Sesudah Soegija (1)

MALAM itu, selepas nonton film Soegija, dada saya tidak sesak, tetapi kepala pening mengurai tanda-tanda. Kalau ada yang bilang ini adalah film Garin yang ceritanya paling mudah dipahami, itu bohong. Kalau ada yang bilang kalau film ini gampang dinikmati, dia bohong, atau pura-pura tidak tahu atau sopan santun normatif.

Pertama karena film ini erat terkait dengan agama tertentu (katolik) yang jelas cukup merikuhkan publik kebanyakan untuk mengkritiknya (apalagi kalau juga komentatornya juga katolik yang santun). Kedua  karena Garin terlanjur terlalu besar untuk dipertanyakan. Tetapi sudahlah, saya hanya ingin membuat catatan pendek dan sederhana tentang film ini.

Saya keluar dari studio dengan campur aduk. Yang pertama-tama adalah semacam umpatan, betapa Garin dan teman-teman tidak mau memuaskan saya dengan nafsu-nafsu sentimentil apa pun. Saya tidak diizinkan marah, saya tidak diizinkan menangis. Tidak ada yang dibiarkan klimaks. Ya, setiap emosi mulai agak naik segera dihabisi dengan adegan demi adegan yang lain.

Sangat kejam, sejenis disiplin dingin yang lahir dari pemahaman misterius mentor yang terlatih. Apakah ini ciri khas katolik, ala tasawuf teman-teman NU, atau dinginnya Garin sebagai mahaguru persilatan audiovisual, saya tidak tahu. Maka kalau ada yang sedikit kecewa setelah melihat film ini, itu wajar. Karena film ini tidak memanjakan penonton dengan alur emosional dan narasi yang rapi tertata, tidak juga dengan kisah-kisah besar yang mudah dilekatmanjai oleh kesadaran penonton.

Film ini juga bukan realitas selapis yang mudah dikupas, Kita berhadapan dengan lapisan-lapisan simbolik yang tak bisa terurai tanpa pisau tajam analisa. Ini adalah sebuah film yang menuntut dan menantang, yang tidak akan membiarkan penonton pulang tanpa tanda tanya yang harus dijawab dan diolahnya sendiri. Yang jelas, seakan niat menghibur teman-teman lintas iman yang nonton bersama pun sepertinya tidak kesampaian, saya lebih merasa diajak ikut latihan silat, lengkap dengan kutipan-kutipan misteriusnya.

Film ini katolik tetapi juga tidak katolik: ada begitu banyak simbol katolik dipergunakan, tetapi ia tidak bermakna apa-apa dalam kisahnya. Film ini berjudul biografi seseorang, tetapi kita tidak menemukan kisahnya. Film ini tentang masa lalu, tetapi ia lebih banyak berbicara tentang kekinian. Film ini tentang tokoh utama yang berwajah sangat serius, tetapi sebagian kemunculannya justru tidak pernah serius. Ini film tentang peperangan tetapi hemat darah dan dipenuhi anak-anak yang penuh canda.

Jadi mas Garin, ini film tentang apa? Kecurigaan saya, memang sangat disengaja-terencana-sistematis kepada kita dilemparkan sebuah tanda tanya. Semuanya sengaja tidak dibiarkan tuntas.

Maka mengolah gelisah, saya dan sobat saya berdiskusi di teras rumah di remang malam di sudut selatan kota. Berbincang mencoba mengurai lapisan demi lapisan, yang disembunyikan mas Garin dan teman-teman, atau juga lapisan yang tak sengaja tercipta lantaran dinamika kisah, emosi, suara, dan rupa yang berguliran sepanjang film.

Saya lupa untuk menghitung berapa jumlah lagu katolik dipergunakan di dalamnya. Tetapi lagu Ndherek Dewi Mariyah jelas tidak terlupa. Tetapi entah mengapa nuansa katolik tidak sedemikian terasa di dalamnya, saya justru merasakan aroma kerumitan semiotika. Maka tuduhan miring bahwa ini film katolik yang bertujuan kristenisasi itu jelas keliru, jangankan mereka yang bukan katolik, saya yang merasa diri agak katolik, dan berharap bisa menjadi lebih katolik setelah menonton film ini (ciee….) pun ternyata tidak kesampaian. Bukan, sama sekali bukan, ini bukan film katolik. Ini film tentang kemanusiaan, bukan dari kacamata romantis-sentimental, tetapi kemanusiaan sebagai filosofi kehidupan.

Film ini berjudul Soegija, seorang uskup pribumi pertama, tetapi kita menemukan sang tokoh utama hanya menjadi bingkai dari dinamika batin beberapa kisah kecil yang terajut di dalamnya. Soegija adalah bingkai pokok kepemimpinan moral dan politis, dirajut dalam narasi historis oleh penyiar RRI (mas Margono, penyiar Jawa favorit saya). Di dalamnya, di dalam skenario Soegija (sebagai film) kita menemukan sosok-sosok kecil yang mengisi Soegija sebagai ideal moral.

Dengan jenius, Garin menyalin dan menulis rakyat jelata yang ada di hati Soegija-historis melalui sosok-sosok tokoh rekaan dalam Soegija-film. Jadilah kita bertemu Mariyem, Ling Ling, remaja kampung pejuang, Robert sang komandan tentara Belanda, Hendrick wartawan Belanda, pejuang kampung yang lugu dan anak kuncung yang terdidik, tentara Jepang, dan lain-lain. Pada level ini, tidak ada yang protagonis, tidak ada yang antagonis. Semua adalah peziarah pergulatan hidupnya masing-masing. Meniru kata-kata Soegija: di rumah sakit ini, semua adalah pasien.

Film ini berjudul biografi sesorang, tetapi kita tidak menemukan kisahnya. Bagi teman bincang saya malam ini, seorang pemikir muda muslim, pertanyaan-pertanyan besar tentang biografi Sugiyo itu tidak terjawab. Teman saya datang membawa pertanyaan-pertanyaan besar, tetapi Garin menyediakan jawaban-jawaban kecil.

Bagaimana Romo Kanjeng berdiplomasi dengan Vatikan, kesibukan menulis surat-surat, diplomasi, dan sebagainya. Bagaimana Bapa Uskup intensif berkirim surat ke Negeri Belanda, khususnya ke Partai Katolk Belanda untuk menekan pemerintah RI, atau menulis ke media AS untuk meraih dukungan publik dalam negeri AS.

Teman saya jelas juga tidak sempat bertemu dengan pemuda Moenajat yang mewakili Romo Kanjeng dalam perundingan Konferensi Meja Bundar atau bagaimana Romo Kanjeng berkelana dari desa ke desa dengan dokarnya. Ini adalah sebuah film, yang judulnya jelas biografis dan tentu juga historis, tetapi isinya lebih banyak berbicara biografi batin sang tokoh dan sejarah tercecer orang-orang di dalamnya. Ini adalah sebuah film, yang tidak mengumbar informasi historis sang tokoh, tetapi sarat informasi moral sang tokoh utama Soegija (juga tentu penulis naskahnya hahaha ) melalui tokoh-tokoh di dalamnya.

Film ini tentang masa lalu tetapi ia lebih banyak berbicara tentang kekinian. Masa lalu di dalam film ini bukanlah masa lalu. Ia adalah masa kini yang diproyeksikan ke kelampauan. Maka film ini dipadati dengan isu-isu kekinian : keberagaman lewat pengkisahan lintas bangsa, karakter penguasa politik, dan seterusnya. Dan inilah yang sesungguhnya terjadi, kita –bangsa ini- memang sedang sibuk mencari dengan penuh kerinduan dan kepedihan jejak-jejak keutuhan dan kebajikan di masa lalu.

Film ini ada pada kolom jawaban, jawaban dari pertanyaan dan kerinduan-kerinduan besar negeri ini akan sosok pahlawan, akan nilai-nilai agung kehidupan: Laskar Pelangi, Sang Pencerah, Tanda Tanya, dan lain-lain. (Bersambung)

Link: http://politik.kompasiana.com/2012/06/09/sesudah-soegija/

Photo credit: Puskat Pictures

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.