Sommelier

Ayat bacaan: Efesus 5:10
==================
“dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan.”

Pernahkah anda mendengar sebuah profesi bernama “sommelier”? Sommelier, atau dikenal juga sebagai wine steward, merupakan ahli dalam citarasa anggur (wine), terlatih dan profesional, biasanya bekerja pada restoran-restoran mewah. Mereka mengenal berbagai aspek dalam penghidangan anggur, termasuk kombinasi antara anggur dan makanan yang dihidangkan, mana yang paling pas untuk menyempurnakan rasa agar bisa mendatangkan sensasi tersendiri bagi tamu yang menyantapnya. Sommelier merupakan pengembangan dari sebuah profesi yang sudah sangat lama, setidaknya sudah ada sejak abad ke 14 yang disebut wine taster. Secara tradisional para wine taster ini punya keahlian yang tumbuh dari proses latihan dan pengalaman selama puluhan tahun. Mereka bisa menilai kualitas anggur dari 4 hal, yaitu penampilan, aroma, sensasi rasa ketika berada di dalam mulut dan aftertaste setelah ditelan. Meski pada jaman sekarang sudah memungkinkan untuk melakukan pengujian menggunakan teknologi muktahir, para wine taster tradisional tetap punya kelas tersendiri. Citarasa mereka seringkali lebih tinggi nilainya dibandingkan menggunakan mesin-mesin penguji.

Suatu kali saya bertemu dengan seorang sommelier yang sudah menjalani profesi selama puluhan tahun. Ia berkata, meski ia menguasai teori-teori lewat pelatihan dan pendidikan, kepekaan sesungguhnya ternyata terbentuk dari pengalaman dan latihan terus menerus. Tidak ada satupun orang yang bisa langsung menjadi ahli secara instan, tidak ada yang bisa langsung peka tanpa latihan dan pengalaman. Seperti itulah katanya. Itu mengingatkan saya pada sebuah kepekaan lain, yaitu kepekaan rohani. Menjadi orang percaya bukanlah berarti bahwa kita akan serta merta langsung peka dalam seketika. Kita tidak akan secara mendadak bisa mengerti apa yang berkenan di hadapan Tuhan,peka membedakan mana yang mengarah pada dosa dan mana yang tidak.

Kepada jemaat Efesus, Paulus mengajak mereka untuk menguji apa yang berkenan kepada Tuhan. Katanya, “dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan.” (Efesus 5:10). Ternyata kita diharuskan untuk menguji dahulu apa saja yang berkenan kepada Tuhan, mana yang boleh mana yang tidak, mana yang baik mana yang buruk, agar kita tidak salah melangkah sehingga melakukan hal-hal yang tidak berkenan kepada Tuhan. Pertanyaannya, bagaimana bisa menguji jika kita sebagai orang percaya masih belum peka terhadap kebenaran?

Jika kita mundur dua ayat sebelumnya, kita akan menemukan bahwa untuk mampu menguji, kita ternyata harus terus menerus belajar hidup sebagai “anak terang” (ay 8). Mengapa? “karena terang hanya berbuahkankebaikan, keadilan dan kebenaran.” (ay 9). “For the fruit of the Light or the Spirit consists every form of kindly goodness, uprightness of heart and trueness of life.” Istilah “anak terang” atau “children of Light” merujuk pada mereka yang hidup sebagai anak-anak Allah yang taat pada firman dan dalam kasih Kristus. Anak-anak terang adalah pelaku firman Allah yang mengasihi Dia, sebab Kristus sendiri adalah sumber terang. “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” (Yohanes 8:12). Jika kita terus belajar untuk hidup sebagai anak terang dengan pengalaman hidup bersama Tuhan yang terus bertambah, disanalah kita akan mampu membedakan mana yang berkenan di hadapan Tuhan dan mana yang tidak. Kepekaan itu akan memungkinkan kita untuk tidak mudah disesatkan, meskipun tiap hari kita hidup berdampingan dengan orang-orang yang mengejar kedagingan di dunia yang gelap ini, atau di dunia yang berisi penuh penyesatan, penyimpangan dan penipuan yang bertentangan dengan firman Tuhan. Lebih jauh lagi kita akan mampu menelanjangi perbuatan-perbuatan kegelapan, tipu daya iblis meski terbungkus rapi dalam kemasan yang menipu sekalipun. “Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang” (Efesus 5:13).

Kita hidup di sebuah jaman dimana penyesatan hadir dimana-mana. Bentuknya bisa bermacam-macam, jalan masuknya pun banyak. Bisa lewat apa saja yang kita dengar maupun yang kita lihat. Berbagai hal menggiurkan ditawarkan dunia setiap saat. Terkadang kita akan berhadapan dengan jalan-jalan yang kelihatannya baik, namun ternyata berujung pada maut, seperti yang tertulis dalam Amsal: “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut” (Amsal 14:12). Tanpa kepekaan rohani, kita akan mudah terjerumus dalam dosa dan mengarah kepada kebinasaan. Karena itu adalah penting untuk memiliki kepekaan. Itu bisa dicapai dengan tetap hidup sebagai anak-anak Terang. Menjalani hidup sesuai firman Tuhan, tetap bertekun dalam doa dan terus berada dalam bimbingan Roh Kudus. Jangan lupa bahwa Paulus sudah mengingatkan “Latihlah dirimu beribadah.” (1 Timotius 4:7). Sebuah proses latihan berarti sesuatu yang dilakukan secara berkesinambungan, kontinu atau terus menerus, secara serius untuk bisa meningkatkan sesuatu yang dengan tekun kita lakukan. Sudahkah kita memiliki rohani yang peka? Kita anak-anak Tuhan diingatkan untuk bangun dari tidur dan bangkit dari kematian dan terus berusaha untuk menjadi anak terang, dimana Kristus akan bercahaya di atas kita (ay 14). Seperti halnya kepekaan sommelier atau wine taster yang mampu menguji anggur, demikianlah kita harus mempunyai kepekaan agar dapat menguji apa yang berkenan kepada Tuhan dan apa yang tidak.

Kepekaan rohani yang tinggi akan menjauhkan kita dari tipuan-tipuan si jahat

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.