Seperti Apa Kita Dikenang Orang?

Ayat bacaan: Amsal 10:7
===================
“Kenangan kepada orang benar mendatangkan berkat, tetapi nama orang fasik menjadi busuk.”

Apakah anda punya tokoh-tokoh yang menginspirasi anda, sehingga saat anda mengenangnya saja anda sudah merasa diberkati? Saya yakin anda punya daftar sendiri untuk itu. Ada banyak tokoh yang menghasilkan hal-hal penting bagi manusia, alam, ilmu pengetahuan dan seni, berjasa bagi bangsa, negara maupun bagi kelangsungan hidup manusia secara umum sehingga dunia sangat kehilangan menangisi kepergian mereka, dan mereka pun dikenang dari masa ke masa. Sebaliknya ada pula orang-orang yang dikenang bukan karena hal baik tetapi justru karena perbuatan-perbuatan jahat mereka di masa hidupnya. Dalam masa hidup manusia yang singkat ini, ternyata ada orang yang dikenang karena hal-hal baik yang mereka lakukan, ada pula yang dikenang karena kesalahan mereka dalam menjalani hidup. Hidup itu singkat, namun kenangan yang kita wariskan akan hidup selamanya. Seperti apa kita dikenang orang akan terbentuk dari sikap dan cara hidup kita, keputusan-keputusan yang kita ambil, karya-karya yang kita hasilkan dan seberapa besar kita memberi dampak kepada hidup orang lain.

Ada orang yang dikenang sebagai pribadi yang ramah, murah hati, setia kawan, sangat bersahabat, penyabar, penyayang, pintar, rajin, menghasilkan karya-karya monumental dan sebagainya. Sebaliknya tidak sedikit pula orang yang terlupakan oleh waktu, atau bahkan dikenang sebagai sesuatu yang negatif, seperti koruptor, pemarah, ringan tangan, suka mengutuki orang lain, penipu, orang tidak tahu sopan, oportunis tulen bahkan karena kejahatan-kejahatan yang mereka lakukan. Dalam sejarah dunia ada banyak nama-nama yang mewakili kedua kategori ini, dalam Alkitab pun ada. Nama-nama seperti Rut, Yusuf, Kaleb, Paulus misalnya, meski mereka hidup ribuan tahun yang lalu tapi kita masih mengenal sosok mereka lewat apa yang tertulis dalam alkitab yang abadi. Ada banyak pula nama disana yang menjadi peringatan bagi kita akan bahayanya menjalani hidup yang tidak diisi dengan kebaikan, ketaatan dan kasih.

Hari ini mari kita ambil satu contoh, raja Yoram. Ia dikenal memiliki sikap hidup yang buruk. Jika kita membaca kisah mengenai dirinya dalam 2 Tawarikh 21:2-20 dan 2 Raja Raja 8:16-24 kita akan tahu bahwa ia sama sekali tidak mencerminkan sifat ayahnya, Yosafat melainkan hidup tidak benar seperti mertuanya Ahab. Yoram dikatakan hidup seperti raja-raja Israel yang sesat. “Ia hidup menurut kelakuan raja-raja Israel seperti yang dilakukan keluarga Ahab, sebab yang menjadi isterinya adalah anak Ahab. Ia melakukan apa yang jahat di mata TUHAN.” (2 Tawarikh 21:6).

Apa yang ia lakukan sangatlah jahat. Sepucuk surat dari Elia menyatakan dengan jelas mengenai kelakuannya. “..engkau tidak hidup mengikuti jejak Yosafat, ayahmu, dan Asa, raja Yehuda, melainkan hidup menurut kelakuan raja-raja Israel dan membujuk Yehuda dan penduduk-penduduk Yerusalem untuk berzinah, sama seperti yang dilakukan keluarga Ahab, dan juga karena engkau telah membunuh saudara-saudaramu, seluruh keluarga ayahmu yang lebih baik dari padamu.” (ay 12-13). Apa yang ia lakukan benar-benar keterlaluan. Bukan saja ia melakukan kekejian, tapi ia juga mengajak rakyatnya untuk berbuat dosa. Apa yang terjadi ketika ia mangkat? Alkitab mencatat seperti ini: “Ia meninggal dengan tidak dicintai orang. Ia dikuburkan di kota Daud, tetapi tidak di dalam pekuburan raja-raja.” (ay 20b). Dalam bahasa Inggris versi NKJV dikatakan: “..to no one’s sorrow, departed.” Ia meninggal tanpa ada yang merasa sedih dan kehilangan.  Namanya masih diingat sampai hari ini, tapi bukan karena perbuatan-perbuatan yang memberkati melainkan karena kejahatan dan kekejamannya.

Seperti apa kita dikenang akan sangat tergantung dari perilaku, keputusan, karya dan perbuatan kita di masa hidup. Kenangan akan kita bisa terus memberkati orang lain, tapi sebaliknya bisa pula “membusuk” di ingatan orang lain. Itu disebutkan dalam kitab Amsal. “Kenangan kepada orang benar mendatangkan berkat, tetapi nama orang fasik menjadi busuk.” (Amsal 10:7). Ada banyak hal di dunia ini yang bisa membuat kita tersesat. Ada banyak godaan yang menggiurkan sehingga kita mungkin saja terjebak untuk menggadaikan harga diri dan nama baik kita. Salomo berkata “Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas.” (Amsal 22:1). Berbagai hal yang menjatuhkan nama baik kita tidak akan pernah memberi keuntungan, malah mendatangkan kerugian yang bisa berdampak pada keturunan-keturunan selanjutnya. Dan tentu saja, semua harta kekayaan dan kenikmatan duniawi yang sesaat tidak akan pernah sebanding dengan apa yang akan kita peroleh dalam sesuatu yang kekal kelak. Kita bisa meninggalkan warisan berupa hasil karya kita yang bahkan bisa terus memberkati orang lain setelah kita tidak ada lagi di muka bumi ini, tapi sebaliknya bisa membusuk dalam kenangan orang jika kita melakukan hal-hal yang buruk semasa hidup.

Sebagai pengikut Kristus kita diajak untuk menaruh diri kita untuk sepikir dan seperasaan dengan Kristus. “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” (Filipi 2:5). Ingatlah bahwa kita diciptakan untuk menjadi terang dan garam bagi dunia (Matius 5:13-16) dan jangan lupa pula bahwa kita adalah wakil-wakil atau duta-duta Kristus, the ambassadors of Christ, di muka bumi ini seperti apa yang disadari sepenuhnya oleh para rasul. (2 Korintus 5:20). Kita dituntut untuk menunjukkan keteladanan hidup benar, hidup takut akan Tuhan dan mencerminkan pribadi dari Tuhan yang sebenarnya.

Kita juga wajib menghasilkan buah selama hidup. “Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah.” (Filipi 1:22a). Jika hidup seperti ini yang kita jalani, maka kita akan memberkati orang banyak dalam waktu yang lama, bahkan setelah kita sudah meninggalkan dunia ini kelak. Kenangan seperti itu akan kekal dalam ingatan orang, bahkan bisa terus membawa berkat bagi generasi-generasi sesudah kita. Seperti apa kita dikenal saat ini, dan seperti apa kita akan dikenang kelak, semua itu tergantung dari diri kita sendiri. Menjalani hidup sesuai dengan peran yang digariskan Tuhan pada kita akan membuat kita hidup sepenuhnya, “having the life at its fullest” dengan menghasilkan banyak buah, tetapi sebaliknya jika kita memilih untuk melakukan sebaliknya, maka kita bisa mengalami hidup yang miskin, Mungkin bukan miskin secara materi tetapi dari segi bagaimana kita memaknai hidup kita. Hidup yang berpusat pada kepentingan diri sendiri, menghalalkan segala cara untuk memperoleh keinginan kita, melakukan hal-hal yang jahat di mata Tuhan dan menjalani hidup meleset jauh dari rencana Tuhan, tidak menjadi terang dan garam, semua itu akan membuat kita membusuk. Karena itu marilah kita menyenangkan Tuhan dengan menjadi berkat bagi sesama.

Miliki kehidupan yang bisa memberkati untuk waktu yang lama bahkan setelah kita pergi

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.