Sinode Mendatang: Tahbisan Imam Menikah?

Sinode Para Uskup di Vatikan, Oktober 2015/Foto:Alessandra Tarantino
Sinode Para Uskup di Vatikan, Oktober 2015/Foto:Alessandra TarantinoSinode Mendatang: Tahbisan Imam Menikah? 0By John L. Wujon onAugust 16, 2016Orbi

MENANGGAPI kurangnya  imam  di seluruh dunia, Paus Fransiskus dilaporkan telah memutuskan bahwa sinode Uskup mendatang akan fokus pada para pelayan pastoral – termasuk pertanyaan apakah pria menikah bisa ditahbiskan untuk merayakan sakramen-sakramen, yang pada dasarnya menciptakan imamat paralel.

Berangkat dari pengalaman sebelumnya di mana sinode Keluarga sukses dijalankan, satu hal pokok yang bisa ditegaskan: Paus Fransiskus telah menciptakan sebuah instrumen untuk melakukan pendalaman terhadap berbagai isu besar yang dihadapi Gereja kontemporer.

Sinode direformasi – konsultasi global, menyusul dua majelis yang dipisahkan setahun sebelumnya menyimpulkan sebuah dokumen pengajaran Paus tentang strategi pastoral bagi generasi berikutnya – yang berarti tema-tema besar tidak bisa dibiarkan begitu saja pada akar rumput dengan pertimbangan tidak bisa ditangani.

Jika isu besar seperti persiapan pernikahan dalam Gereja dan penanganan kasus-kasus perceraian dalam keluarga Katolik dapat dibahas dan dicarikan solusinya, itu berarti isu besar lainnya diyakini bisa ditangani. Ada banyak daftar pertanyaan  mengenai pelayanan dalam Gereja: akses ke pelayanan sakramen, peran perempuan dalam Gereja, dan peran diakon kini muncul bersamaan.

Beberapa orang mengatakan, pelayanan pastoral akan menjadi topik sinode berikutnya, kemungkinan akan dilaksanakan pada 2018 atau 2019.

Tapi ada juga kecemasan mendalam berkaitan dengan pertanyaan yang sangat mendesak. Lebih dari setengah komunitas Gereja Katolik di seluruh dunia tidak memiliki imam tetap.

Keuskupan Xingu di wilayah Para, Brasil, misalnya, memiliki 800 paroki atau sama dengan wilayah misi di Jerman, tetapi hanya dilayani oleh 27 imam. Artinya lebih dari dua-pertiga umat setia menghadiri misa setiap minggu dan dua atau tiga kali dalam setahun.

Xingu mungkin menjadi kasus khusus, tetapi di wilayah negara-negara berkembang, baik di pedesaan maupun di perkotaan, rasio pertumbuhan imam dan umat jauh lebih rendah dibandingkan dengan wilayah Utara, sebagian karena luasnya wilayah misi dan pertumbuhan umat lebih cepat dari imam yang dididik.

Tetapi ada juga contoh menarik di Eropa dimana para Katekis atau awam menjalankan tugas-tugas pastoral di paroki-paroki yang jarang mendapat kunjungan dari pastor paroki.

Kembali ke Mei 2007, ketika para Uskup Amerika Latin bertemu dan merancang terbentuknnya sebuah Pan Amerika di Aparecida, sejumlah besar dari mereka ingin membahas pertanyaan mendesak mengenai akses ke pelayanan sakramen Gerejani. Tetapi utusan dari Vatikan yang hadir pada saat itu mengatakan bahwa pertanyaan tersebut memiliki waktu dan tempat khusus untuk dibahas nanti.

Kemudian Kardinal Uskup Agung Buenos Aires, penulis dokumen Aparecida, sangat menyadari ada keinginan kuat untuk mendiskusikan tema tersebut pada sinode Ekaristi di Roma dua tahun sebelumnya. Ia telah melihat bagaimana para uskup begitu tertarik untuk membahas masalah akses ke pelayanan  sakramen pernikahan, khusus bagi pasangan yang telah bercerai dan ingin menikah lagi.

Para uskup ini telah diberitahu bahwa sinode saat itu bukan menjadi tempat untuk membahas tema tersebut dan Bergoglio – waktu itu- setuju mengapa hal itu perlu dibahas. Setelah terpilih, Paus Fransiskus memperkenalkan sebuah format baru yang menegaskan dorongan dan kuatnya keinginan untuk membahas isu tersebut.

Ada banyak cara untuk mendapat akses menuju pernikahan sakramental setelah pasangan melakukan cerai sipil dan ingin menikah lagi, merupakan pertanyaan neurologik saat sinode keluarga berlangsung – perbedaan pendapat yang tajam akhirnya menyatu – sinode mendatang kemungkinan akan membahas isu seputar kurangnya imam yang bekerja di paroki.

Dan, hanya karena ada yang sudah berjalan lama , usulan kontroversial dalam menanggapi isu pasangan bercerai dan hendak  menikah lagi – undangan Kardinal Walter Kasper untuk mempertimbangkan pendekatan Ortodoks – yang lainnya tentang kurangnya imam yang bekerja di paroki-paroki.

