Siapakah Yesus itu bagi Kita? Mrk 8:27-30

< ![endif]-->

“Ada orang yang mengatakan Yesus itu Yohanes Pembaptis, ada juga mengatakan Elia, ada pula yang mengatakan seorang dari para nabi.” Yesus bertanya kepada mereka:”Tetapi katamu, siapakah aku ini?” Maka jawab Petrus: “Engkau adalah Mesias”(Mrk 8:28-29).

BANYAK orang Katolik merasa sudah Katolik karena sudah mengerti Kitab Suci, sudah mendengarkan kotbah setiap hari Minggu atau nemiliki bermacam-macam sertifikat yang menandakan bahwa ia telah mengikuti berbagai kegiatan gerejani.

Namun bukan ini semua tolok ukur kekatolikan kita. Tolok ukur kekatolikan kita terletak dalam sikap dan  pandangan kita terhadap Yesus.

Maka pertanyaan Yesus itu perlu kita jawab: Siapa sebenarnya Yesus itu bagi kita? Siapakah Yesus itu menurut penghayatan kita?

Kalau anak-anak sekolah ditanyai oleh gurunya: Siapakah Yesus itu. Secara spontan muncullah jawaban hafalan, walaupun tanpa disadari artinya: “Yesus itu Anak Allah. Yesus itu Juru Selamat. Yesus itu Anak Bapa. Yesus itu guru dari Nazaret.  Yesus  itu anak Domba Allah”……. dst.

Petrus 2

Tetapi tiba-tiba muncul jawaban lain: “Yesus itu jujungan saya. Yesus itu harapan saya. Yesus itu sahabat saya….Saya mencintai Dia.”

Kita menjadi Katolik bukan karena hafalan, bukan karena ikut-ikutan dengan teman, bukan karena ikut saudara, tetapi karena kesadaran dan keyakinan kita sendiri. Ini sangat penting, karena  iman akan Yesus itu sangat pribadi dan unik.

Kesadaran kita akan panggilan Yesus, jauh dekat kita dengan Yesus tidak bisa digantikan oleh orang lain. Setiap orang betanggung-jawab sendiri-sendiri.

Jawaban Petrus terhadap pertanyaan Yesus itu sungguh menakjubkan” Engkau adalah Mesias.”

Pada saat Petrus menjawab ini ia belum menyadari dan belum memahami apa artinya “Mesias”, sehingga Yesus melarang para murid untuk memberitahukan hal ini, supaya jangan terjadi salah pengertian.

Mengapa? Karena harapan orang Yahudi terhadap Mesias itu lain dengan apa yang  direncanakan oleh Allah. Orang Yahudi mengharapkan Mesias lebih sebagai Raja duniawi yang  memiliki kuasa dan kemuliaan duniawi, sedangkan yang dijelaskan  oleh Yesus yaitu bahwa Mesias itu harus menderita sengsara sebagai tebusan bagi orang banyak.

Kesimpulan: Kita diajak meninggalkan formalisme agama karena yang terjadi masyarakat ialah bahwa banyaknya penganut agama tidak menjaminan adanya perubahan di masyarakat. Dan formalisme agama justru akan menimbulkan banyak pertentangan dan perpecahan.

Sedangkan iman dan penghayatan akan mempersatukan kita.

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.