Sr. Caterina Capitani Sembuh, berkat Doa dan Perantaraan Paus Yohanes XXIII (3)

MINGGU, tanggal 27 April 2014 Paus Fransiskus akan memimpin Upacara Kanonisasi Paus Yohanes Paulus II dan Paus Yohannes XXIII. Jalan menuju kanonisasi dari kedua Paus ini menunjukkan kesamaan.

Paus Yohannes Paulus II –dulu dikenal sebagai Kardinal Karol Wojtyla— meninggal karena usia sepuh dan sebelumnya mengalami penyakit tremor. Begitu pula Paus Yohannes XXIII – sebelumnya dikenal sebagai Kardinal Angelo Guiseppe Roncalli—meninggal karena sakit tumor pada tanggal 3 Juni 1963 pada usia 82 tahun.

Beberapa lama kemudian, muncullah semacam hasrat umum di kalangan umat beriman agar kepada dua tokoh Pembaharu Gereja Katolik ini diberikan ‘gelar’ kekudusan menjadi santo. Bahkan, hanya beberapa hari setelah Paus Yohannes Paulus II meninggal, ribuan orang sudah berteriak kencang: Santo Subito (Jadikanlah orang kudus).

Paus Yohannes XXIII Ilustrasi by Papa Giovanni Com PIME

The Smiling Pope: Inilah sosok Paus Yohannes XXIII, bertubuh tambun namun dengan senyum yang menawan hati dan berhasil mengubah ‘isi dan wajah’ Gereja Katolik melalui Konsili Vatikan II. (Courtesy of Papa Giovanni website)

Mukjizat melalui Paus Yohannes XXIII

Tapi tidak banyak orang mengetahui peristiwa-peristiwa mukjizat apa yang pernah ‘menimpa’ orang berkat doa-doa melalui perantaraan Paus Yohanes XXIII. Salah satu orang yang mengalami peristiwa ‘rahmat’ melalui Paus ini adalah Sr. Caterina Capitani, biarawati anggota Serikat Suster Puteri Kasih.

Waktu itu, suster biarawati ini masih berumur 23 tahun, ketika ia mengalami pendarahan perut dan segera dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk kemudian menjalani beberapa operasi. Saat dinyatakan tidak ada lagi yang bisa diharapkan untuk bisa meneruskan hidupnya, maka Suster Caterina yang masih muda itu minta izin agar boleh dipindahkan ke Potenza, kota kelahirannya.

Paus Yohanes XXIII dan Presiden Soekarno Bung Karno by Soekarnoyears

Presiden pertama RI Ir. Soekarno “Bung Karno” menyempatkan diri “sowan” mengunjungi Vatikan dan bertemu muka dengan mendiang Paus Yohannes XXIII di Vatikan, 14 Mei 1959 dan Paus menganugerakan medali kehormatan kepada pendiri republik ini. (Ist)

Namun, ia tetap mengalami kondisi kesehatan makin memburuk. Sekali waktu, karena kesehatannya makin rapuh, maka suster biarawati ini kembali dilarikan ke rumah sakit di Napoli yang dulu bernama “Rumah Sakit Marina”.

Dan “setelah karya medis dilakukan oleh para dokter, maka terjadilah karya ilahi”, demikian penuturan Sr. Adele, salah seorang saksi dari mukjizat.

Di atas tubuh Sr. Caterina Capitani di letakkan relikui Paus Yohanes XXIII di dekat luka yang menyebabkan penderitaan Suster Caterina. Lalu, Paus Yohanes XXIII itu sendiri yang menampakkan diri kepada Sr. Capitani berdiri di samping tempat tidurnya.

Suster Caterina Capitani dengan patung Paus Yohannes XXII

Suster Caterina Capitani adalah salah satu saksi yang pernah menerima ‘rahmat’ penyembuhan berkat doa-doa dan perantaraan Paus Yohannes XXIII. Dia sembuh dari sakitnya pada tahun 1966. (Courtesy of Papa Giovanni website)

Paus mengajak suster muda yang mulai rapuh kesehatannya ini untuk bangun, sembari berucap: “Engkau telah sering berdoa kepadaku, begitu pula dengan suster-suster lainnya secara khusus.

Sekarang, jangan takut, semua sudah berakhir. Engkau sekarang sehat, engkau tidak lagi sakit apa pun”.

Setelah peristiwa itu terjadi, pada tanggal 25 Mei 1966, Suster Caterina yang waktu itu sudah dalam keadaan koma, terbangun dan sembuh. Pada bulan April 1999, Kongregasi Kepausan yang Bertugas untuk Menyelidiki Kasus-kasus Penyebab Kekudusan akhirnya sampai pada kesimpulan mereka, kesembuhan Sr. Caterina Captani terjadi karena hal-hal yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah.

Sr. Caterina Capitani memberikan kesaksiannya kepada surat kabar kota Bergamo dengan berkata: “Tentu aku selalu merasakan Paus Yohanes XXIII dekat denganku. Ia selalu menjadi pembimbingku. Mukjizat yang terjadi bukan hanya ditandai dengan kesembuhan diriku, tetapi terutama dalam berkelanjutan. Ia membantu aku setiap hari, aku tidak mungkin secara kemanusiaan menjalani hidupku yang sekarang dan memiliki aktivitas yang besar, dengan hidupku yang super normal, meskipun aku telah menjalani banyak operasi dan pengangkatan organ-organ tubuh yang terpenting”.

Suster biarawati anggota Serikat Suster Puteri Kasih itu meninggal dunia beberapa tahun yang lalu pada usia 68 tahun.

Suster Caterina Capitani waktu muda

Suster Caterina Capitani saat masih muda. (Courtesy of Papa Giovanni website)

Press Conference On The Canonization Of Pope John Paul II and John XXIII

Suster Caterina Capitani dalam sebuah konferensi pers bersama pejabat Vatikan untuk ‘menjelaskan’ dan ‘menerangkan’ proses kesembuhannya berkat doa-doa dan perantaraan Paus Yohannes XXIII. (Courtesy of GettyImage UK)

Sumber dan photo credit: www.papagiovanni.com

Tautan:

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.