Seruling Pluralisme dari Lereng Gunung Muria

kongres persaudaraan sejati lintas iman 1

KAWAN, mari kita terbuka dengan orang yang beda agama
Kawan mari kita menghormat orang-orang yang beda pendapat
Ada Islam Allahhu Akbar
Ada Buddha Amitaba
Ada Kristen Alleluia
Ada Hindu Om Shanti-shanti
Ada Konghucu Hongcu-hongcu
Semua jadi saudaraku

Lagu berjudul Mari Terbuka di atas akrab di telinga pelajar Yayasan Kanisus Cabang Semarang. Lirik sederhana namun penuh makna itu termuat dalam salah satu sub tema pembelajaran mata pelajaran Religiositas.

Buku Religiositas diolah dan dikerjakan bersama para tokoh lintas agama. Mereka antara lain KH Abdul Muhaimin (Ponpes Nurul Ummahat Kotagede Yogyakarta), Pdt. Bambang Subagya S. Th (GKJ Ambarukmo Yogyakarta), Romo Ant. Dodit Haryono Pr (Gereja Hati Kudus Pugeran Yogyakarta), Drs. Ida Bagus Pudja (Pengawas Pendidikan Agama Hindhu Kanwil DIY), Haksu Tjhie Tjay Ing (Kaderoh Matakin Jl. Jagalan 15 Solo), serta Pdt. Hening Prajnadewi (Lembaga Budhis Center Jakarta).

Materi pembelajaran Pendidikan Religiositas tidak hanya berkutat membahas hubungan antara manusia dengan Tuhan saja. Namun lebih dari itu juga mengupas permasalahan anak manusia pada umumnya. Mulai manusia sebagai makhluk sosial, hubungan dengan lawan jenis, hubungan manusia dengan alam lingkungan, sampai manusia berhadapan dengan hukum agama.

Prinsipnya, cintailah Tuhanmu sesuai agamamu.

Keinginan Rumah Khalwat-Balai Budaya di Rejosari (RK-BBR) menjadi seruling pluralisme di Pantura dengan mengedepankan dialog budaya, dialog agama dan dialog kemiskinan bisa berjalan lancar jika berani membuang ego sebagai yang terbaik. Saling mendengarkan satu sama lain menjadi salah satu kunci keberhasilan RK-BBR. (Baca juga:  Di Balai Budaya Rejosari (BBR), Anak-anak Bermain dan Belajar Mengenal Tanaman) dan  Sarasehan Budaya di Balai Budaya Rejosari: Pranata Adicara Menata Kehidupan (1)

Budaya
Menurut Wikipedia, budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Kata Dosen STAIN Kudus Moch Rosyid, bicara Pantura tentu tidak lepas dari pengaruh budaya ‘kudusan’ yang bercirikan budaya kretek.

Industri rokok kretek memberi pengaruh signifikan terhadap laju ekonomi Kudus yang juga mendongkrak perekonomian wilayah Eks Karesidenan Pati termasuk Demak.

Rosyid salah sosok peneliti warga Samin menambahkan, budaya kretek bisa diartikan sebagai cara pandang bersama masyarakat Kudus melihat industri kretek bukan sekadar urusan ekonomi semata namun menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan bermasyarakat. Intinya budaya kretek bukan urusan merokok atau tidak, tapi memelihara kretek itu sendiri sebagai identitas diri wong (orang) Kudus.

Ditambahkan budaya kretek lebih mudah digambarkan lewat tetembangan seperti tembang kinanthi Kutha Kretek seperti yang sering disajikan kepada tamu dari luar Kudus. (Baca juga: Sarasehan Budaya di Balai Budaya Rejosari: Mengikis Budaya Pengkotak-kotakan (2)

Kutho kretek kutho Kudus
Kawentar ing manca nagri
Njero kutho tekan ndeso
Sepuh anem datan keli
Rokok kretek wis kuncoro
Dadi cagak ekonomi
Nika warna wujudipun
Kretek misuwur wis mesti
Wiwit rokok klobot eco
Kretek filter nikmat yekti
Djarum Sukun Nojorono Djambu Bol lan liya ugi

“Lirik tembang kinanthi Kutha Kretek itu menggambarkan keuletan masyarakat Kudus menggeluti industri rokok kretek. Mulai rokok klobot sampai kretek filter berasa ‘nikmat yekti’ yang kemudian menjadi tumpuan utama ekonomi masyarakat setempat. Nah cara pengembangan budaya kretek ini perlu ditiru RK-BBR,“ kata penulis buku Esai-Esai Toleransi ini menambahkan.

Budaya pluralisme dari kaca mata Rosyid bertujuan membentuk masyarakat yang terbuka, guyub, damai penuh cinta kasih persaudaraan, dan dinamis. Tentu saja hal tersebut sangat dirindukan oleh setiap orang dari berbagai latar belakang budaya dan agama.

“Kondisi ini cocok dengan situasi Tanah Air yang pluralis. Persoalan utama bagaimana kita mengadakan pendekatan tanpa menimbulkan rasa curiga,” tambah Rosyid yang saat ini tengah getol meneliti Ahmadiyah di daerah Colo, Dawe.

Diusulkan Rosyid, supaya RK-BBR lebih diterima masyarakat luas maka Balai Budaya Rejosari itu jadi pusat ajang perlombaan yang melibatkan anak sekolah dengan latar belakang industri rokok kretek sebagai soko gurunya. Misalkan lomba melinting, nyontong, dan ngeslop rokok kretek, atau membuat rokok klobot, dan klembak menyan.

Agama
Sementara pimpinan pondok pesantren Darul Falah Jekulo, Kudus Muhamad Alamul Yaqin mengakui dialog antarumat sangat penting. Namun semua harus dilakukan perlahan dan jangan sampai niat baik malah jadi bumerang. Gus Muh -panggilan akrab Muh Alamul Yaqin-punya pengalaman menarik ketika jadi salah satu pembicara rekoleksi siswa SMP Kanisius Kudus.

“Anak-anak sangat antusias ketika saya mengupas soal puasa umat Islam. Banyak pertanyaan diajukan hal itu membuktikan siswa SMP Kanisius sudah siap menerima masukan dari orang
lain agama,” kata Gus Muh.

Diakui sampai saat ini pondok pimpinannya belum berani mengupas persoalan agama dengan penganut agama lain. “Bisa jadi anak-anak kami bengong malah bingung. Semua harus dilakukan seksama dan terencana supaya tujuan mulia bisa diterima semua pihak tanpa
menimbulkan gejolak,” papar Gus Muh.

Menurut Yohanes Suparmin seorang penggiat pluralisme di Sinode GKMI, semangat pluralisme dipupuk dan dikembangkan disesuaikan tingkatan umur. Kebersamaan bisa dilakukan melalui beraneka rupa termasuk model pembelajaran ilmu pengetahuan. Suparmin menyodorkan pembentukan klub astronomi sebagai salah cara merekatkan hubungan antarpelajar dari berbagai macam penganut agama dan kepercayaan.

Klub astronomi ini berlindung dibawah bimbingan tim ahli Badan Hisab Rukyat (BHR) Kementerian Agama Daerah setempat. “Harga teropong bintang sangat mahal mencapai ratusan juta rupiah. Sehingga kita harus berhubungan erat dengan pondok pesantren serta Kemenag,” tambah Suparmin.

Kata Suparmin ada tiga manfaat pembentukan klub astronomi.

  • Pertama sebagai pengembangan Kurikulum 2013 yang tengah gencar digalakkan pemerintah. Selama ini ilmu perbintangan hanya selintas dipelajari di mata pelajaran IPS dan IPA terpadu.
  • Kedua, lebih mengoptimalkan fungsi dan kegunaan peralatan astronomi yang harganya bisa mencapai ratusan juta rupiah. Selama ini peralatan yang mahal harganya ini hanya dipunyai instansi resmi pemerintah seperti Badan Hisab Rukyat Kabupaten atau Provinsi serta pondok pesantren yang mengembangkan ilmu falak.
  • Manfaat ketiga, meningkatkan kecintaan astronomi di kalangan masyarakat luas terutama pelajar sekolah. Astronomi sebagai ilmu pengetahuan kuno hanya terbatas ditindaklanjuti dan dipelajari mendalam kalangan tertentu saja utamanya terkait masalah keagamaan seperti melihat peristiwa hilal untuk menentukan jatuhnya 1 Ramadhan dan Idul Fitri.

