Seperti Apa Kita Dikenang

Ayat bacaan: Amsal 10:7
===================
“Kenangan kepada orang benar mendatangkan berkat, tetapi nama orang fasik menjadi busuk.”

kenangan

Anda kenal Ismail Marzuki? Beliau adalah seorang komposer legendaris Indonesia yang sudah menelurkan banyak karya emas. Lagu Sabda Alam dan Payung Fantasi misalnya sudah begitu kita kenal, padahal lagu itu diciptakan lebih dari setengah abad yang silam. Ismail Marzuki meninggal dunia di usia yang masih relatif muda, 44 tahun pada tahun 1958. Saya tidak pernah bertemu dengannya, tapi lewat beberapa sesepuh musik yang masih hidup saya bisa mendapatkan gambaran seperti apa sosok Ismail Marzuki di masa hidupnya. Dalam sebuah bincang-bincang dengan salah seorang mantan penyanyi yang sudah lanjut usia saya bisa mendapatkan gambaran dari sosok legendaris ini. “Dia orangnya baik dan sangat ramah. Orangnya bertubuh kecil dan waktu bertemu dengan saya dia sudah mulai sakit-sakitan.” Itu kutipan dari apa yang ada dalam kenangan sang penyanyi tentang Ismail Marzuki. Hidup kita memanglah singkat, namun kenangan yang kita wariskan akan hidup selamanya. Seperti apa kita dikenang orang akan terbentuk dari sikap dan cara hidup kita, keputusan-keputusan yang kita ambil, karya-karya yang kita hasilkan dan seberapa besar kita memberi dampak kepada hidup orang lain.

Ada orang yang dikenang sebagai pribadi yang ramah, murah hati, setia kawan, sangat bersahabat, humoris, pintar, rajin dan sebagainya. Sebaliknya tidak sedikit pula orang yang terlupakan oleh waktu, atau bahkan dikenang sebagai sesuatu yang negatif, seperti koruptor, pemarah, ringan tangan, suka mengutuki orang lain, penipu, orang tidak tahu sopan, oportunis tulen dan sebagainya. Coba anda ingat-ingat sebentar, tentu kategori-kategori seperti ini ada dalam memori anda akan seseorang bukan? Ambil sebuah contoh Bunda Teresa. Saya percaya tidak ada satupun diantara kita yang menilai negatif akan sosok ini. Pengorbanannya, besar kasihnya dan kontribusinya terhadap orang-orang miskin di Kalkuta tetap dikenang orang hingga hari ini. Bagaimana dengan tokoh-tokoh alkitab, seperti Rut, Yusuf, Kaleb, Paulus dan sebagainya? Meski mereka hidup ribuan tahun yang lalu tapi kita masih mengenal sosok mereka lewat apa yang tertulis dalam alkitab yang abadi.

Disisi lain ada pula orang yang dikenal karena kejahatan dan perbuatan-perbuatan tercela lainnya. Kita ambil satu contoh, raja Yoram. Ia memiliki sikap hidup yang buruk. Apabila kita membaca kisah mengenai dirinya dalam 2 Tawarikh 21:2-20 dan 2 Raja Raja 8:16-24 kita akan tahu bahwa ia sama sekali tidak mencerminkan sifat ayahnya, Yosafat. Ia memilih untuk hidup tidak benar seperti mertuanya Ahab. Yoram dikatakan hidup seperti raja-raja Israel yang sesat. “Ia hidup menurut kelakuan raja-raja Israel seperti yang dilakukan keluarga Ahab, sebab yang menjadi isterinya adalah anak Ahab. Ia melakukan apa yang jahat di mata TUHAN.” (2 Tawarikh 21:6). apa yang ia lakukan sangatlah jahat. Sepucuk surat dari Elia menyatakan dengan jelas kelakuannya. “..engkau tidak hidup mengikuti jejak Yosafat, ayahmu, dan Asa, raja Yehuda, melainkan hidup menurut kelakuan raja-raja Israel dan membujuk Yehuda dan penduduk-penduduk Yerusalem untuk berzinah, sama seperti yang dilakukan keluarga Ahab, dan juga karena engkau telah membunuh saudara-saudaramu, seluruh keluarga ayahmu yang lebih baik dari padamu.” (ay 12-13). Ini sebuah perilaku yang sangat jahat. Dan apa yang terjadi ketika ia mangkat? Alkitab mencatat tragisnya akhir hidupnya. “Ia meninggal dengan tidak dicintai orang. Ia dikuburkan di kota Daud, tetapi tidak di dalam pekuburan raja-raja.” (ay 20b). Dalam bahasa Inggris versi NKJV dikatakan: “..to no one’s sorrow, departed.”

Seperti apa kita dikenang akan sangat tergantung dari perilaku, keputusan, karya dan perbuatan kita di masa hidup. Kenangan akan kita bisa terus memberkati orang lain, tapi sebaliknya bisa pula “membusuk” di ingatan orang lain. Amsal Salomo berkata “Kenangan kepada orang benar mendatangkan berkat, tetapi nama orang fasik menjadi busuk.” (Amsal 10:7). Kemilau kenikmatan dunia sepintas memang menggiurkan, tetapi itu tidaklah lebih berharga ketimbang nama baik kita yang akan selalu dikenang orang. Salomo juga berkata “Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas.” (Amsal 22:1). Dan tentu saja, semua harta kekayaan duniawi yang tidak kekal tidak akan pernah sebanding dengan apa yang akan kita peroleh dalam sesuatu yang kekal kelak. Kita bisa meninggalkan warisan berupa hasil karya kita yang bahkan bisa terus memberkati orang lain setelah kita tidak ada lagi di muka bumi ini, tapi sebaliknya bisa membusuk dalam kenangan orang jika kita melakukan hal-hal yang buruk semasa hidup.

Sebagai pengikut Kristus kita diajak untuk menaruh diri kita untuk sepikir dan seperasaan dengan Kristus. “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” (Filipi 2:5). Ingatlah bahwa kita diciptakan untuk menjadi terang dan garam bagi dunia (Matius 5:13-16) dan jangan lupa pula bahwa kita adalah wakil-wakil atau duta-duta Kristus, the ambassadors of Christ, di muka bumi ini seperti apa yang disadari sepenuhnya oleh para rasul. (2 Korintus 5:20). Kita dituntut untuk menunjukkan keteladanan hidup benar, hidup takut akan Tuhan dan mencerminkan pribadi dari Tuhan yang kita sembah. Jika itu kita lakukan, maka kita akan memberkati orang banyak dalam waktu yang lama, bahkan setelah kita sudah meninggalkan dunia ini kelak. Dan kenangan seperti itu akan kekal dalam ingatan orang, bahkan bisa terus menelurkan berkat bagi generasi-generasi sesudah kita. Seperti apa kita dikenal saat ini, dan seperti apa kita akan dikenang kelak, semua itu tergantung dari diri kita sendiri. Menjalani hidup sesuai dengan peran yang digariskan Tuhan pada kita akan membuat kita hidup sepenuhnya, “having the life at its fullest”, tetapi sebaliknya jika kita memilih untuk tidak melakukan seperti itu, maka kita bisa mengalami hidup yang miskin, bukan miskin secara materi tetapi dari segi bagaimana kita memaknai hidup kita. Hidup yang berpusat pada kepentingan diri sendiri, menghalalkan segala cara untuk memperoleh keinginan kita, melakukan hal-hal yang jahat di mata Tuhan dan menjalani hidup meleset jauh dari rencana Tuhan, tidak menjadi terang dan garam, semua itu akan membuat kita menjalani sebentuk hidup yang miskin. Karena itu marilah kita menyenangkan Tuhan dengan menjadi berkat bagi sesama. seperti apa anda ingin dikenang?

Miliki kehidupan yang bisa memberkati untuk waktu yang lama bahkan setelah kita tiada

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: