Sepenggal Kisah tentang Romo J. Casutt SJ: Soal Kejujuran, Sungguh Tiada Ampun (2)

KALAU mencuri , tanpa banyak cingcong maka mahasiwa ini akan segera dikeluarkan. Kalau berani mengabsenkan teman lain yang tidak datang kuliah, maka perbuatan ini juga  dianggap tidak jujur dan langsung dikeluarkan.

Duduk di kursi yang mestinya hanya untuk dua orang, namun nekad diduduki 3 orang , sudah pasti akan kena tegur keras.  Ini menandakan, harus ada SOP yang ketat dalam industri teknik.

Kalau buru-buru memarkirkan motor di depan absensi, itu juga akan kena kompensasi.

Metode pendidikan ini jelas melatih orang bekerja secara tertib yakni harus bisa  mengatur waktu lebih baik dan tidak harus terburu-buru.

Tak ada kompromi dalam pendidikan karakter

Suatu saat ada perasaan kasihan kepada anak yang akan DO,  karena nilainya kurang sedikit. Dosen mengusulkan agar dinaikankan saja agar tidak kena  DO. Tetapi  Romo J. Casutt punya pendapat lain. Ini tidak bisa, karena standar nilai itu harus ada.

Bila sebuah standar nilai itu ada toleransi dan standarnya kemudian dibengkokan atau kriterianya direndahkan, maka  dengan sendirinya menaikan juga akan menjadi sulit sekali. Itulah caranya beliau menjaga mutu pendidikan dan mendidik karakter pribadi yang unggul. Itu tiada lain adalah jujur, disipin, rendah hati, rajin, intregitas dan tulus hati.

Kalau menemukan kain lap yang masih bersih namun dipakai secara boros, maka beliau akan memilih opsi ini. Beliau akan memasukan lap bersih itu sebagai  persedian. Kata beliau, jangan hidup boros. Uangnya  bisa digunakan untuk keperluan lain.

Dua dosa besar

Soal pajak PPH, suatu saat ada dosen yang mengajukan usul agar distel saja. Yakni,  besaran gaji dibuat kecil agar setoran PPH juga rendah. Nah, apa jawaban beliau?

Romo J. Casutt SJ tidak kenal kompromi. Kata beliau, ini tidak bisa. Ada dua jenis larangan –semacam dosa besar di Swiss— yang tidak boleh dia langgar. Pertama menghindari wajib militer dan kedua tidak jujur dalam membayar pajak.

Ketika saya mewawancarai beliau untuk penerbitan buku memoarnya, Romo J. Casutt mengaku kurang berkenan.  Sepertinya beliau tidak mau “memuliakan”  namanya.

Untuk apa, begitu kata beliau waktu itu.  Tetapi saya sampaikan bahwa dengan menulis riwayat Romo mendidik siswa ATMI lebih dari 37 tahun, itu merupakan mutiara yang perlu diingat.

Akhirnya beliau setuju.  Ketika kami napak tilas bersama teman-teman sepuh angkatan satu-dua dan lima, kami bertemu dengan Josef Casutt, kakaknya. Nampaknya Josep bahagia sekali dikelilingi anak dan cucu. Tetapi saya mengatakan, kami adalah anak-anak romo Casutt dan masih lebih dari 3.000 berada seluruh  Indonesia. 

Keluarga Josef Casutt lalu  serempak mengatakan: Congratulations!

Dari 4 bersaudara, sekarang tinggal 2 orang. Yakni  kakaknya Romo yang bernama  Florian Casutt yang menetap tinggal di Chur dan Josep Casutt di Murten.

Sabtu siang ini di ATMI Solo, saya datang menghadiri misa requiem. Ribuan orang datang hadir melayat tanda hormat sekaligus ungkapan kehilangan.

Tapi di hati terdalam kami yakin, Romo Johann Balthasar Casutt SJ sudah meniti jalan benar menuju kepada Tuhan.

Auf Wiedersehen Romo!.

Photo credit: Romo J. Casutt SJ saat pesta HUT ke-86 tanggal 24 Januari 2012 (Martin Teiseran)

Artikel terkait:

 

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: