Sikap Terhadap Musuh

Ayat bacaan: Yunus 4:1
====================
“Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia.”

sikap terhadap musuh

Apa reaksi anda ketika musuh atau orang yang tidak anda sukai jatuh? Kebanyakan orang akan bereaksi dengan menunjukkan rasa puas dan senang. Kata-kata yang menunjukkan kepuasan melihat musuh jatuh bisa beragam mulai dari yang biasa-biasa saja seperti, “kapok”, “rasain”, bahkan sampai kasar dan diikuti kata-kata yang mengutuk.  Secara umum orang akan spontan bereaksi seperti itu, bahkan tidak jarang pula rasa sakit hati dan dendam membuat orang berusaha sedapat mungkin untuk menjatuhkan hingga mencelakakan mereka. Dan dalam banyak hal, kita pun melihat pembenaran akan hal ini lewat berbagai film dan cerita-cerita disekitar kita. Semakin lama orang menganggap hal itu sebagai hal yang wajar. Toh orang yang terkena itu sudah terlebih dahulu berdosa terhadap kita, berniat buruk dan sebagainya. Tapi apakah itu yang dianjurkan oleh Tuhan? Apakah itu bentuk pengajaran kekristenan? Bolehkah itu menjadi cerminan orang-orang percaya? Sesungguhnya tidak ada satupun alasan bagi kita untuk menunjukkan sikap seperti itu. Kita seharusnya memiliki kasih Kristus di dalam diri kita yang sama sekali tidak menyediakan tempat buat bersukacita terhadap kejatuhan orang lain, sejahat apapun mereka pernah lakukan atas diri kita. Ini bukan hal yang gampang, itu benar, karena rasa sakit hati bisa mencemari hati kita sedemikian rupa sehingga kita merasa harus membalas agar rasa sakit itu berkurang, setidaknya akan merasa gembira sekali ketika mereka mengalami hal yang buruk dalam hidup mereka. Tetapi dengan tegas Tuhan menyatakan hal yang berbeda. No excuse, no matter what, we still have to forgive our enemies, even to love and pray for them.

Kita bisa melihat reaksi Yunus yang disuruh Tuhan untuk mengingatkan bangsa Niniwe agar bertobat. Sikap bandel dan penolakannya di awal turunnya tugas dari Tuhan membuatnya harus masuk ke dalam perut ikan bukan semenit, sejam tetapi selama tiga hari dan tiga malam lamanya. (Yunus 1:17). Hal itu membuatnya lumayan jera, oleh karena itu setelah ia keluar dari perut ikan ia pun kemudian memutuskan untuk taat terhadap perintah Tuhan. Yunus lalu pergi untuk mengingatkan Niniwe agar mau bertobat. Dan pertobatan bangsa Niniwe pun hadir. Seisi Niniwe berbalik dari tingkah laku yang jahat dan berselubung kain kabung tanda pertobatan. Bukan hanya manusia, tetapi ternak-ternak pun demikian. Melihat itu, Tuhan pun mengampuni mereka. “Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Iapun tidak jadi melakukannya.” (3:10). Bagaimana respon seharusnya dari Yunus? Seharusnya ia bersukacita. Seharusnya ia merasa lega, bahwa tugas maha berat yang dibebankan kepadanya mampu ia selesaikan dengan baik. Seharusnya Yunus merasa senang melihat begitu banyak manusia yang terluput dari kebinasaan dan beroleh keselamatan. Tapi kenyataannya bukan itu yang menjadi respon Yunus. Justru sebaliknya, Alkitab mencatat respon Yunus adalah seperti ini: “Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia.” (Yunus 4:1). Yunus ternyata masih menyimpan amarah. Ia tahu bangsa Niniwe penuh dengan kejahatan. Niniwe pada saat itu merupakan musuh bebuyutan dari Israel. Lalu untuk apa Allah Israel menyelamatkan musuh dari umatNya sendiri? Seharusnya mereka mati saja, itu lebih baik. Itu mungkin yang menjadi isi hati Yunus. Ia mengira bahwa hanya bangsa Israel saja yang mendapat janji Tuhan, dan dengan demikian hanya Israel lah satu-satunya yang berhak diselamatkan, sedang yang lain biar saja binasa. Yunus bahkan berterus terang menunjukkan sikap kesalnya melihat Niniwe diselamatkan. Tapi pikiran seperti itu sungguh salah. Lewat pohon jarak yang ditumbuhkan dan kemudian layu di hari selanjutnya Tuhan memberi pelajaran kepada Yunus bahwa bukan hanya Israel, tapi bangsa-bangsa lain pun layak untuk dikasihi Tuhan. “Lalu Allah berfirman: “Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikitpun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula. Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?” (Yunus 4:10-11). Bukankah bangsa itu pun merupakan ciptaan yang berasal dari Tuhan? Bukankah mereka juga diciptakan menurut gambar dan rupaNya? Jika demikian, bagaimana mungkin Tuhan tidak mengasihi mereka juga dan rindu untuk melihat mereka selamat?

