Siapa yang Bertahta?

Ayat bacaan: 1 Petrus 3:15
==================
“Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan!”

kerajaan hati

Siapa yang bertahta di hati kita? Ini pertanyaan yang mungkin jarang didengar, tapi malam ini pertanyaan tersebut terasa begitu kuat di dalam hati saya. Ada banyak orang yang mengira bahwa menjadi orang percaya artinya hati pun langsung otomatis ikut, padahal pada kenyataannya tidaklah demikian. Meski sudah menerima Yesus, bukan berarti bahwa hati akan seratus persen aman. Idealnya memang seperti itu, sebab dengan menerima Yesus kita sudah menjadi ciptaan baru, dengan hati yang baru, bebas dari kontaminasi-kontaminasi buruk di masa lalu. Namun demikian, ada banyak orang yang kemudian terlena dan terjebak kembali kepada hal-hal buruk. Bisa iblis yang menguasai hati kita baik sadar atau tidak, atau mungkin pula kita sendiri yang menjadi raja di dalam hati kita. Tidak lagi ada tempat bagi Yesus di dalam hati kita, dan jika itu yang terjadi maka kita pun sedang terseret masuk ke dalam bahaya yang bisa berujung pada kematian kekal.

The Kingdom of Myself, The Kingdom of Evil or The Kingdom of God? Mana yang menggambarkan situasi hati kita hari ini? Ketika pertanyaan siapa yang bertahta di hati kita itu saya dengar hari ini dalam hati, maka saya pun ingat akan sebuah ayat yang dengan tegas menyebutkan apa yang seharusnya kita camkan dalam hati kita. Anggaplah diri kita seperti sebuah lembaga kerajaan, maka siapa yang memimpin akan sangat menentukan perjalanan hidup kita. There’s a kingdom of the heart in everyone of us, dan kita harus menentukan siapa yang menjadi pemimpin di dalamnya. Petrus mengatakan sebuah pesan penting yang berbunyi sangat tegas: “Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan!” (1 Petrus 3:15). Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan: “But in your hearts set Christ apart as hold (and acknowledge Him) as Lord.” Ada versi lain pula yang mengatakannya dengan “Sanctify the Lord God in your hearts.” Itu berarti menguduskan, menjadikan dan mendeklariskan atau mendedikasikan Yesus sebagai Penguasa tertinggi dalam hidup kita. Dan Petrus jelas mengatakan bahwa itu semua di mulai dari hati. Hatilah yang menjadi pusat kerajaan, dan siapa yang berkuasa disana akan sangat menentukan siapa dan bagaimana diri kita hari ini.

Alkitab berbicara banyak mengenai pentingnya menjaga hati. Sebuah ayat dalam Amsal yang tidak lagi asing bagi kita berbunyi: “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23). Mengapa hati harus dijaga dengan segala kewaspadaan? Yesus mengatakan alasannya. “sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan.” (Markus 7:21-22). Sebuah daftar yang cukup mengerikan bukan? Dan Dia berkata: “Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.” (ay 23). Jika demikian, adalah sangat penting bagi kita untuk menguduskan hati kita lalu terus mempertahankan dan menjaga kekudusannya. Itu tidak mungkin kita lakukan jika kita membiarkan hal-hal selain Tuhan Yesus untuk menjadi Penguasa di dalamnya. Sebagaimana nasib sebuah negara atau kerajaan akan sangat tergantung dari siapa pemimpin atau rajanya, seperti itu pulalah hidup kita. Dan hati, sebagai pusat dari kehidupan butuh Sosok Pemimpin yang benar, atau semuanya akan hancur sia-sia.

Seruan penting bisa kita peroleh pula lewat Petrus dalam kesempatan sebelumnya. “sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” (1 Petrus 1:16). Hal ini tidaklah main-main. Kita harus mengejar kekudusan, “sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan.” (Ibrani 12:14). Untuk menjadikan Yesus sebagai Raja yang bertahta dalam hati kita, kita harus mematikan segala sesuatu yang bisa merusak atau menggagalkan hal itu. Keinginan daging, hawa nafsu, godaan-godaan, pengaruh-pengaruh buruk dan lain-lain, semua itu haruslah bisa kita matikan. Tanpa itu hati kita tidak akan pernah bisa memperoleh Raja yang tepat. Firman Tuhan berkata “Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu.” (Yakobus 4:10).

Ada banyak hal di dalam diri kita masing-masing yang ingin memegang kendali atas hidup kita. Bisa jadi, Tuhan sudah terpinggirkan sejak lama dalam hati kita, hanya menempati sebagian kecil saja disana, sementara hal-hal lainnya justru lebih berkuasa atas diri kita. Kita mungkin merasa itulah kebebasan, tetapi sesungguhnya sebuah kebebasan sejati hanya akan datang jika kita mengijinkan Yesus sendiri untuk berkuasa atas hati dan hidup kita. Siapa yang menjadi raja atas diri kita hari ini? Mari periksa hati kita masing-masing, dan tetapkanlah dengan benar, karena itu akan sangat menentukan masa depan dan kelangsungan hidup kita.

Hidup yang dipimpin Tuhan akan membawa kita ke dalam jalan keselamatan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: