Soemardjo, Keponakan Romo N. Drijarkara SJ dan Tangan Kirinya yang Ampuh (4)

DENGAN rasa kagum dan hormat Ibu Ganjar menceriterakan kembali apa yang ia tahu tentang Eyang  Glondong, Eyang Drijarkara dan Bapak Soemardjo. Tidak jarang ia tersedak dan berhenti menahan air mata karena terharu. Namun sering juga ia tertawa karena ada yang lucu. 

Tangan kiri ampuh

Yang lucu antara lain waktu Soemardjo (ayahnya) sekolah di HIS Purworejo bersama anak-anak Belanda. Ia yang badannya kecil, anak miskin dari desa yang sepatunya tidak pernah ganti itu, sering dipermainkan oleh anak-anak Belanda yang badannya besar-besar dan ia dilempar ke sungai belakang sekolah itu. Karena ia sudah sangat marah, maka anak Belanda yang besar itu dipukulnya dengan tangan kiri, dan anak Belanda itu pingsan. 

Menurut Eyang Glondong, Soemardjo memang diberi kekuatan pada tangan kirinya. Namun, karena perbuatan itu, maka romo yang mengelola asrama HIS itu marah dan mengeluarkan Soemardjo. 

Soemardjo pulang ke Kedunggubah dan melapor kepada Eyang Glondong. Yang dilakukan Eyang Glondong adalah tidak mengucap sepatah katapun, hanya memelintir kumisnya yang tebal itu. Maka aneh bin ajaib, semua pakain romo itu di lemari sudah masuk ke dalam comberan dan kotor semua, hanya dengan plintiran kumis dari jarak jauh saja. 

Maka ada peristiwa di mana romo dan semua anak Asrama HIS itu datang menghadap Eyang Glondong di Kedunggubah untuk meminta maaf dan memberbolehkan Soemardjo untuk kembali ke asrama HIS. 

Menurut Ibu Ganjar, anaknya yang pertama adalah laki-laki dan diberi nama  FX Raga Alifio. Tangan kirinya juga punya kekuatan sama seperti yang dimiliki kakeknya: Soemardjo itu. 

Antara ya dan tidak

Ada pula kisah sedih yang agak berkepanjangan dan Ibu Ganjar sendiri tidak tahu persis penyebabnya. 

Suatu ketika Romo N. Drijarkara SJ pulang ke rumah dan bercerita kepada Soemardjo, keponakan yang sangat mencintainya. Ganjar mengatakan bahwa hal itu sepertinya semacam ada persaingan antara dua orang romo tentang pemilihan semacam kardinal. Saya bilang pasti bukan. Karena saat itu di Indonesia belum ada keuskupan dan belum ada uskup, apalagi kardinal. Kardinal pertama di Indonesia adalah Justinus Darmajuwono Pr yang waktu itu menjabat Uskup Agung Semarang. 

Zaman Romo Drijarkara SJ, maka struktur hierarki di Indonesia masih Prefektur atau Vikariat Apostolik. Kalau benar soal semacam itu, maka inti persoalannya adalah karena Romo Drijarkara itu seorang nasionalis dan Pancasilais, sedangkan romo satunya lebih itu lebih bercorak Gereja Katolik dan Roma, maka dialah yang terpilih dan Romo Drijarkara tidak. 

Ganjar hanya bisa mengatakan seperti itu. Selebihnya mungkin ahli sejarah Jesuit bisa mencari keterangan tentang hal itu. 

Namun yang pasti adalah Bapak Polisi Soemardjo yang sangat mencintai om-nya yang romo itu menjadi sangat marah dan ia mutung (patah arang) dari Gereja Katolik. Ia kemudian tidak mau masuk Gereja bertahun-tahun lamanya, bahkan KTP-nya pun kemudian ditulis secara lain. 

Kita tidak bisa melihat apakah dia melakukan kewajibannya secara lain itu atau tidak. Namun, banyak orang sudah berkesimpulan kalau Pak Polisi Soemardjo sudah ‘ganti baju’. 

Nanti kalau dia mati, maka orang-orang takkan mau mendoakannya. Begitulah yang terjadi selama bertahun-tahun, sampai akhirnya Romo Drijarkara meninggal pada tanggal 11 Februari 1967, dalam usia 54 tahun. 

Soemardjo yang sangat mengagumi dan menghormati om-nya itu merasa terpukul dengan “peristiwa kematian’ pak ciliknya ini. 

Bertanya ke Paroki

Pada masa usia lanjut, Pak Soemardjo mulai sakit-sakitan. Status agama yang dia yakini juga sudah tidak jelas lagi. 

Lalu Ibu Ganjar nekat bertanya kepada ayahnya: Apakah akan kembali masuk ke agama katolik? 

Sampai-sampai  Ganjar pun nekad berani menanyakan persoalan itu ke Pasturan Purworejo. Ia bertanya bagaimana caranya kalau ayahnya ‘bisa’ kembali ke agama katolik.

Namun pertanyaan Ganjar itu dijawab oleh ayahnya: “Kowe bocah wingi sore, ora ngerti apa-apa”, Saben dino aku moco Kitab Suci”. (Kamu anak kemarin sore, tidak tahu apa-apa. Setiap hari saya membaca Alkitab). 

Ganjar menangis lama ketika sampai pada cerita ini. 

Ayahnya ternyata tetap katolik sejati. Hanya peristiwa misterius itulah yang menyebabkan ia bersikap demikian selama ini. 

Maka Ganjar mencari buku baptis di Sekretariat Paroki Purworejo. Dan eureka! Puji Tuhan ia menemukannya. Dengan bekal itu, pada pada suatu saat ketika ayahnya kemudian meninggal dengan tenangnya dan bahagia di RS Panti Waluyo, (letaknya hanya tetanggaan dengan  rumah Pasturan Purworejo), Ganjar dapat menunjukkan surat baptis itu kepada Romo T. Siswanto MSC. 

Maka, semua orang di Kedunggubah pun menjadi jelas bahwa Pak Polisi Soemardjo itu memang orang katolik dari mulanya. 

Ganjar lalu menceriterakan bahwa setelah meninggal, wajah ayahnya yang sudah berusia 79 tahun pada tahun 2004 saat meninggal itu, nampak seperti berusia 50-an seperti nampak dalam foto di rumah. Dia tersenyum, nampak muda dan bahagia. Sampai orang-orang yang melayat juga kaget dan heran mengapa Pak Polisi Soemardjo menjadi sangat muda ketika telah meninggal.

Artikel terkait:

Tautan: Situs resmi STF Driyarkara Jakarta (www.driyarkara.ac.id)

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.