Serba Cepat dan Mahal di Hobart, Tasmania (14)

< ![endif]-->

DI Pulau Tasmania, nyaris semua hal bisa dibilang mahal untuk ukuran kantong turis backpack asal Indonesia. Dengan nilai kurs rupiah terhadap dolar Australia (AUD) bergerak pada kisaran Rp 9.000 hingga nyaris tembus pada angka Rp 10.000 per 1AUD, maka hidup sebentar saja di Tasmania sudah akan sangat menguras kantong.

Begitu keluar dari Bandara Hobart menuju city –jantung kota Ibukota Negara Bagian Tasmania—para turis sudah disodori dua moda transportasi yang menghubungkan bandara dengan city. Mau taksi dengan hitungan argo atau dengan shuttle bus? Tentu saja, opsi kedua yang kami anggap jauh lebih murah menjadi pilihan kami.

Memanglah, untuk menuju sebuah tempat penginapan yang sebelumnya telah kami pesan melalui internet, moda transportasi shuttle bus ini menyediakan jasa layanan serba cepat. Tinggal saja menunjukkan print-out bukti booking hotel/hostel, maka sopir shuttle bus itu akan segera memberitahu ongkos jasa transportasinya menuju ke sana.

Sistem transportasi di Hobart dengan shuttle bus dari bandara hanya mengenal satu kata: jauh-dekat harganya sama. Untuk sekali jalan, tiketnya kena bayar AUD17. Bila memilih tiket return alias pergi-pulang bolak-balik maka tiketnya kena harga AUD30.

Hobart Shuttle Bus 1

Untuk destinasi tak lebih dari 20 km, tentu saja harga tiket sebesar AUD 17 atau katakanlah setara dengan Rp 160.000 sekali jalan untuk satu orang tentu saja sangat mahal. Bagaimana kalau harus menempuh jarak lebih jauh lagi? Tentunya akan jauh menguras isi dompet.

Hanya untuk 1 orang

Hari-hari menjelang datangnya Tahun Baru 2014, kawasan hunian di Hobart sangat penuh. Banyak hotel, hostel dan backpack accomodations sudah fully booked jauh-jauh hari sebelum Christmas Season tiba. Sebulan sebelum berangkat ke Hobart, kami sudah confirmed akan tinggal beberapa hari di sebuah hostel di jantung kota Hobart. Harga per kamar sehari kena AUD100 untuk tipe kamar single.Hobart shuttle bus 2

Baru tiga hari menjelang keberangkatan kami ke Hobart, tiba-tiba kami dibuat sadar bahwa dalam terms and conditions yang tertulis di brosur resmi hotel tersebut menyebutkan satu hal yang tidak biasa. Lazimnya di banyak hotel/hostel di Indonesia, meski menyebutkan tipe kamar single, namun toh bed-nya boleh dibilang besar dan cukup untuk dua orang.

Hotel dimana kami akan menginap ini ternyata punya ‘aturan’ berbeda. Single room berarti ya hanya untuk satu orang manusia saja. Kalau berdua, ya harus ambil dua kamar tipe sama. Itu berarti harus bayar AUD200. Kalau dimatauangkan dengan rupiah, maka dalam sehari kami berdua sudah harus membayar lebih dari Rp 1,7 juta hanya untuk urusan meluruskan punggung dari kepenatan dan mengistirahatkan otak untuk tidur.

Untung saja, kami membaca lebih teliti poin penting dalam terms and conditions ini. Karenanya kami segera membatalkan pemesanan kamar di hotel tersebut dan mencari peluang kamar di tempat hotel yang lain.

Tinggal satu kamar

Karena hari-hari menjelang tutup tahun 2013 semakin dekat dan dalam tiga hari ke depan kami sudah harus berangkat ke Hobart, maka tiada lain booking hotel alternatif harus segera dilakukan. Tidak ada banyak pilihan tersedia di sini, karena semua hotel/hostel dan apalagi backpack accomodations sudah penuh untuk jadwal kedatangan tanggal 27 Desember 2013 hingga 2 Januari 2014.

Hobart dock malam hari

Ini baru yang namanya keberuntungan. Saat melihat sebuah website penginapan di Hobart, perhatian kami tertuju pada sebuah hotel dengan nama yang agak aneh. Semula, saya tak begitu perhatian dengan situs ini, namun setelah hampir 20 menit tidak menemukan satu peluang apa pun di banyak hotel dengan kondisi murah meriah, maka situs hotel dengan nama kurang lazim itu pun kami pilih.

Dan, tinggal 1 kamar boleh diisi berdua untuk satu malam itu saja. Di sini harus harus merogoh kocek sebesar AUD120 atau kurang lebih Rp 1,1 juta. Sangat mahal untuk ukuran turis kelas backpack seperti saya. Tapi di Hobart, Pulau Tasmania, dimana menjadi hari-hari ramai menjelang tutup tahun, harga segitu bisa dibilang murah kalau harus menebus kamar di hotel-hotel berbintang dengan harga berlipat ganda.

Kami sampai di hotel ini sudah pukul 20.30 waktu setempat atau pukul 16.30 WIB. Ada perbedaan waktu selisih 4 jam lebih awal di Hobart dengan waktu lokal di wilayah Indonesian Bagian Barat.

Kamar hotel ini kecil. Namun ada 1 bed bisa diisi berdua dan satu bed kecil untuk 1 ‘penumpang tidur’ yang lain. Itu berarti, kamar ini sejatinya boleh diisi tiga orang.

Namun logika logis di benak kami mengatakan, sebenarnya kami harusnya mengisi kamar hanya untuk dua orang saja. Namun, karena banyaknya tamu dan kami hanya bermalam 1 hari saja, maka satu kamar yang tersisa dengan kapasitas 3 orang itu pun diberikan kepada kami.

Pho ala Vietnam

Tidak banyak resto murah di jalanan di jantung Ibukota Tasmania ini. Untuk keperluan mengisi perut di waktu menjelang tengah malam ini, tidak ada jalan lain kecuali mencoba keberuntungan mencari food court di kawasan Salamanca Market di tepian dock pelabuhan wisata di Hobart.

Ternyata di kawasan yang ramai ini tidak ada resto kelas warungan. Yang ada adalah resto berkelas model kafe yang tentu saja mematok harga mahal untuk menu makanan ringan di waktu malam. Hampir 1 jam kami berkeliling kawasan ini dan tanya sana-sini apakah ada resto menu chinese food, ternyata jawaban semua orang sama: “Sorry, no idea!”

Di tengah dinginnya malam di Hobart karena hembusan angin laut yang dingin serta rasa sedikit ‘frustrasi’ karena tidak bisa mendapatkan makanan hangat berkuah, tiba-tiba saja Tuhan menunjukkan sesuatu yang indah di mata kami.

“Mukjizat” perjalanan memang tidak pernah terduga sebelumnya.

Mata saya terpaku pada sebuah toko permanen dimana menyediakan aneka jenis minuman dan es krim. Mosok to malam-malam hari yang dingin di Hobart dimana perut kosong minta jatah makan kok malah mau makan es krim?

Saya menghibur diri dengan memotret perempuan cantik yang lewat di depan mata. Jepret….dan teman saya menengok ke sebelah kiri arah belakang. Persis di depan toko yang tadi menurut mata saya ‘hanya’ menjual minuman dan es krim itu ada papan kecil bertuliskan: Vietnamese cuisine!

Eureka! Ternyata, malam itu Tuhan berbaik hati kepada kami: Dia menunjukkan dimana lokasi sebuah resto Asia untuk mengobati kerinduan lidah kami menikmati menu makanan Asia. Dan Vietnamese cuisine adalah opsi yang menyenangkan karena kami sudah telanjur menyenangi pho. Itu loh, bakmi khas Vietnam dengan tambahan aroma dedaunan mirip-mirip kemangi.

Namun jangan tanya harganya. Untuk semangkok kecil saja, pho Vietnamese di Hobart ini sudah kena patok harga sebesar AUD13. Porsinya sangat kecil dan rasanya tidak seenak pho yang pernah kami rasakan baik di Saigon (Ho Chi Minh City) maupun di Hanoi. Bahkan dengan warung pho di Burke Street di Melbourne pun, pho di tepian Salamanca Market ini jelas kurang pamor.

Selain sedikit dan rasanya kurang jos, harganya pun selangit untuk ukurannya. Tapi ya sudahlah, memang tidak ada opsi lain selain harus membayar sebesar itu. Apalagi ini Hobart of Tasmania, kawasan wisata adem dan asri yang menjadi tujuan penting wisata di luar mainland Benua Kangguru.

Photo: Hobart of Tasmania (Mathias Hariyadi)

Tautan:

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.