Sikap Sombong

Ayat bacaan: 1 Korintus 4:7 (BIS)
=======================
“Siapakah yang menjadikan Saudara lebih dari orang lain? Bukankah segala sesuatu Saudara terima dari Allah? Jadi, mengapa mau menyombongkan diri, seolah-olah apa yang ada pada Saudara itu bukan sesuatu yang diberi?”

Adakah alasan yang cukup untuk membuat kita punya hak untuk bersikap sombong? Mungkin kita akan tahu untuk menjawab tidak, tapi pada kenyataannya banyak orang yang dengan mudahnya bisa menunjukkan sikap itu ketika mereka merasa di atas angin. Ketika mereka hidup relatif lebih berlimpah dibanding orang lain pada umumnya, ketika mereka mendapatkan posisi-posisi atau jabatan yang tinggi, ketika berprestasi membanggakan, terkenal dan sebagainya. Ada pula yang menunjukkan sikap seperti itu hanya karena ingin dihormati orang lain atau malah untuk sekedar menjaga image saja. Itu jelas bukan merupakan gambaran dari kehidupan ideal orang percaya. Kalaupun kita termasuk beruntung memiliki sesuatu yang lebih dari orang lain pada umumnya, perlukah kita menyombongkan diri karenanya? Bukankah semua itu pun berasal dari Tuhan dan tidak pernah boleh dipakai untuk menjadikan kita pribadi yang angkuh, sombong, atau arogan?

Sebuah sikap sombong alias tinggi hati bertolak belakang dengan sikap rendah hati yang justru seharusnya diadopsi dalam kehidupan kekristenan. Sikap ini sayangnya kerap muncul saat kita terlalu terlena dengan apa yang kita miliki, lantas secara berlebihan menyikapi keistimewaan talenta, kondisi atau keadaan  yang lebih dari orang lain. Tuhan dengan tegas menentang sikap seperti ini. Sebagai contoh kita bisa melihat sikap buruk dari jemaat Korintus dahulu kala ketika Paulus hadir disana.

Jemaat Korintus pada masa itu merupakan gambaran jemaat yang sombong. Ada banyak ayat yang mengindikasikan hal ini seperti yang bisa kita lihat beberapa kali dalam 1 Korintus 4:6-21, 5:2, 8:1, 13:4 dan lain-lain, dimana kita melihat Paulus memberikan teguran atas kesombongan mereka. Lihatlah misalnya dalam ayat ini. “Saudara-saudara, kata-kata ini aku kenakan pada diriku sendiri dan pada Apolos, karena kamu, supaya dari teladan kami kamu belajar apakah artinya ungkapan: “Jangan melampaui yang ada tertulis”, supaya jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri dengan jalan mengutamakan yang satu dari pada yang lain”. (1 Korintus 4:6). Mereka lupa akan jati diri mereka dan tenggelam dalam kesombongan, sehingga merasa tidak lagi memerlukan apa-apa, termasuk tidak lagi membutuhkan hamba Tuhan dalam hidup mereka. “Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?” (ay 7). Cukup keras bukan tegurannya? Dalam versi BIS dikatakan: “Siapakah yang menjadikan Saudara lebih dari orang lain? Bukankah segala sesuatu Saudara terima dari Allah? Jadi, mengapa mau menyombongkan diri, seolah-olah apa yang ada pada Saudara itu bukan sesuatu yang diberi?” Perilaku mereka menunjukkan seolah-olah mereka tidak lagi memerlukan apa-apa. “As if you are already filled and think you have enough (you are full and content, feeling no need of anything more)!” Itu yang tertulis dalam versi bahasa Inggris untuk ayat 8. Mereka lupa diri dan tidak lagi menyadari bahwa semua yang mereka miliki sesungguhnya berasal dari Tuhan, dan karenanya tidak boleh ada orang yang menyombongkan dirinya. Berulang kali pula Paulus pun mengingatkan dengan tegas bahwa keselamatan itu adalah pemberian Tuhan, (1:18, 15:10). Paulus mengingatkan mereka bahwa Tuhanlah yang memilih (1:27-28), mengaruniakan RohNya sendiri untuk menyingkapkan rahasia-rahasia Ilahi (2:10-12), serta memberikan berbagai anugerah atas kasih karuniaNya (1:4-5). Semua berasal dari Tuhan, dan kerenanya tidak seorangpun punya hak untuk menyombongkan diri.

Segala yang kita miliki saat ini, apakah itu biasa atau istimewa, besar atau kecil ukurannya menurut kita, itu semua adalah anugerah luar biasa yang berasal dari Tuhan. Dan Paulus pun berkata “Ada tertulis: “Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.” (1:31). Sesungguhnya sebuah kasih karunia dikatakan kasih karunia karena bukan berasal dari perbuatan kita melainkan dari Sang Pemberi yaitu Tuhan sendiri. “Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia.” (Roma 11:6). Kesombongan merupakan penyangkalan akan hal itu, karena artinya mereka berpikiran seolah-olah semua itu adalah hasil pekerjaan mereka atau beranggapan bahwa itu semua karena kehebatan mereka tanpa campur tangan Tuhan. Menyadari bahwa kasih karunia merupakan pemberian Tuhan, milik Tuhan yang diberikan kepada kita akan membuat kita tetap sadar bahwa tidak ada satupun yang pantas kita sombongkan.

Marilah kita menyadari betul anugerah kasih karunia yang telah Tuhan berikan kepada kita. Semua yang ada pada kita hari ini sesungguhnya berasal dari Tuhan. (Ulangan 8:14-18). Dan dalam Roma 11:36 kita diingatkan bahwa semua itu berasal dari Tuhan, oleh Tuhan dan untuk Tuhan. “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Roma 11:36). Tidak ada tempat bagi orang sombong di hadapan Tuhan, dan peringatan akan hal tersebut sudah sangat banyak disampaikan sepanjang isi Alkitab. Kesombongan akan berakibat pada kehancuran (Amsal 16:18), itu ditentang Tuhan (Yakobus 4:6), dan merupakan kekejian bagi Allah sehingga tidak akan luput dari hukuman (Amsal 16:5). Oleh karena itu, hendaklah kita menjadi orang-orang yang tahu bersyukur  atas semua yang telah diberikan Tuhan lewat sebentuk kerendahan hati bukannya malah dipakai untuk menjadi sombong atau tinggi hati.

Kesombongan berarti mengingkari kasih karunia Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.