Sportivitas

Ayat bacaan: 2 Timotius 2:5
=====================
“Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga.”

paolo di canio, sportivitas, menjunjung tinggi peraturan

Bagi penggemar sepak bola, tentu nama Paolo di Canio tentu tidaklah asing meski ia sudah mengundurkan diri dari lapangan rumput tiga tahun yang lalu. Paolo dikenal memiliki tempramen meledak-ledak sehingga label “bad boy” pun sempat disematkan kepadanya. Tetapi uniknya, Paolo juga dikenang sebagai sosok dengan gelar “A Gentlemen Conduct of Sportmanship” dan membawanya memperoleh FIFA Fair Play Award di tahun 2001. Apa yang membawanya untuk memperoleh penghargaan itu? Kejadiannya di tahun 2000 ketika Paolo masih bermain untuk West Ham. Dalam sebuah pertandingan melawan Everton menjelang menit-menit akhir, Paolo mendapat sebuah umpan matang yang seharusnya tidak sulit untuk dia lesakkan ke gawang. Pada saat itu kiper Everton Paul Gerrard tengah tergeletak, sehingga gawang Everton kosong melompong tanpa penjaga. Situasi itu seharusnya sangat menguntungkan bagi Di Canio dan West Ham, karena hanya dengan sekali tendang saja ia bisa mencetak gol dengan mudah. Tetapi apa yang dilakukan Di Canio? Mencengangkan. Ia ternyata memilih untuk menangkap bola dan meminta agar pertandingan dihentikan dahulu untuk menolong kiper Everton yang cedera. Dengan keputusannya itu West Ham harus puas dengan hasil imbang 1-1. Kemenangan yang sudah didepan mata bisa diperoleh jika Paolo memanfaatkan situasi tersebut, tetapi lebih daripada menginginkan kemenangan, Paolo memilih untuk melakukan hal yang lebih penting yaitu bersikap sportif sesuai peraturan bermain bola dan tentu saja rasa keadilan. Apa yang ia lakukan tetap dikenang orang hingga hari ini. Sebuah iklan fair play yang begitu sering diputar pada saat Piala Dunia 2010 lalu pun kemudian menggambarkan peristiwa sportivitas Di Canio tersebut secara sangat mirip.

Apa yang dilakukan Di Canio tersebut adalah sesuatu yang sangat langka. Pemain-pemain bola akan cenderung memanfaatkan situasi seperti apapun untuk bisa memenangkan pertandingan. Mereka akan berpura-pura jatuh ketika gawang terancam, mereka melebih-lebihkan pelanggaran yang dilakukan lawan agar mendapat keuntungan apabila lawannya mendapat kartu, dan tentu saja tidak akan melewatkan kesempatan jika ada situasi yang sangat menguntungkan seperti dalam peristiwa di atas. Tidak saja di lapangan sepak bola, tetapi di dunia secara umum pun demikian. Menghalalkan segala cara untuk bisa menang atau meraup keuntungan, memanfaatkan kesempatan untuk menang meski dengan cara yang tidak adil atau tidak sportif bukan saja menjadi kebiasaan di dunia olah raga saat ini tetapi itu juga menjadi cerminan apa yang dianggap wajar bagi banyak orang. Kita terbiasa sikut-sikutan untuk sukses dan tidak merasa bersalah jika harus mengorbankan orang lain demi mencapai tujuan kita. Banyak orang percaya bahwa apapun boleh dilakukan yang penting menang. Tetapi Alkitab berbicara lain. Sebuah kemenangan bukan saja tergantung dari hasil akhir, tetapi proses dalam mencapainya juga merupakan hal yang justru jauh lebih penting untuk kita perhatikan.

Dalam suratnya kepada Timotius, Paulus mengingatkan agar kita menjunjung tinggi sportivitas, kejujuran dan keadilan sesuai dengan peraturan dalam berlomba. “Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga.” (2 Timotius 2:5). Anda mungkin bukan seorang olahragawan profesional, tetapi pesan ini sangatlah penting untuk kita ingat dalam meniti hidup kita, karena sebuah kehidupan seyogyanya merupakan sebuah perlombaan. Ada garis finish yang akan dicapai oleh semua orang pada suatu ketika, dan menang atau tidak bukan saja tergantung dari bagaimana kita bisa menjaga diri kita untuk tampil baik hingga finish, tetapi juga bagaimana proses yang kita lakukan selama berlomba sampai ke garis akhir. Secara tegas Paulus mengatakan bahwa sebuah mahkota juara hanyalah bisa diperoleh apabila kita bertanding sesuai dengan peraturan-peraturan. Dengan kata lain, kita hanya bisa dikatakan menang jika kita mengikuti aturan. Peraturan-peraturan dibuat ternyata bukan saja untuk membuat segala sesuatu berjalan tertib dan teratur, tetapi juga untuk membuat kita bisa menang.

Hidup adalah sebuah perlombaan. Apa yang akan kita peroleh kelak akan sangat tergantung dari bagaimana cara kita dalam menyikapi perlombaan. Apakah kita sudah cukup serius dalam melakukannya atau kita masih terus menyia-nyiakan kesempatan atau bahkan melakukan kecurangan serta pelanggaran akan peraturan-peraturan Tuhan yang telah Dia tetapkan sebelumnya. Penulis Ibrani mengatakan “Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.” (Ibrani 12:1) Adalah penting bagi kita untuk menanggalkan segala sesuatu yang bisa memberatkan langkah kita untuk mencapai garis akhir dengan kemenangan, dan selanjutnya hendaklah kita bertekun dalam menjalaninya. Sebuah kunci pun kemudian diberikan pada ayat berikutnya, yaitu “..dengan mata yang tertuju kepada Yesus..” (ay 2). Mengarahkan pandangan kepada Yesus, bukan kepada hal-hal lain yang merintangi kita seperti kesusahan, himpitan beban hidup dan sebagainya yang lambat laun akan membuat kita bisa bersikap menghalalkan segala sesuatu meski dengan cara yang tidak baik tanpa rasa bersalah sama sekali. Semua orang ingin menang, namun perhatikanlah setiap langkah yang kita peroleh untuk bisa mencapainya.

Paulus mencapai garis akhirnya dengan gilang gemilang. Ia bisa berkata dengan kepala yang tegak: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.  Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.” (2 Timotius 4:7-8). Mampukah kita berkata sama? Ketaatan terhadap peraturan Tuhan merupakan hal yang tidak bisa kita abaikan. Yesus menang bukan lewat membumihanguskan orang-orang yang jahat, tetapi justru karena ketaatanNya terhadap kehendak Bapa. Ini bisa menjadi gambaran yang jelas bagi kita untuk memperhatikan betul bagaimana cara kita untuk mencapai keberhasilan demi keberhasilan dalam perlombaan hidup kita hingga mencapai garis akhir.

Saya yakin hingga hari ini Paolo merasa sangat bangga mengambil keputusan bersikap sportif 11 tahun yang lalu, yang membuatnya dikenang banyak orang dengan indah dan tercatat dengan tinta emas dalam sejarah penerima Fair Play award. Marilah kita melakukan hal yang sama. Meski itu mungkin terlihat merugikan pada saat ini, namun suatu ketika nanti anda akan tersenyum bangga telah mengambil sebuah keputusan yang tepat. Sebuah sportivitas merupakan sikap yang menjunjung tinggi aturan dan taat kepada aturan, yang justru lebih bernilai ketimbang sebuah kemenangan itu sendiri. Ketika dunia berpikir bahwa adalah wajar untuk melakukan apapun asal bisa menang, orang-orang percaya seharusnya memperhatikan proses yang dilakukan untuk mencapainya. Sebab tanpa itu semua, kita tidak akan pernah bisa memperoleh mahkota kehidupan sebagai seorang juara di mata Tuhan.

Ketaatan akan membawa kita menjadi juara sejati

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: