Suatu Hari di Dermaga Waingapu, Sumba

TEMAN, tiba-tiba saya ingat waktu tahun 1995 saya menempuh perjalanan panjang selama empat hari empat malam dengan kapal laut Dobon Solo ke Pulau Sumba, sebelah timur Nusa Tenggara. Perjalanan ini dimulai dari Pelabuhan Benoa, Bali dan selanjutnya melewati Bima, Lombok, pulau-pulau kecil lain dan akhirnya berlabuh di Waingapu, Ibukota Sumba Timur.

Sepanjang perjalanan hanya lautan yang saya lihat. Pagi ketemu siang, siang ketemu malam, pemandangannya hanya hamparan luas air berwarna kebiru-biruan di perairan Laut Sawu. Waktu itu saya berangkat bersama sekitar delapan orang teman yang akan bekerja di sana sebagai social worker selama satu tahun.

Jujur waktu itu saya agak keberatan menjalankan tugas ini. Jadi meskipun berada di atas kapal laut besar yang yang dilengkapi dengan macam-macam fasilitas dan disuguhi pemandangan alam yang luar biasa, batin saya tetap bimbang. Saya masih bertanya-tanya, kenapa saya yang ditugaskan ke Sumba oleh pimpinan saya? Kenapa bukan orang lain saja?

Sumba adalah sebuah pulau kecil, jauh dari keramaian dan konon desa yang bernama Kodi, tempat saya akan bekerja, adalah desa yang amat terpencil cil cil…..dengan masyarakat suku asli pedalaman, susah mendapat air, listrik dan bahan makanan. Semua serba asing dan terbatas. Hadooh! Serasa saya ingin melarikan diri seperti Yunus (yang menceburkan diri ke laut lalu dimakan paus dan akhirnya dimuntahkan kembali ke kota di mana ia harus datang).

Selama perjalanan batin saya terus berperang. Lalu saya mulai membanding-bandingkan dengan orang lain. Coba saya seperti teman saya si A, enak sekali tugasnya, cuma belajar di kota (bukan bekerja seperti saya). Atau seperti si B, yang tidak usah belajar atau bekerja tetapi hidupnya tetap bisa enak. Atau seperti si C, lebih enak lagi karena punya perusahaan sendiri dan tidak perlu taat kepada pimpinan seperti saya. Atau teman saya, si D malah lebih beruntung karena tidak pernah bertugas ke tempat terpencil seperti saya, tetapi sering diutus keluar negeri. Atau seperti si E, si F, si G dan seterusnya……..

Sampai saat kapal bersandar di Waingapu, saya masih seperti mimpi berada di daratan Pulau Sumba yang terkenal dengan savananya. Mata saya nanar memandangi kapal besar bermuatan 500 penumpang yang mulai bergerak menuju ke arah timur, ke Papua. Meninggalkan saya di tepian dermaga Waingapu. Wow…….. sedih sekali perasaan saya waktu itu.

Padahal ternyata momen hidup saya selama bekerja di sana amat mengesan dan tak terlupakan. Bahkan pengalaman itu membentuk pribadi saya menjadi lebih tahan banting, lebih sabar, lebih bersyukur, lebih peka dengan penderitaan sesama, lebih terbuka terhadap keunikan alam, budaya dan karakter orang serta mengikis kecenderungan saya yang suka membanding-bandingkan.

Kecenderungan membanding-bandingkan dalam diri manusia adalah sesuatu yang wajar karena manusia adalah mahkluk sosial. Tetapi hal itu menjadi bermasalah apabila sikap itu mempengaruhi seluruh perilakunya. Ia bisa menjelma menjadi manusia super arogan setinggi langit tetapi juga bisa sebaliknya menjadi drop down sampai dasar bumi.

Paulo Coelho, penulis buku-buku spiritual, menulis hal bagus tentang kecenderungan perilaku ini dalam buku Manuscript Found in Accra (2013).

“Kau tidak akan menjadi rendah diri ketika menyadari kau terpaksa harus meminta pertolongan. Dan ketika tahu ada orang yang membutuhkan bantuan, kau tunjukkan pada mereka semua yang telah kaupelajari, tanpa kawatir jangan-jangan kau telah membeberkan rahasia-rahasiamu, atau jangan-jangan kau sedang dimanfaatkan orang lain. Keberhasilan adalah milik mereka yang tidak membuang waktu dengan membandingkan apa yang mereka kerjakan dengan apa yang dikerjakan orang-orang lain. Keberhasilan adalah buah dari benih yang kautanam dengan penuh cinta, bukan diukur dari pengakuan orang lain. Keberhasilan datang ke rumah orang yang berkata “ aku akan memberikan yang terbaik setiap hari”.

Waktu saya sedang membaca buku ini tadi malam, masuk sebuah BBM dari teman saya yang sedang berkunjung ke Sumba. Isinya begini, “ Wah, senang sekali saya di Sumba meskipun capek memberi pelatihan jurnalistik di beberapa tempat, tapi terbayar dengan keindahan pulau Sumba”.

Hmm….. saya tersenyum membayangkan pulau eksotik itu dan membiarkan sebuah rencana terukir lagi di dalam batin, yakni mengunjungi Sumba suatu waktu.

Photo credit: Ilustrasi Dermaga kecil di Dover, Pulau Tasmania, Australia. (Sesawi.Net/Mathias Hariyadi)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.