Sebuah solusi telah dijalankan  selama bertahun-tahun oleh Fritz Lobinger, seorang pensiunan uskup Jerman yang kini tinggal di Durban , Afrika Selatan.

Selama 50 tahun berkarya di Afrika Selatan, dan bepergian ke berbagai belahan dunia, ia mengamati ada begitu banyak komunitas Kristen di daerah terpencil yang dipimpin oleh awam dewasa untuk menjalankan praktek liturgi dalam kelompok-kelompok kecil.

Solusi yang ia lakukan adalah menahbiskan mereka setelah mengikuti pendidikan dan pelatihan singkat, agar mereka dapat melayani sakramen dalam lingkungan Gereja mereka.

“Mereka adalah pelayan terthabis”, kata Lobinger seraya menambahkan hal ini penting sekalipun mereka tidak dipanggil sebagai pastor, pada dasarnya dimungkinkan adanya ‘imamat pararel’ untuk melengkapi norma yang ada dalam ritus Latin, imam seminari dilatih dan dikirim oleh Uskup ke paroki-paroki dan wilayah misi tertentu.

Lobinger merujuk ke sebuah pendasaran dalam Kisah Para Rasul 14:23 ketika St. Paulus dan Barnabas ditunjuk atau dithabiskan sebagai “penatua” dalam Komunitas Kristen yang masih muda, di mana istilah merujuk tidak semata dimaknai pada usia orang tapi kelayakan mereka untuk menerima tugas yang dipercayakan kepada mereka.

Mereka bergerak dalam sebuah tim yang diutus ke komunitas lain, bukan komunitas mereka, melayani masyarakat pada paruh waktu sambil terus bekerja sesuai dengan profesi mereka tanpa mengabaikan keluarga.

Hal ini menunjukkan, sebagaimana diungkanpkan Lobinger dalam sebuah buku yang baru-baru ini  diterbitkan di Spanyol, bahwa Gereja dalam beberapa abad menabiskan pemimpin lokal yang dipilih oleh masyarakat setempat, yang telah memperlihatkan kepantasan mereka dalam kurun waktu yang lama.

Paus Fransiskus telah memberi sinyal kesediaannya untuk membuka kembali sejumlah pertanyaan khusus berkaitan dengan thabisan pria menikah, bahkan mendorong Gereja Lokal untuk mengajukan propsal dimaksud.

Uskup Erwin Krautler, uskup kelahiran Austria yang bertugas di Xingu, melaporkan bahwa dalam sebuah audiensi pribadi dengan Paus Fransiskus pada April 2014, mereka telah membandingkan catatan tentang bagaimana kekurangan imam yang mempengaruhi kehidupan Gereja di Amerika Latin. Krautler, kata Francis, telah mengutip sebuah keuskupan  di Meksiko – mungkin San Cristobal di Chiapas – di mana paroki hanya dijalankan oleh diakon, yang memang perlu ditahbiskan untuk bisa merayakan Misa.

Paus Fransiskus menggambarkan proposal Lobinger sebagai salah satu “hipotesis” menarik, dan mendesak Krautler untuk membangun konsensus bersama para Uskup di tingkat nasional untuk berani membuat usulan konkrit, yang nantinya akan dibawa ke Roma.

“Paus mengatakan ia terbuka untuk pertanyaan ini, ia ingin mendengarkan gereja-gereja lokal. Namun dia mengatakan tanpa gereja lokal, tidak ada gereja universal, yang berjalan sendirian, ” kata uskup agung asal Irlandia saat itu.

Proposal Lobinger telah dikembangkan di Amerika Latin oleh seorang teolog Brasil dari Universitas Kepausan Paraná di Curitiba, Antonio José de Almeida, yang baru-baru menerbitkan sebuah buku The New Ministeries” (Para Pelayan Baru). Ia mengangkat 40.000 pelayan Injil di Honduras, 400 diakon menikah  di Chiapas sebagai tanda munculnya panggilan ‘diakonal’ yang berakar kuat dalam masyarakat sebagaimana diceritakan dalam Kisah Para Rasul.

Alameida kemudian menganjurkan agar Konferensi Para Uskup Brasil merenungkan pertanyaan seputar pria menikah dithabiskan, termasuk mengajak dua kardinal yang dikenal dekat dengan Paus Fransiskus : Claudio Hummes, Uskup Agung emeritus dari São Paolo, dan Raymundo Damasceno Assis dari Aparecida .

Mereka berkesimpulan bahwa menahbiskan penatua lokal bukan hanya solusi untuk mengatasi kekurangan imam tetapi tanda bahwa Roh Kudus berbicara kepada Gereja,  sangat mungkin Paus Fransiskus akan mempertimbangkan hal ini untuk dibahas pada sinode mendatang.

Sementara itu, Lobinger menerbitkan sebuah buku dalam bahasa Inggris, tak lama sesudah proposalnya didiskusikan,The Empty Altar (Altar Kosong): Sebuah Buku Bergambar untuk membantu diskusi tentang kurangnya Pastor Paroki. Buku ini bisa menjadi bacaan penting untuk persiapan awal mengikuti sinode mendatang.

=========

Diterjemahkan dari Cruxnow.com

 

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.