Suap

Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 8:18
===========================
“Ketika Simon melihat, bahwa pemberian Roh Kudus terjadi oleh karena rasul-rasul itu menumpangkan tangannya, ia menawarkan uang kepada mereka”

suap

Betapa sulitnya membenahi korupsi di negara kita. Sepertinya korupsi sudah menjadi bagian budaya sehingga sangat sulit untuk diberantas. Bayangkan bagaimana manusia bisa tega menggelembungkan jumlah korban bencana untuk kepentingan pribadinya. Badan yang seharusnya menangani masalah koruptor pun ternyata melakukan korupsi. Budaya suap termasuk di dalamnya. Untuk melincinkan segala urusan, pelumasnya adalah uang. Itu terjadi hampir di seluruh sendi kehidupan, mulai dari mendapatkan tempat parkir hingga mendapatkan jabatan, semua sepertinya harus disertai dengan “ucapan terima kasih” dalam bentuk lembaran-lembaran uang agar proses bisa menjadi mulus tanpa hambatan. Suap terang-terangan atau terselubung pun berlaku dimana-mana, dan saat ini menjadi pekerjaan rumah bagi hampir seluruh bangsa di dunia.

Suap hari ini menjadi buah simalakama bagi kita. Untuk bersikap jujur pun sudah susah, karena seringkali kita akan dipersulit jika kita ingin memakai jalur benar. Baru saja kemarin istri saya mengambil kiriman dari kantor pos dan diharuskan membayar sejumlah uang sebagai pajak. Ketika istri saya berada di dalam ruangan, saya didekati seorang pegawainya yang menganjurkan agar lain kali lewat jalur belakang saja. Uang yang dibayar bisa lebih sedikit, namun uang itu masuk ke kantong pribadi dan bukan untuk negara. Di pengadilan ketidakadilan menjadi pemandangan biasa. Itulah potret keadilan hari ini.

Sebenarnya jauh di masa lalu kasus suap menyuap ini pun sudah terjadi. Pengkotbah pada suatu kali mengatakan “Ada lagi yang kulihat di bawah matahari: di tempat pengadilan, di situpun terdapat ketidakadilan, dan di tempat keadilan, di situpun terdapat ketidakadilan.” (Pengkotbah 3:16). Bukankah hal yang sama kita lihat pula sekarang? Keadilan menjadi sesuatu yang semu karena semua itu bisa dibeli. Fakta bisa diputarbalikkan dan yang terang-terang salah pun bisa berubah dianggap benar.

Sebuah bagian dalam Kisah Para Rasul pun mencatat masalah suap ini. (Kisah Para Rasul 8:4-25). Pada suatu kali Petrus dan Yohanes diutus Allah mengunjungi tanah Samaria untuk melayani. Kedua rasul ini pun langsung sibuk bekerja menumpangkan tangan mereka agar segenap rakyat Samaria yang telah bertobat menerima Yesus bisa beroleh Roh Kudus. Ada seorang penyihir terkenal di kota itu bernama Simon yang sebenarnya sudah menyatakan bertobat dan menerima Yesus yang melihat bagaimana kuasa mukjizat Tuhan turun secara luar biasa atas banyak orang. Sebagai orang yang punya latar belakang penyihir, tentu apa yang ia saksikan begitu menakjubkan. Meski ia seorang penyihir besar, namun kelihatannya apa yang dilakukan para rasul lebih hebat dari apa yang bisa ia lakukan, terutama ketika melihat bagaimana Roh Kudus mengalir kepada para orang Samaria yang telah dibaptis sebelumnya. Ia pun ingin memiliki kemampuan seperti itu. Dan ketika keinginannya tak tertahankan lagi, ia pun menawarkan suap. “Ketika Simon melihat, bahwa pemberian Roh Kudus terjadi oleh karena rasul-rasul itu menumpangkan tangannya, ia menawarkan uang kepada mereka” (Kisah Para Rasul 8:18). Katanya: “Berikanlah juga kepadaku kuasa itu, supaya jika aku menumpangkan tanganku di atas seseorang, ia boleh menerima Roh Kudus.” (ay 19). Ini sebuah kasus penyuapan. Seperti pola pikir yang ada pada masyarakat saat ini, demikian pula Simon mengira bahwa uang bisa membeli segalanya, termasuk karunia Allah sekalipun! Itu jelas tidak mungkin. Kedua rasul menolak dengan tegas. Petrus pun segera menegurnya dengan keras. “Tetapi Petrus berkata kepadanya: “Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka, bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang. (ay 20).

Simon memang termasuk beruntung karena ia segera menyesali perbuatannya. Tapi ada begitu banyak orang hari ini yang masih saja berkompromi dengan suap menyuap, bahkan menganggap itu sebagai gaya hidup yang memang sudah menjadi sesuatu yang wajar. Berdosa menjadi urusan nanti saja, yang penting sekarang licinkan dulu urusannya. Padahal masalah suap ini merupakan sebuah penghinaan bagi Tuhan, “Siapa berjalan dengan jujur, takut akan TUHAN, tetapi orang yang sesat jalannya, menghina Dia.” (Amsal 14:2), juga kekejian bagiNya. “karena orang yang sesat adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi dengan orang jujur Ia bergaul erat.” (3:32). Berlaku curang dengan cara menyuap untuk kepentingan duniawi saja sudah salah, apalagi jika berpikir bahwa karunia Tuhan bisa dibeli. Karunia Tuhan tidak bisa dibeli. Keselamatan tidak bisa dibeli, Tuhan tidak bisa disuap dengan cara apapun.  Semua ini bisa mengarahkan kita kepada kebinasaan, baik yang menyuap maupun disuap.

Dalam serangkaian peraturan tentang hak-hak manusia yang tercatat dalam Keluaran, kita membaca salah satunya berbicara mengenai kasus suap ini. “Suap janganlah kauterima, sebab suap membuat buta mata orang-orang yang melihat dan memutarbalikkan perkara orang-orang yang benar.” (Keluaran 23:8). Suap bisa memutarbalikkan kebenaran dan melukai rasa keadilan. Dan itu semua tidak akan pernah berkenan di hadapan Tuhan. Kita mungkin bisa merasa lebih mudah saat ini, urusan bisa jauh lebih cepat, namun sebenarnya kita tengah menolak segala berkat yang telah Tuhan sediakan, termasuk anugerah keselamatan kekal yang begitu besar itu. Mungkin kita terpojok karena rekan-rekan di pekerjaan menerima suap, meski demikian itu bukanlah alasan untuk ikut sesat seperti mereka. Titus mengingatkan demikian: “Hamba-hamba hendaklah taat kepada tuannya dalam segala hal dan berkenan kepada mereka, jangan membantah, jangan curang, tetapi hendaklah selalu tulus dan setia, supaya dengan demikian mereka dalam segala hal memuliakan ajaran Allah, Juruselamat kita.” (Titus 2:9-10). Dengan melakukan suap artinya kita tidak memuliakan Allah, melainkan menghina Dia. Tentu tidak ada satupun kita yang ingin menghina Tuhan bukan? Oleh sebab itu, hindarilah praktek-praktek suap menyuap, baik di posisi penyuap ataupun yang disuap. Berbuatlah jujur dan bersih karena itulah yang berkenan di hadapan Tuhan.

Melakukan suap berarti tidak memuliakan bahkan menghina Tuhan

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.