“Soegija”: Menjadi Katolik dengan “Spiritualitas” Soegija (2)

MENURUT saya, pesan moral film Soegija ini sangat jelas dan terang benderang. Bagi Soegija (Gereja Katolik) perang hanyalah mimpi buruk bagi kemanusiaan. Semua suku bangsa yang ditampilkan Garin dalam konflik kemerdekaan Indonesia zaman itu (Belanda, Jepang, Indonesia, Tionghoa) menderita.

Seperti dituturkan Robert (Wouter Zweers), komandan tentara Belanda, para tentara di medan perang adalah mesin yang harus mengingkari jiwa kemanusiaan yang satu. Kemanusiaan sejati adalah jiwa cinta yang mengatasi batasan kultural dan ras yang digambarkan Garin dalam adegan kasmaran antara Mariyem (Annisa Hertami Kusumastuti) dan Hendrik (Wouter Braaf) di atas sepeda.

Kemanusiaan sejati juga adalah jiwa welas asih antarsesama. Robert yang menjadi mesin perang Belanda yang dipaksa mengubur kemanusiaannya akhirnya luluh oleh sosok bayi mungil  yang disembunyikan di balik punggung seorang lelaki tua yang ditembaknya mati.

Gereja tidak hanya hadir dalam sosok Soegija. Mariyem, Lantip (Rukman Rosadi), Lingling (Andrea Reva) dan keluarganya juga adalah sosok-sosok Gereja. Tokoh-tokoh ini mencerminkan apa yang disebut Soegija sebagai 100 persen Katolik dan 100 persen Republik. Mereka adalah wajah Gereja yang teraniaya.

Teraniya bukan berarti kiamat. Yesus masih mengampuni penjahat di atas salib. Gereja yang teraniaya pun berjuang mewartakan kasih dalam sosok Mariyem yang jadi perawat. Seperti Kristus, ia adalah korban sekaligus pejuang kasih.

Mariyem atau Maria? 

Nama “Mariyem” tentu bukan asal comot. “Mariyem” adalah wujud pembumian Gereja di Indonesia (inkulturasi).

“Mariyem” adalah lafal Jawa untuk “Maria”. Maria adalah ibu yang hatinya pedih melihat penderitaan anaknya.  Meski pedih, Maria hadir mendampingi Yesus memanggul salib sepanjang via dolorosa. Ketika tentara Belanda menggeledah rumah sakit mencari para pejuang Indonesia, Mariyem berdiri di depan. “Siapa kamu?” tanya Robert.  ”Aku Maria, Ibu yang melindungi semua yang ada di sini,” jawab Mariyem tegas.

Dahsyat sekali adegan ini. Mariyem bukan sekadar perawat. Mariyem adalah karya Allah yang melindungi mereka yang menderita. Mariyem adalah bunda Allah sendiri yang tidak pernah melupakan anak-anaknya. Allah datang bukan lewat suara gelegar dan sinar terang membelah langit. Allah hadir lewat mereka yang peduli pada sesama.

Bagaimana dengan Lantip yang berjuang mengangkat senjata? Lantip berjuang membela hak negara. Kata Yesus, “Berikan kepada kaisar apa yg menjadi hak kaisar, berikan pada Allah apa yg menjadi hak Allah.” (Mrk 12:17).

Satu adegan cantik lain yang mungkin terlihat biasa saja adalah saat Soegija berbincang dengan Lingling yang kehilangan ibunya. Mereka berbincang di pantai, di tengah gulungan ombak. Sangat simbolik. Kenapa adegan itu menampilkan Soegija dengan Lingling, seorang bocah perempuan Tionghoa? Kenapa di pantai, di tengah gulungan ombak? Kenapa tidak di rumah, di kebon, atau bahkan di gereja?

Lingling adalah representasi masyarakat yang paling lemah dan tertindas:  anak-anak, perempuan, dan Tionghoa. Ombak adalah simbol kehidupan yang bergolak. Sementara, Soegija, adalah Gereja yg mengayomi mereka yang teraniaya dan pergolakan hidup zaman itu.

Ah, ada banyak sekali catatan yang bisa ditulis dari film ini. Garin mempersiapkan adegan-adegan dengan sangat detail. Film itu sarat dengan pesan moral di sana-sini. Tidak tersurat, tapi tersirat.  Yang belum nonton, nontonlah. Bukan utk memenuhi kuota jumlah penonton, tapi untuk menggali spiritualitas Soegija tentang apa artinya menjadi katolik.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.