Setengah Sadar

Ayat bacaan: 1 Korintus 15:34
=======================
“Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi!”

sadar sebaik-baiknya

Ada kalanya saya harus bekerja menyelesaikan deadline hingga larut malam bahkan terkadang sampai subuh dan itu bisa membuat saya kesulitan bangun tepat waktu di pagi hari. Alarm sudah dipasang dan berfungsi sebagaimana mestinya. Saya pun mendengar suara alarm itu ketika mulai berdering. Namun karena masih belum cukup tidur, tubuh dan pikiran saya kerap masih belum sepenuhnya sadar. Maka meski saya terbangun ketika alarm berbunyi, keadaan setengah sadar membuat saya bisa kembali tertidur ditengah dering alarm yang semakin lama terdengar semakin redup suaranya atau malah secara tidak sadar mematikan alarm. Akibatnya saya bisa telat sampai ke tujuan. Atau jika langsung buru-buru bersiap dan berangkat, bisa jadi saya kurang konsentrasi di jalan karena belum sadar betul, dan itu bisa mengundang bahaya baik bagi diri saya sendiri maupun orang lain. Dalam keadaan demikian biasanya saya memilih lebih baik untuk terlambat dan memulihkan kesadaran sepenuhnya terlebih dahulu daripada harus membawa resiko ketika mengemudi dalam keadaan mengantuk.

Setengah sadar bisa mendatangkan banyak resiko. Cobalah menghadapi ujian dalam keadaan seperti itu, kita akan sulit konsentrasi dan bisa gagal lulus. Resiko-resiko yang lebih fatal pun bisa menjadi akibatnya pula. Sebuah kesadaran mutlak diperlukan untuk mencegah kita melakukan hal-hal bodoh yang kelak akan kita sesali. Dalam segala aspek kehidupan kesadaran penuh diperlukan, di dalam kerohanian kita pun demikian. Dalam keadaan sadar kita mungkin bisa membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang benar dan mana yang salah, tetapi dalam keadaan setengah sadar pertimbangan kita bisa menjadi sangat lemah dan kita pun rawan melakukan sesuatu yang salah sehingga terjebak dalam dosa. Seringkali jebakan dosa ini berhasil mengecoh kita bukan karena ketidaktahuan kita, tetapi karena kita lengah dalam mengawasi kesadaran kita sendiri.

Dalam Kolose pasal 2 Paulus menyatakan dengan jelas status kita setelah kita bertobat dan menerima Kristus. “Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa, karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati. Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib.” (Kolose 2:11-14). Seperti itulah keadaan kita setelah bertobat. Kita telah dilahirkan kembali dalam keadaan yang benar-benar bersih dan disiapkan untuk menuju kepada kehidupan kekal setelah fase kita di dunia ini berakhir. Seluruh “surat hutang” atau “surat dakwaan” telah dihapuskan lewat karya penebusan Yesus di atas kayu salib. Singkatnya, kita telah diampuni dan bersih sepenuhnya. Menjaga diri kita agar tetap bersih menjadi tugas kita selanjutnya. Dan seberapa jauh kesadaran kita akan sangat menentukan hasil akhirnya.

Karena itulah Paulus dengan jelas mengingatkan kita agar tidak terbuai dan lengah terhadap kesadaran. “Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi!” (1 Korintus 15:34). Sadarlah kembali, dan sadarlah benar-benar, jangan setengah-setengah. Itu kata Paulus, dan itulah yang bisa membuat kita awas akan jebakan-jebakan iblis agar kita kembali tercemar oleh berbagai dosa. Menjaga kesadaran sebaik-baiknya merupakan tugas yang sangat penting untuk kita ingat setiap hari. Mengapa? Karena hari ini, besok dan seterusnya, iblis akan terus berusaha tanpa lelah untuk menipu dan menjebak kita. Dia akan terus berusaha agar kita kembali menjadi hamba dosa. Tetapi iblis tidak akan sanggup berbuat apa-apa jika kita tetap berada dalam kondisi sadar penuh setiap hari, termasuk di dalamnya sadar sepenuhnya mengenai status atau jati diri kita sebenarnya di dalam Kristus seperti yang telah dinyatakan dalam rangkaian ayat 1 Korintus di atas. Yesus pun pernah beberapa kali mengatakan “jangan berbuat dosa lagi” secara langsung seperti dalam kisah “perempuan yang berzinah” (Yohanes 7:53-8:11). Ketika perempuan yang berzinah itu hampir dihakimi oleh para ahli Taurat dan orang Farisi dengan hukuman dirajam sampai mati akibat kesalahannya, Yesus datang memberikan pengampunan. Satu pesan yang disampaikan Yesus kepadanya: “..jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” (8:11). Lalu pada kesempatan lain kita bisa mendapatkan pesan yang sama dengan sebuah tambahan dari Yesus, yaitu dalam kisah kesembuhan seorang yang sakit di kolam Betesda. (Yohanes 5:1-18). Kepada orang yang disembuhkan, Yesus berpesan hal yang sama: “Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi. Mengapa? “supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk.” (ay 14). Dosa yang dilakukan berulang-ulang bisa membawa akibat yang semakin buruk. Begitulah berat resikonya apabila kita terus bermain-main dengan dosa. Oleh karena itulah kita harus mengingat betul pesan Paulus agar kita benar-benar memperhatikan kesadaran kita sebaik-baiknya.

Kesadaran yang sepenuhnya sangatlah penting dalam menentukan apakah kita bisa menjaga kekudusan diri kita atau tidak. Apabila kita tahu apa yang salah namun kita terus melakukannya karena kita tidak serius dalam menjaga kesadaran, maka yang terjadi bisa lebih buruk dari yang kita duga, dari yang sebelumnya. Tidaklah cukup bagi kita untuk sekedar mengetahui mana yang baik dan buruk tanpa benar-benar menjaga kesadaran kita secara baik. Jika itu kita lakukan, itu hanya akan memperburuk status kita dan dengan sendirinya kita tengah mengeluarkan diri kita dari jalan keselamatan yang sudah dibukakan Kristus untuk kita. Kelengahan akan selalu menjadi celah yang lezat buat iblis untuk kembali menancapkan kukunya atas diri kita. Maka dari itu, pastikan diri kita untuk sadar sebaik-baiknya setiap saat agar kita terhindar dari godaan untuk berbuat dosa lagi.

Tuhan telah mengampuni dan mentahirkan, tugas kita untuk menjaga dengan kesadaran yang sebaik-baiknya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: