Sibuk

Ayat bacaan: Hagai 1:9b
===================
“Oleh karena rumah-Ku yang tetap menjadi reruntuhan, sedang kamu masing-masing sibuk dengan urusan rumahnya sendiri.”

terlalu sibuk

Manusia semakin lama semakin melupakan keramahan, toleransi dan kepedulian. Seorang kakek lanjut usia pernah bercerita kepada saya bagaimana ia menyaksikan sendiri degradasi moral semakin parah dari masa ke masa. Dahulu orang saling sapa ketika berpapasan meski tidak saling kenal, sekarang orang menjadi egois dan tidak peduli lagi terhadap orang lain. Jalan raya mungkin bisa menjadi saksi bisu dari hal ini, dimana orang berkendara tanpa peduli sekelilingnya. Mereka terus menyalip, memotong seenaknya, saling serobot tanpa mempedulikan sesama pengguna jalan. Biar saja, terserah saya, yang penting saya cepat sampai di tujuan. Itulah yang terjadi hari ini. Semakin sulitnya dunia membuat manusia bertambah sibuk pula. Kerja, kerja dan kerja. Berkejar-kejaran dengan waktu hingga lupa kepada hal-hal lainnya. Keluarga diabaikan, teman-teman tidak lagi penting, dan yang paling mengenaskan, waktu-waktu bersama Tuhan pun dilupakan, atau setidaknya dinomor duakan. Tuhan hanya dijumpai jika ada waktu, kalau lagi sibuk nanti saja kapan-kapan. Tuhan bukan lagi yang utama melainkan melorot ke posisi kesekian dalam daftar prioritas manusia. Beribadah ke gereja? Itu dianggap membuang-buang waktu yang seharusnya bisa dipergunakan untuk mengejar pekerjaan. Ironisnya, ketika masalah melanda, Tuhan pula yang kemudian dipersalahkan. Kita terus berusaha meningkatkan taraf hidup kita tanpa melibatkan Tuhan lagi.

Dahulu pada zaman Hagai kisah serupa pun pernah terjadi. Pada masa itu dikatakan bahwa bangsa Israel terlalu sibuk mengurusi urusannya masing-masing sehingga membiarkan rumah Tuhan terbengkalai tidak terurus. Mereka terlalu sibuk untuk mempercantik rumah sendiri, hingga rumah Tuhan yang sudah menjadi reruntuhan pun tidak lagi mereka pedulikan. Tuhan pun menegur mereka lewat Hagai. “Apakah sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan?” (Hagai 1:4). Tuhan menegur bangsa Israel dengan mencela secara langsung sikap mereka ini. “Oleh karena rumah-Ku yang tetap menjadi reruntuhan, sedang kamu masing-masing sibuk dengan urusan rumahnya sendiri.” (ay 9b). Tuhan tersinggung dan kecewa dengan sikap seperti ini, sehingga tidak heran jika bangsa Israel pada waktu itu tidak diberkati lewat pekerjaan mereka bahkan terus mengalami kerugian. “Kamu menabur banyak, tetapi membawa pulang hasil sedikit; kamu makan, tetapi tidak sampai kenyang; kamu minum, tetapi tidak sampai puas; kamu berpakaian, tetapi badanmu tidak sampai panas; dan orang yang bekerja untuk upah, ia bekerja untuk upah yang ditaruh dalam pundi-pundi yang berlobang! Kamu mengharapkan banyak, tetapi hasilnya sedikit, dan ketika kamu membawanya ke rumah, Aku menghembuskannya.” (ay 6, 9a). Adalah wajar jika Tuhan kecewa dan menegur mereka. Bukankah kebaikan dan kesabaran Tuhan telah menyertai mereka sejak dahulu? Tuhan bukanlah gila perhatian, tetapi Tuhan mau mereka mengerti betul mengenai kasih Tuhan, kebaikan dan kesabaranNya, kesetiaanNya. Tuhan mau mereka bisa menghargai sepenuhnya segala berkat-berkat yang telah Dia alirkan ke tengah-tengah mereka.

Kita begitu sibuk bekerja, berjuang hidup, sehingga kita sering melewatkan waktu-waktu kita untuk mendatangi dan berdiam di hadiratNya. Ada yang bahkan sering terlalu sibuk melayani, tetapi melupakan saat dimana kita duduk berdiam di kakiNya dan merasakan betapa Tuhan begitu dekat dan begitu mengasihi kita. Dalam Perjanjian Baru kita menemukan pula sebuah kisah ketika Yesus berkunjung ke rumah Marta dan Maria. Kunjungan seistimewa ini membuat kedua wanita ini mengambil sikap yang berbeda. Marta sibuk melayani, sedang Maria memilih untuk terus duduk diam di dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataanNya. Marta kemudian mengeluh karena ia melayani sendirian dan meminta Yesus mengingatkan Maria untuk membantunya. Tapi Yesus menjawab: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara,tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” (Lukas 10:41-42). Terlalu sibuk bekerja, bahkan terlalu sibuk melayani bisa membuat kita lupa untuk memilih yang terbaik, yaitu duduk diam di kaki Tuhan, merasakan hadiratNya dan mendengar suaraNya. Lewat Hagai Tuhan menegur agar kita tidak hidup untuk diri sendiri saja, mementingkan diri kita saja, tetapi harus pula memperhatikan rumah Tuhan juga sebagai tanda kasih dan hormat kita kepadaNya. Dalam kisah Yesus bersama Marta dan Maria kita pun bisa melihat bahwa terlalu sibuk bekerja dan melayani meski tujuannya baik pun tidaklah benar jika itu membuat kita jauh dari Tuhan, melupakan dan menomorduakan Dia dalam kehidupan kita sehari-hari.

Jika demikian, adalah penting bagi kita untuk menarik rem sejenak dari kesibukan kita, pekerjaan bahkan pelayanan. Ada saat-saat dimana kita harus berhati-hati agar jangan sampai kesibukan kita membuat hal-hal penting lainnya dalam keseharian kita. Mengurus keluarga, membagi waktu buat istri/suami dan anak-anak serta keluarga lainnya, bersosialisasi dengan tetangga dan teman-teman, kesehatan kita terutama hubungan kita dengan Tuhan. Tidaklah salah jika kita bekerja dengan keras dan serius karena itu memang merupakan keinginan Tuhan atas diri kita, tetapi perhatikan baik-baik agar jangan semua itu merebut hubungan kita dengan sesama terutama dengan Tuhan. Jika anda termasuk orang yang super sibuk seperti saya, ini saatnya bagi kita untuk bersama-sama menelaah kembali sejauh mana kita sudah mengendalikan kesibukan tanpa harus mengorbankan hal-hal penting lainnya. Lihatlah ke sekitar anda, ada keluarga yang tetap butuh perhatian dan kasih sayang, dan ada Tuhan yang tengah menanti anda untuk datang kepadaNya untuk menyatakan kasih kepadaNya.

Kendalikan kesibukan, jangan sampai semua itu mengorbankan keluarga dan Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.