Setan itu Seperti Wanita?

SEJAK kecil kita sudah mendengar yang namanya setan dan diyakin bahwa makhluk jahat itu ada. Kita diberi gambaran bahwa bahwa setan itu bertubuh seperti manusia, bertanduk tajam, bermata merah dan masih banyak gambaran lain lagi yang menyeramkan.

Gambaran semacam itu dimaksudkan agar kita takut dan tidak mengikuti bujukan setan. Gambaran lain yang ngetren (atau latah?) ada dalam film-film TV kita, Indonesia. Ia gentayangan. Walaupun gambaran-gambaran di film maksudnya lain lagi, demi bisnis. Maka makin seram, makin aneh dan tak masuk akal, makin laku. Barangkali yang seperti itulah yang  dianggap mendekati kebenaran. Maklum, penonton TV kita masih dalam level seperti itu. Belum berpikir, belum kritis, tak pernah mempertanyakan. Hanya menelan begitu saja apa yang ditayangkan. Benarkah setan seperti itu? Terserah Anda.

Tetapi satu hal pasti. Buat kita setan seperti gambaran tersebut tidak penting. Setan seperti itu  tidak relevan buat kita yang hidup di jaman ini. Sebab kalau benar setan itu bertanduk, atau berjubah putih bermata merah pastilah setan-setan itu tak akan “menarik” para perampok, koruptor, pembunuh. Mereka tak akan punya kekuatan untuk menggodai atau menyeret kita. Jadi setan yang seperti itu tidak berbahaya untuk hidup kita. Yang berbahaya adalah setan-setan yang ‘bertubuh’ (kalau punya?) mempesona, lembut menggiurkan sekaligus siap menghancurkan.

Di rumah
Kita banyak diajari bahwa setan itu nakutin. Ia hadir dalam rupa hantu: glundhung pringis. Tetapi kita jarang, atau tak pernah diajari bahwa setan yang lebih berbahaya adalah setan yang wujudnya lain sama sekali: harta kekayaan, kenyamanan, rasa malas, iri hati, sombong, mau menang sendiri dll. Banyak keluarga berantakan hanya karena masahal harta. Bahkan rasa iri antara adik kakak pun  menjadi setan yang menghancurkan persaudaraan dalam keluarga.

Di sekolah
Kita tak pernah mendapat pelajaran apa ciri-ciri setan yang berbahaya itu. Maka jangan heran kalau guru, kepala sekolah, bahkan lulusan  S3 atau profesor sekali pun tetap mudah tertipu setan. Ketika murid-murid kita tak lagi punya etika atau rasa kemanusiaan tak ada pendidik yang cemas dan prihatin. Setan apa yang membawa orang ke bisnis jual beli nilai ujian, ijazah bahkan titel itu? Tidak malu memakai titel Dr, tetapi tak tahu apa itu tesis. Setan yang mana yang meninabobokan pelaku bisnis napza/narkotika memakan habis generasi muda? Dan orang muda malah kesetanan mengejar napza, apa karena tanduknya atau karena apanya?

Di kantor
Di ruang bos tiap malam Jumat ada gadis cantik mengetik. Itulah setan yang dikenal seluruh karyawan. Apakah setan yang membuat para pelaku bisnis tak pernah membayar listrik, telepon, pajak demi keadilan juga dikenali? Membayar pegawai berwenang untuk menghalalkan korupsi, tak pernah dikenal sebagai setan kelihatan. Kalau di kantor terjadi jegal-jegalan, ganjal-mengganjal, jual beli  posisi basah, apa di sana dianggap ada setan? Atau kita sendiri termasuk salah satu setan itu? Anda pasti tahu kok.

Dalam agama
Setan dikotbahkan di mana-mana. Tetapi gosip yang paling spektakuler dilakukan oleh dan tentang para pemuka agama serta jemaat yang mengaku paling taat, tak pernah diakui  sebagai karya setan. Gosip paling mematikan atau ajaran menyesatkan penuh simbul kesucian, tapi melawan kasih kemanusiaan, tentu  tak dianggap sebagai   ulah setan yang dikotbahkan; maka aman-aman saja untuk diteruskan, bukan? Mana yang setan dan mana yang Tuhan? Lihatlah akibatnya pada tata hidup bersama, barangkali akan  menjadi jelas bahwa setan sering dianggap tuhan.

Di masyarakat
Setan dikenal di dalam cerita seru  menghebohkan. Tetapi apa  putusan, tindakan, kebijakan yang a-manusiawi, yang menyengsarakan rakyat kecil itu bukan ditunggangi setan? Siapakah yang sanggup menangkap, mengusir setan beneran yang diam dalam diri para koruptor? Kapan ada lomba memburu setan pembunuh pejuang kemanusiaan, pejuang keadilan seperti Munir misalnya?  Setan mana menawan hati pengebom orang-orang tak bersalah dan dampaknya mematikan sumber rejeki seantero negeri? Atau tuhankah yang berbuat demikian? Tak ada teologi yang dapat menjelaskan bahwa itu tindakan Tuhan.

Seorang suci pernah berkata bahwa setan itu seperti wanita. Artinya makin kita lemah dalam melawannya, makin dia menguasai kita. Tetapi berapa orang yang sadar bahwa setan dapat berujud wanita cantik atau harta melimpah atau kuasa atau bahkan ajaran (agama) yang menjanjikan? Semoga kita tak termasuk salah satu setan itu!

5 pencarian oleh pembaca:

  1. rupa setan
Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.