Stanislaw Kardinal Rylko Berbincang dengan Orang Muda Katolik (OMK) Indonesia (2)

APA yang menjadi visi dari Paus Fransiskus bagi kaum muda Katolik di zaman ini di mana arus bebas informasi dan gaya hidup yang ditawarkannya mungkin tidak sejalan dengan iman katolik yang tradisional?

Paus Fransiskus mempunyai kemampuan luar biasa untuk berdialog dengan kaum muda. Saya yakin anda telah menyaksikan hal ini di televisi atau internet pada pelbagai kesempatan, tetapi secara khusus selama Hari Kaum Muda Sedunia di Rio de Janeiro.

Pertama-tama, beliau  mendorong kaum muda untuk mencari hal-hal yang besar dan layak dalam kehidupan dan menghindari mediokritas (menjadi rata-rata, bukan yang terbaik dan bukan yang terburukeditor).

Allah menciptakan kita untuk hal-hal yang besar!

Oleh karena itu, kita seyogianya tidak takut untuk mengejar kekudusan. Hal ini menjelaskan mengapa paus Fransiskus mendorong kaum muda untuk melawan arus and menghindarkan diri untuk tidak jatuh ke dalam pencobaan mengejar kehidupan yang gampang, dangkal dan tidak peduli, suatu gaya hidup yang dipaksakan oleh budaya masa kini kepada kita.

Kita telah mendengarkan Paus Fransiskus berkata banyak kali, “Jangan membiarkan orang lain merenggut harapanmu!” Seorang kristiani – khususnya seorang muda kristiani – harus menjadi saksi tentang pengharapan di dunia. Inilah juga tugas anda di sini di Indonesia. Namun, sebagaimana anda tahu, harapan kita adalah seorang pribadi yang hidup dengan suatu nama, dan nama itu adalah Yesus Kristus.

Kalau kami tidak keliru, Yang Mulia diangkap menjadi Uskup, lalu Ketua Dewan Kepausan untuk Kaum Awam, oleh Beato Yohanes Paulus II, yang akan dikanonisasi pada 27 April 2014. Apakah kesan Yang Mulia tentang Beato Yohanes Paulus II dan apakah warisannya yang Yang Mulia dapat bagikan kepada kami sebagai orang-orang muda?

Beato Paus Yohannes Paulus II adalah seorang Paus Agung dan pewarta Kabar Gembira yang agung. Banyak orang menyebut dia “Peziarah Injil”, sebab ia bepergian melintasi dunia banyak kali selama 27 tahun sebagai Paus. Jutaan orang, di semua benua, dapat mendengarkan dia menyapa mereka dalam bahasa mereka. 

Paus dan World Youth Day

Pesannya sangat sederhana: “Jangan takut akan Kristus”, “Bukalah lebar-lebar pintu bagi Kristus!”

Paus Yohanes Paulus II mempunyai relasi khusus dengan kaum muda, dan kaum muda dari semua benua sangat mencintainya. Ingatlah akan kata-kata yang ditujukannya kepada kaum muda seperti anda sekalian: “Kamu adalah harapan Gereja dan kamu adalah harapanku.”

Pada kesempatan lain beliau  berkata: “Saya adalah sahabat orang-orang muda, tetapi seorang sahabat yang sangat menuntut…”

Sesungguhnya, Paus Yohanes Paulus II menetapkan bagi kaum muda sasaran-sasaran yang sangat tinggi dan menuntut.

Ia berkata kepada mereka: “Jangan takut untuk menjadi suci!” Yohanes Paulus II-lah yang menemukan Hari Kaum Muda sedunia bagi Gereja, dan ini telah menjadi suatu alat yang sangat efektif untuk evangelisasi kaum muda dan dunia mereka.

Paus ini meninggalkan suatu kesan mendalam di hati banyak orang, dan ia juga meninggalkan kepada kita suatu warisan rohani raksasa. Saya sangat gembira bahwa di sini di Indonesia ada cabang-cabang dari Kerabat-Kerabat Yayasan Yohanes Paulus II, yang bertujuan untuk melestarikan dan mengembangkan warisan ini.

Paus di Amerika Latin

Seorang wartawan Italia menulis sebuah buku tentang Yohanes Paulus II dan memberinya suatu judul yang sangat berarti yakni “Paus yang tidak mati”.

Dan benarlah: Yohanes Paulus II terus hidup di hati banyak orang muda dan orang dewasa. Setiap hari, banyak orang mampir untuk berdoa di altar di mana terdapat relikwinya di Basilika Santo  Petrus. Dan banyak orang menanti dengan penuh sukacita hari kanonisasinya pada bulan April tahun 2014 mendatang. Apakah api penyucian ada?

Untuk menjawab pertanyaan ini baiklah kita membaca Katekismus Gereja Katolik nomor 1030: “Semua orang yang meninggal dalam rahmat dan persahabatan Allah, tetapi pemurniannya masih belum sempurna, sesungguhnya dijamin keselamatan kekal mereka; tetapi setelah kematian mereka melewati pemurnian agar mencapai kesucian yang perlu untuk masuk ke dalam kebahagiaan surga.”

Inilah ajaran Gereja yang mendasari tradisinya yang panjang untuk berdoa bagi saudara-saudari kita terkasih yang telah meninggal dunia. Patutlah diingat bahwa dalam Gereja Katolik, bulan November dibaktikan untuk doa ini. Itu merupakan tanda syukur kita kepada mereka yang Allah telah panggil dari kehidupan ini. Itu juga merupakan tanda persekutuan mendalam yang mempersatukan kita dengan mereka yang telah berada dalam kehidupan yang berikut. Gereja dengan teguh percaya akan persekutuan para Kudus. Mengapa semakin banyak negara berkembang nampaknya kehilangan tingkat keberagamaan mereka? Apakah ada kaitan antara kekurangan iman dan tingkat pendidikan yang lebih tinggi? 

Masalah paling serius di negara-negara barat dewasa ini (khususnya negara-negara Eropa) bukanlah krisis ekonomi dan finansial, tetapi krisis iman, suatu krisis iman yang mendalam.

Menjadi semakin jelas bahwa orang-orang di Barat begitu bangga akan kemajuan-kemajuan ilmiah dan teknologi sehingga mereka berpikir bahwa Allah tidak diperlukan. Oleh karena itu, mereka mengesampingkan Allah dari kehidupan mereka. Namun, sebagaimana Konsili Vatikan II mengingatkan kita: “makhluk ciptaan, tanpa Penciptanya (dengan kata lain, tanpa Allah), hilang.”

Paus tiga nama

Maka, krisis iman akan Allah dewasa ini di dunia Barat telah menghantar ke krisis mendalam di bidang identitas manusia dan kesadaran serta hormat akan martabat manusia dan hak-hak dasarnya.

Banyak orang di dunia barat tidak tahu lagi siapa mereka sesungguhnya dan apa arti hidup mereka atau mengapa mereka hidup….. Satu-satunya jawaban atas krisis mendalam dalam identitas manusia adalah kembali kepada Allah dan menemukan kembali bahwa iman adalah cahaya sejati yang menyinari perjalanan hidup.

Tidak ada pertentangan antara akal budi dan iman.

Beato Paus Yohanes Paulus II mengingatkan kita dalam ensiklik “Fides et Ratio” bahwa iman dan akal budi adalah bagaikan dua sayap yang membantu kita untuk terbang menuju pengetahuan penuh akan kebenaran. Akal budi itu sendiri tidaklah cukup. Namun, kita harus ingat bahwa iman mempunyai dasar rasional yang kokoh: masuk akallah untuk percaya! Iman memperluas wawasan pengetahuan kita.

Paus JP di kerumunan bw

Akhirnya, kita harus ingat bahwa banyak orang kristen yang dibaptis dewasa ini jatuh dalam risiko tidak peduli dengan iman mereka sendiri. Ada kemungkinan seseorang memiliki pendidikan universitas yang baik dan hanya memiliki pengetahuan awal tentang iman karena hanya berhenti pada tingkat katekese yang diterima sebagai anak kecil. Hal ini dapat mempunyai konsekuensi-konsekuensi serius, karena “iman kekanak-kanakan” adalah sesuatu yang dilihat oleh orang-orang dewasa sebagai sesuatu yang tidak perlu disimpan, dan oleh karena itu dapat ditolak.

Dari sebab itu, Paus Benedictus XVI mengatakan hal ini kepada orang-orang muda: “Pelajarilah katekismud dengan semangat membara dan ketekunan! Berikanlah waktumu untuk hal ini! Pelajarilah itu di keheningan tempat tidurmu; bacakanlah itu kepada seorang teman, bergabunglah dengan kelompok-kelompok dan jaringan-jaringan untuk mempelajarinya; bertukar gagasan-gagasan melalui internet….. Anda harus tahu apa yang anda percaya; anda harus tahu imanmu…. Ya tentu saja, anda harus berakar lebih mendalam dalam iman daripada generasi orang tua anda, demi menghadapi dengan kekuatan dan keteguhan tantangan-tantangan dan pencobaan-pencobaan masa kita” (YouCat, Kata Pengantar oleh Benediktus XVI).  (Bersambung)

Photo credit:

  • OMK Gathering 2013: The Joy of Indonesian Catholic Youth (Verby Holmes/Panitia OMK Gathering 2013)
  • Paus Yohannes Paulus II, Paus Benedictus XVI, Paus Fransiskus (Ilustrasi/Ist)

Tautan:

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.