Perhatikanlah. Yunus memang mentaati perintah Tuhan. Ia mendapat pelajaran berharga ketika berpikir bahwa ia bisa lari dari perintah Tuhan dan harus mengendap di dalam perut ikan besar yang bau dan lembab selama tiga hari tiga malam. Namun ternyata itu belum cukup untuk melembutkan hatinya. Ia patuh, tetapi hatinya masih sama kerasnya seperti saat ia melarikan diri dari penugasan Tuhan. Di dalam hatinya ia masih tetap menginginkan kehancuran Niniwe. Win-win solution yang ia harapkan adalah ia tidak dihukum karena patuh, tetapi bangsa itu tetap hancur lebur. Itu bukanlah sikap yang diinginkan Tuhan untuk kita miliki. Ada banyak orang-orang yang pernah, sedang atau pada suatu hari kelak menyakiti kita. Terhadap mereka kita tidak diperbolehkan untuk mendendam apalagi mengutuk. Justru yang diinginkan Tuhan adalah sebentuk kasih yang didalamnya terdapat pengampunan tanpa batas. Kita juga dituntut untuk selalu berbuat baik bagi mereka, bahkan mendoakan mereka. “Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu… kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.” (Lukas 6:27,35). Dalam Injil Matius dikatakan “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (Matius 5:44). Ini merupakan perintah yang sangat penting untuk dijalankan, meski harus diakui beratnya mungkin minta ampun. Tapi ingatlah bahwa ketika kita tidak sanggup melakukan itu dengan kemampuan kita sendiri, ada Roh Kudus di dalam diri kita yang akan memampukan kita untuk melakukan itu.

Tuhan mengasihi semua ciptaanNya di dunia ini tanpa memandang latar belakang apapun. Siapapun manusianya, baik atau jahat, semuanya tetap layak untuk diselamatkan, semua tetap Dia rindukan tanpa terkecuali. Yesus pun turun ke dunia untuk menebus dosa manusia dan melayakkan kita untuk selamat masuk ke dalam kehidupan yang kekal di KerajaanNya sebagai bentuk kasihNya yang begitu besar, dan itu berlaku bagi semua orang. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. (Yohanes 3:16-17). Kasih Allah itu besar bagi siapapun tanpa terkecuali. Kedatangan Yesus pun bukan hanya untuk menyelamatkan segelintir umat pilihan, tapi berlaku untuk siapa saja yang percaya padaNya, tanpa pandang bulu. Tuhan Yesus berkata “Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.” (Yohanes 10:16). Semua ini menggambarkan besarnya kasih Allah kepada seluruh umat manusia di bumi ini. Dia rindu untuk melihat pertobatan dari bangsa-bangsa agar selamat. Jika Tuhan memiliki persepsi demikian, mengapa kita malah harus bersenang hati melihat kehancuran orang lain? Jika Tuhan saja memberi kesempatan untuk bertobat, mengapa kita harus tetap memelihara dendam dan kebencian?

Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk mengampuni tanpa batas. Tujuh puluh kali tujuh kali, kata Yesus dalam Matius 18:22, itu menunjukkan bahwa kita harus siap mengampuni tanpa batas. Sekali lagi mari kita lihat apa yang diajarkan Yesus. “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (Matius 5:44). Karena jika kita hanya mampu mengasihi orang yang mengasihi kita, dan memberi salam hanya kepada saudara-saudara sendiri saja, apa bedanya kita dari orang lain? We must be able to take another step. Dan Tuhan Yesus mengatakan bahwa kemampuan mengampuni itulah yang akan membuat kita menjadi sempurna, sama seperti Bapa di surga. (ay 48). Ini menunjukkan betapa sulitnya bagi kita untuk bisa melakukan itu, dan mungkin kemampuan kita tidak akan pernah sanggup membuat hati kita lembut penuh dengan pengampunan seperti itu. Tapi ingatlah bahwa kita punya Roh Kudus yang memampukan kita, asal saja kita mau melembutkan hati kita agar Roh Kudus bisa bekerja di dalamnya.

Mari kita menjaga hati kita agar tidak terperosok kepada pemahaman keliru seperti Yunus. Tetaplah berbuat baik, jangan terpengaruh oleh provokasi atau pancingan-pancingan dari orang yang berlaku jahat. Jangan membalas dengan berbuat jahat lagi, jangan bersenang di balik kejatuhan mereka, tetapi sebaliknya ampuni, kasihi dan doakanlah mereka. Jika itu terasa sulit, berdoalah dan minta agar Roh Kudus memampukan kita untuk melakukannya. Dari Yunus kita bisa belajar, meski kita sudah melakukan tindakan yang benar, tetapi kita masih mungkin berbuat kesalahan jika kita tidak menjaga hati kita agar tetap seturut kehendak Allah. Mari miliki hati yang lembut dan penuh kasih, karena Allah pun memperlakukan kita semua dengan cara seperti itu.

Kemampuan mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka mengarahkan kita untuk semakin mendekati kesempurnaan Bapa di surga

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.