Sepotong Hatiku Tertinggal di Beranda Susteran


Sepotong Hatiku Tertinggal di Beranda Susteran


PAGI masih teramat dini ketika aku berhenti sejenak di balik rerumputan perdu yang daun-daunnya masih basah oleh sisa-sisa hujan tadi malam. Kubenahi lagi kain pembungkus makhluk mungil yang sedari tadi meringkuk dalam dekapanku.  Lalu aku kembali berjalan perlahan menuju beranda depan bangunan tua berasitektur Belanda milik susteran itu. Kutatap lagi wajah mungil terbalut buntalan dalam dekapanku. Dengan susah payah kutahan tangisku. Dadaku terasa sesak menahan segala campur aduk perasaan.


“Oeee…eee.” Bayi dalam dekapanku itu menggerakkan tangannya. Rupanya ada setitik air mataku yang jatuh tepat di pipi merahnya. Kembali hatiku teriris menatap wajah mungilnya. Wajah polos dengan mata masih memejam itu seakan tak ingin lepas dariku.


“Sssstttt….sstttt…” Aku berusaha menenangkannya sambil mengusap tetesan air mataku di pipi mungil itu. Tak butuh waktu lama untuk membuatnya tertidur kembali. “Maafkan aku,” bisikku dengan suara gemetar.


“Kamu yakin mau melakukan ini?” bisik Carla yang berdiri di belakangku. Aku hanya mengangguk tanpa sanggub mengucapkan apa-apa lagi. Sesaat kemudian lintasan peristiwa itu kembali berkelebat di lorong ingatanku, membuat napasku kembali terasa berat dan air mataku kembali tumpah tanpa bisa kucegah.


*****


“Aku mau aborsi saja,” ucapku pada Carla.


“Apa katamu? Aborsi? Tidak!! Ini yang kelima kali kamu ngomong begitu,” ucap Carla tegas. Dia kemudian menatapku tajam. Aku bisa melihat ketidaksukaannya mendengar ucapanku. Perempuan kurus berwajah tirus itu adalah sahabatku yang menampungku sejak peristiwa itu terjadi. Dia sudah berjanji untuk membantuku dan tidak akan memberitahukan mengenai keadaanku kepada siapa pun juga.


“Tapi, aku tidak kuat menanggung ini semua,” ucapku pelan. Kurasakan mataku mulai membasah. Ada genangan di kedua mataku yang tak mungkin aku bendung. Air mataku lalu tertumpah seperti menegaskan getir hidup yang harus aku tanggung. Ada perasaan sesal, benci, juga marah. Semuanya bercampur aduk.


“Kamu harus singkirkan pikiran jahat itu. Ingat ya, bayi yang kamu kandung itu tidak bersalah. Tidak berdosa. Kenapa kamu ingin membunuhnya? Itu dosa besar,” ucap Carla tegas.


“Tapi ini berat buatku. Aku tidak kuat lagi,” kataku sambil terisak.


“Agnes, ini salibmu. Kamu diberi salib seberat ini karena Tuhan tahu kamu kuat menanggungnya. Percayalah, kamu bisa melewati ini semua karena kamu perempuan yang kuat. Apalagi aku sudah berjanji untuk terus membantumu. Kamu masih percaya padaku, kan? Kita akan melewati ini bersama-sama,” kata Carla sambil menatapku lekat. Kali ini tatapan matanya berubah teduh.


Bila tidak ada Carla, entahlah apa yang sudah aku lakukan. Mungkin aku sudah mencoba bunuh diri atau membeli obat-obatan untuk menyingkirkan secara paksa bayi itu dari rahimku. Setiap kali pikiran negatif itu muncul, Carla selalu hadir untuk menguatkan dan memberiku semangat.


“Baiklah, aku akan tetap bertahan. Bantu aku agar aku kuat.”


Carla mengangguk. Ia kemudian memelukku dan beberapa kali menghela napas panjang seperti sedang melepaskan beban yang menindih perasaannya. Aku tahu ia juga sangat terbebani dengan peristiwa yang menimpaku, namun ia sudah berjanji sejak awal untuk membantuku. Kini hanya Carla yang bisa aku andalkan. Orangtuaku dan saudara-saudaraku tidak ada yang tahu keadaanku. Dan memang mereka tidak boleh tahu. Untunglah aku tinggal jauh dari mereka. Aku tidak mau apa yang aku alami akan menjadi beban bagi mereka. Ketika orangtua atau saudaraku menelpon atau kirim pesan via WA, aku selalu mengatakan bahwa aku baik-baik saja, meskipun kenyataannya sebaliknya.


*****


“Carla, aku takut,’’ keluhku kepada Carla ketika kami menginjak kaki di rumah dukun bayi.


“Tenanglah kamu akan baik-baik saja. Mbok Slamet itu dukun bayi yang sudah  berpengalaman,” ucapnya tenang.


Aku memasuki rumah Mbok Slamet dengan perasaan tegang. Rumah itu tampak sederhana dengan cat tembok yang sudah mulai mengelupas. Di pojok kanan agak masuk ke dalam ada dipan berukuran sedang dengan kasur dan bantal yang kelihatan tidak terawat. Di situlah aku diminta berbaring. Proses persalinan itu tidak mudah dan sungguh menyakitkan. Selama beberapa jam dan hanya diterangi lampu neon yang redup aku bergelut dengan rasa sakit yang tidak terperikan.  Aku kini bisa memahami bagaimana seorang ibu berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkan bayi yang dikandungnya. Tidak mudah, sakit dan berdarah-darah. Belum lagi resiko maut yang setiap saat mengintainya.


Dan sesudah berjuang menahan rasa sakit selama 5 jam lebih, bayiku lahir menjelang tengah malam. Aku menangis. Ada perasaan lega, bahagia, juga sedih.


“Puji Tuhan. Änakmu sudah lahir. Sehat. Laki-laki,” ucap Carla sesaat sesudah bayiku lahir. Aku hanya bisa tersenyum kecil.


“Bagaimana kalau kita beri nama anakmu itu Carlo?” usul Carla


Aku hanya terdiam. Pikiranku masih kusut. Aku belum bisa memikirkan apa-apa. Tak lama kemudian kecemasan baru mulai merayap di lorong pikiranku. Bagaimana aku akan mengasuh bayi itu kelak?


*****


“Carla, aku tidak sanggub mengasuh bayi itu,” ucapku kepada Carla sehari sesudah aku melahirkan.


“Maksudmu?”


“Aku sudah mengandungnya, sudah melahirkannya, namun aku tidak sanggup mengasuhnya. Aku ingin melupakan masa laluku dan mau memulai hidup baru.  Tidak berarti aku tidak menyayangi anakku. Tidak sama sekali. Tapi aku juga punya hak untuk memulai hidup baru. Aku tidak mau dibayangi masa laluku yang suram,” jelasku.


“Terus rencanamu apa?”


“Antarkan aku bersama bayiku ke suatu tempat esok hari jam 3.”


“Kamu mau membuangnya? Jangan Agnes. Jangan lakukan itu!” pintanya.


“Aku tidak akan membuangnya. Percayalah padaku. Bayi itu anugrah. Ia layak hidup dan layak disayangi. Aku yakin ada pihak lain yang mau mengasuhnya. Tapi bukan aku. Aku sudah tak sanggub lagi,” kataku.


Carla mengangguk, lalu memelukku erat. Aku bisa mendengar isak tangisnya yang tertahan. Dan malam itu, kami menangis dan berbagi perasaan yang sama


*****


Suara gonggongan anjing dari kejauhan membuyarkan lamunanku. Perlahan kuinjakkan kakiku di beranda susteran. Carla masih berdiri di belakangku, menyaksikan semua yang kulakukan tanpa bicara apa pun. Aku tahu gadis itu tak terlalu suka dengan keputusanku. Namun ia juga tak bisa mencegahku.


Kini aku harus bergegas. Semua sudah kuputuskan. Aku tak akan berubah pikiran. Untuk kesekian kalinya kuusap lagi air mataku lalu kuhela napas panjang untuk mengisi udara sebanyak mungkin ke rongga dadaku. Kusentuh lagi wajah mungil itu. Wajah mungil tanpa dosa yang harus menanggung akibat dari nasib burukku.


Perlahan kuletakkan buntalan kain berisi bayi itu persis di depan pintu. Kurasakan bangunan tua ini seolah sedang menatap gerak-gerikku. Ada rasa sesal dan berdosa karena aku terpaksa melakukan ini, menyingkirkan buah tubuhku sendiri dari hidupku.  Namun sungguh aku tak mampu menanggung derita yang lebih besar jika harus melewati hidup bersamanya. Luka itu terlalu dalam. Derita itu terlalu menyakitkan.


“Maafkan ibumu, Nak. Ibumu tidak bisa mengasuh dan membesarkanmu. Tapi setidaknya aku sudah mengandungmu selama 9 bulan dan sudah melahirkanmu. Itu juga berat, Nak. Maafkan ibumu. Kelak, waktu akan mempertemukan kita kembali.”


Kuucap kalimat ini dengan lirih. Tak kusadari mataku semakin basah. Airmataku kembali tumpah. Tak kusangka meninggalkan bayiku yang belum genap berumur dua hari itu  akan sesakit ini. Dari kejauhan aku mendengar suara tangisan bayiku. Barangkali udara dingin mulai menerpanya atau karena ia menyadari kesendiriannya. Entahlah. Yang pasti, hatiku sangat teriris, namun aku tetap harus pergi.


Sejenak aku tengok ke belakang dan beberapa lampu bangunan itu mulai menyala, pertanda ada penghuni susteran yang terbangun oleh suara tangisan bayiku. Pintu depan mulai dibuka, lalu seorang perempuan tampak bergegas keluar dan mendapati bayiku. Wajah perempuan itu tampak kaget namun kemudian membawa bayi itu ke dalam rumah. Aku merasa lega.


Aku yakin esok hari wilayah itu akan gempar. Mungkin media massa dan TV akan gencar memberitakan tentang kasus bayi yang dibuang. Mungkin sebagian menduga bayi itu adalah hasil hubungan gelap sepasang kekasih yang masih muda. Atau mungkin, polisi akan memburuku dan menangkapku, dan aktivis-aktivis perempuan akan menghujatku sebagai perempuan tidak bermoral. Ah, mereka tidak tahu siapakah aku. Mereka tidak paham. Tidak akan pernah paham  betapa perihnya hidupku selama ini.


Sejujurnya, sepotong hatiku tertinggal di beranda susteran itu. Udara dingin menusuk tulang-tulangku. Lalu aku kembali bergegas meninggalkan bangunan itu sambil memunguti butiran harapan yang masih tersisa, harapan untuk meninggalkan kekelaman masa lalu. Harapanku untuk meninggalkan ingatan tragis dalam sebuah angkot saat tujuh orang lelaki berandal menodaiku hingga memporakporandakan hidupku kira-kira sembilan bulan lalu.


Oleh Yusup Priyasudiarja


Baca di Hidupkatolik.com

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.