang memungkinkan kita hidup tanpa rasa gentar, kuatir, cemas dan sebagainya, iman yang membuat kita tidak mudah kehilangan pengharapan tak peduli sebesar apa badai menerpa, iman mampu melemparkannya jauh-jauh bak melemparkan gunung ke laut. Iman akan membawa kita untuk dibenarkan dan diselamatkan. Bayangkan apa jadinya kita tanpa iman. Dan kabar baiknya, itu bisa kita peroleh dengan mendengar, membaca firman Tuhan. Merenungkannya, memperkatakannya, dan melakukannya. Membuat iman itu tertanam, berakar dan tumbuh subur dalam perjalanan kehidupan kita.

Pertanyaannya sekarang, kalau kita sudah tahu dari mana iman itu timbul, adakah sesuatu yang menjadi ‘sumber daya’ yang bisa menggerakkan iman agar tetap menyala dalam diri kita sehingga kita bisa terus mengaplikasikan iman tersebut secara nyata dalam hidup secara berkesinambungan? How to make our faith stay alive and working?  Is there any such thing? Yes, there is. 

Hari ini mari kita lihat Galatia pasal 5. “Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih.” (Galatia 5:6). Faith is activated and energized, and expressed and working, through love. Kasih ternyata merupakan sumber daya yang mengaktivasi, memberi tenaga, mengekspresikan dan membuat iman menjadi aktif bekerja. Kasih, itulah yang menjadi sumber daya iman.

Saya akan beri sebuah ilustrasi sederhana. Tidak satupun dari kita yang keberatan bahwa kehidupan mayoritas manusia termasuk kita saat ini begitu  tergantung dari listrik. Hampir semua peralatan di rumah kita memerlukan sumber energi listrik agar bisa menyala dan berfungsi. Di dapur, di kamar, di ruang kerja, bahkan di kamar mandi. Coba lihat, begitu listrik padam, maka kita pun langsung bingung karena hampir seluruh kegiatan kita menjadi tidak lagi bisa dilakukan. Semakin besar rumah, semakin banyak peralatan yang menggunakan listrik. Dan yang sering terjadi adalah banyak rumah yang perlu lebih banyak lagi daya supaya listriknya tidak bolak balik ngejepret. Rumah butuh lebih dan lebih banyak lagi colokan listrik, kita selalu mencari cafe atau tempat hangout yang menyediakan colokan supaya kita bisa betah berlama-lama disana. Semua ini menunjukkan bahwa kita sangatlah tergantung pada sumber energi listrik agar bisa beraktivitas.

Seperti itu pula iman kita. Dari ayat di atas kita harus menyadari bahwa ada sesuatu yang terus menggerakkan iman untuk bekerja. Dalam surat Galatia Paulus banyak mengingatkan jemaat tentang apa yang penting atau punya makna menyangkut keselamatan. Ia menyinggung tentang banyaknya orang yang lebih bergantung kepada prosesi, tata cara atau ritual-ritual lengkap dengan perulangannya. Banyak yang kemudian melenceng dari kebenaran dengan menganggap itu lebih penting dalam mendatangkan keselamatan. Paulus pun memperbaiki pemikiran seperti itu.

(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.