“Steel Magnolias”, Hiburan Mencerahkan di Akhir Masa Prapaska

< ![endif]-->

steel-magnolias-screenshot

FILM Steel Magnolias  tergolong produk  jadul – diproduksi tahun 1989, tetapi baru sempat saya tonton seperempat abad kemudian di salah satu channel TV kabel.

Terus terang yang pertama menarik perhatian saya untuk bertahan melihat film tersebut adalah nama-nama besar artis-artis top zaman dulu yang sebagian masih berkibar namanya sampai sekarang seperti Sally Field, Shirley MacLaine, Olympia Dukakis, Dolly Parton, Darryl Hannah, dan Julia Roberts.

Ini film pertama dimana Julia Roberts mendapat nominasi Oscar dan menyabet Golden Globe pertamanya.

Asal judul yang bukan asal

Judul film tersebut bisa keliru diduga berhubungan dengan senjata alias jenis film aksi. Tetapi melihat deretan nama artisnya kelihatannya kok bukan itu. Asal judul itu rupanya mengacu pada idiom wanita yang menyenangkan seperti bunga magnolia dan kuat seperti baja.

Magnolia merupakan jenis bunga yang dikenal sebagai pembuka musim dingin di negara barat. Terdapat sekitar 80 jenis magnolia dengan bervariasi bentuk dan warna.

Pohonnya bisa mencapai tinggi 25 meter. Sangat mengesankan dengan bunganya yang terhitung jumbo dan daun hijaunya yang juga berukuran besar.

Maka magnolia menjadi simbol kemegahan, ketekunan, dan martabat. Kota Mississipi di Amerika Serikat menyandang julukan Kota Magnolia dengan bangga bahkan magnolia secara resmi menjadi simbol kota tersebut.

Obat kepedihan

Asal usul naskah ini menarik. Ini merupakan upaya Robert Harling mengatasi kesedihan atas  kematian adik perempuannya akibat diabetes. Tulisan yang awalnya hanya cerita pendek itu berkembang menjadi naskah drama yang dipentaskan pertama kali pada 1987 di Off-Broadway, dan akhirnya meluas sampai ke West End (Inggris), negara-negara Eropa lain, bahkan sampai ke Jepang.

Naskah inilah yang kemudian diangkat menjadi film layar lebar dengan judul sama: Steel Magnolias.

Plot film yang dikategorikan sebagai drama komedi ini sangat membumi, cerita simpel , dialog sehari-hari yang diselingi canda. Tidak adegan berlebihan, semua terasa mengalir seperti kehidupan riil.

Ceritanya sederhana: kisah persahabatan enam wanita di satu kota kecil, mereka berasal dari paroki yang sama di Natchitoches, Louisiana. Kota kecil yang damai, populasi rendah, dimana orang-orang saling mengenal. Setting terbanyak adalah di salon kecantikan dimana mereka melakukan perawatan rambut dan kecantikan di salon yang dimiliki salah satu dari mereka tersebut.

Diceritakan Shelby, wanita muda pengidap diabetes tipe 1 yang hidup bahagia menikah dengan kekasihnya. Tetapi musibah hadir ketika dia bersikeras memiliki anak yang sebenarnya sudah diperingati oleh dokternya agar jangan sekali-kali hamil karena risikonya besar terhadap kesehatannya.

Benarlah, setelah dia melahirkan, ginjalnya rusak. Tetapi Lynn –sang ibu– mendonasikan satu ginjal untuk putrinya, anak sulung dari tiga bersaudara ini. Operasi cangkok ginjal yang berhasil ternyata tidak bertahan lama, hidup Shelby terhenti muda. Kesedihan dan penderitaan yang melanda Lynn, suami dan kedua anak laki-laki yang ditinggalkan Shelby tergambar tetapi tidak vulgar.

Hal yang menarik adalah bagaimana para sahabat menopang satu sama lain, walau kadang olok-olokan menjadi cara untuk menenangkan situasi seperti ketika Lynn merasa dunia begitu tidak adil, mengambil Shelby yang dipenuhi semangat hidup dan meninggalkan suami dan anak balitanya.

Berbela rasa secara kaya menghiasi sudut-sudut film ini. Bersyukur atas apa yang ada juga tersirat dengan apik dalam film ini.  Ketegaran untuk melanjutkan hidup dan membagi berkah, semua bisa didapat dari film jadul yang rupanya jauh dari jadul – malah membawa pencerahan dalam hari-hari akhir masa prapaska ini.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.