Sinai: Boleh Percaya, Tidak Percaya pun Juga Boleh

PEGUNUNGAN Sinai, kontur alamnya bebatuan. Minim sekali tumbuhan. Bahkan hampir tak ada. Sebagai batu, ada bagian yang memang kelihatan gagah sekali. Keras, menjulang ke atas, gagah, perkasa. Maka tak heran jika di kitab Mazmur, ada kalimat, “Tuhanlah Gunung Batuku…..”. 

Di sanalah, menurut Kitab Perjanjian Lama, Nabi Musa mendapatkan Dekalog. Dua buah batu, berisi Sepuluh Perintah Allah. Kini di puncak bukit yang segersang itu, terdapat sebuah kapel kecil. Namanya, Gereja St. Chatarina. Di bagian bawah, dekat dengan kampung orang Baduin, sebuah biara Koptik berada. 

Dan para biarawan, mendaraskan doa-doaanya. 

Kami menuju ke sana dengan sebuah bis, berisi 24 penumpang menyusuri kawasan berbatu itu. Dari perbatasan Israel menuju lembah Gunung Sinai. Paginya, pukul 01.00 naik unta agar bisa  naik ke atas bukit. Dari perbatasan sampai lokasi, butuh waktu, tak kurang 5 jam. Dan di kanan kiri hanya ada batu dan pepasiran. 

Dalam rombongan, ikut serta seorang anak balita, yang belum fasih bicara. Baru bisa sebut, kata ‘mama’, ‘papa’, dan ‘opung’, serta ‘Icha….’, nama kakaknya. Selama beberapa jam perjalanan, anak balita beraktivitas biasa, coleteh sebagaimana anak balita. Kadang ketawa, kadang menangis singkat, kadang bercanda. 

Namun suatu saat, secara tiba-tiba, anak itu menangis menjerit-jerit, meronta, tiada henti. Orangtuanya segera membuat  susu, tidak henti tangisnya. Dipijit, juga tetap nangis. Digosok pakai minyak telon, tetap nangis juga. Hampir satu jam lebih kondisi itu berlangsung. Orang-tuanya bingung. Juga penumpang yang lain. Lalu dicoba oleh bapaknya, mohon supaya bis berhenti dulu. Namun si sopir tak berani. Katanya, di kawasan itu kerap ada perampok, dari suku-suku sekitarnya. 

Suasana genting. Bapaknya frustrasi. Lalu secara mengagetkan, dia mendekati salah seorang rombongan kami yang duduk di belakang sopir persis. Dia minta tolong bantuan, pemecahan situasi anaknya. Atas hal tersebut, muncul pertanyan-pertanyaan dalam hati. Apa yang bisa dibuat seorang rohaniwan katolik. 

Romo kan hanya bermodalkan belajarnya filsafat, teologi. Tak punya ilmu medis, juga ilmu tabib, atau supranatural yang bisa mengobati orang. Itulah pikiran yang muncul di kepala. Tapi, sebagai upaya, keluar sebuah kalimat sederhana, ‘Ok Pak, saya coba bantu !’. 

Lalu saya pun berdoa dengan amat sungguh dalam batin. Dengan keyakinan yang 100% katolik. Tak tahu apa nanti buahnya. Mohon kepada Bapa di Surga, agar memberi rahmat bagi anak kecil itu, supaya bisa tenang kembali seperti sedia kala. Mengherankan dan  menguatkan iman, tak berapa lama, anak itu tenang dan lalu tertidur di gendongan ibunya. 

Malam hari menjelang tidur, ingatlah pikiran akan siang itu. Kawasan yang dilewati bus itu  adalah kawasan yang dahulunya kerap terjadi perang. Perang antara Mesir melawan Israel, memperebutkan daerah Pegunungan Sinai. Banyaklah dahulu orang meninggal karena korban perang. Dan lalu menjadi daerah ‘panas’. Panas udaranya, panas juga suasana ke-roh-ani-annya. 

Seorang anak yang masih bersih batin dan hatinya, maka terasa olehnya ada suasana -roh- yang panas. Ini yang harus didinginkan dengan kerohanian iman. 

Selamat berdoa, dengan 100% iman. 

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.