Miskin
Sementara Hasan Aoni Azis alumnus IAIN Walisongo Semarang jurusan Dakwah menyoroti aset bangsa yang putus sekolah karena berbagai sebab. Kata Hasan miskin sebagai penyebab putus sekolah jangan dipandang miskin harta saja, namun bisa akibat miskin kasih sayang, atau miskin kesempatan.

Ketiga hal kemiskinan tadi-harta, kasih sayang dan kesempatan-saling terpaut satu sama lain. Keberadaan RK-BBR, kata Hasan harus berada di garda depan ikut mencerdaskan kehidupan berbangsa, dan bernegara serta selalu dekat dengan kalangan lapisan bawah. Nilai-nilai kemanusiaan yang jadi andalan lembaga pendidikan yang mampu bertahan puluhan tahun tereduksi berbagai masalah antara lain cara pikir, politik pendidikan, manajemen, sumber keuangan serta kependudukan, harus bisa ditiru RK-BBR. (Baca juga: Jadilah Penulis Muda Pantura)

Mengutip pendapat Suharyadi dan Sumarto (2001), ujar Hasan, orang dengan tingkat pendidikan lebih tinggi punya peluang lebih baik mendapatkan pekerjaan dengan gaji lebih tinggi.

“Guna meningkatkan taraf hidup perekonomian kaum miskin, kali pertama yang harus dilakukan adalah memberi kesempatan mereka belajar seluas mungkin. Peningkatan kualitas pendidikan pada akhirnya akan memberi peluang lebih baik kepada kaum miskin untuk meningkatkan taraf kehidupan,” kata Hasan yang kini tengah merintis sekolah dongeng di daerah Purworejo, Bae.

Konsep subsidi silang dimana keluarga mampu diberi beban lebih banyak dibanding keluarga kurang mampu, harus menjadi sikap dasar RK-BBR. Subsisi silang mencerminkan kehidupan guyub, saling toleransi, dan gotong royong sebagai sebuah refleksi keimanan seseorang.

Dalam nota pastoral KWI 2004 disebutkan, bagi gereja semua dukungan keuangan membantu keluarga miskin dipandang sebagai pewartaan Allah yang penuh kerahiman. Dimana uang tidak dipakai kepentingan sendiri tetapi digunakan dalam fungsi sosial yaitu dilaksanakan secara gesit dan tangkas sesuai semangat solidaritas kemanusiaan. (Baca juga: Deklarasi Muntilan 2014: Mewujudkan Mimpi Persaudaraan Sejati Lintas Iman)

Dalam pandangan Mgr. I Suharyo (2000), karya pendidikan merupakan mediasi perwujudan iman dan menjadi motor penggerak perubahan sosial. Inti pendidikan adalah memberi peserta didik sebuah bingkai kaca mata untuk melihat realitas kehidupan yang amat kompleks

Bagaimanapun memberi ruang gerak kaum muda terutama pelajar akan bermanfaat untuk kehidupan masa depan bangsa dan bernegara. Semoga RK-BBR ke depan menjadi seruling pluralisme di Pantura. Kelak pemimpin bangsa kita adalah anak-anak itu sendiri.

Mantan Rektor Undip Semarang alm. Eko Budihardjo pada lokakarya Forum Ilmiah Guru (FIG) Provinsi Jawa Tengah (Kompas Jateng, 13/11-2008), mengatakan “Bila siswa saling mencintai, ketika dia menjadi pemimpin juga menumbuhkan sikap saling menyayangi antarsesama, baik segi pekerjaan, usaha, maupun kehidupan politik”.

Kredit foto: Ilustrasi Kongres Persaudaraan Sejati Lintas Iman di Muntilan, Oktober 2014 (Dok. Komisi HAK KAS)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.