Sepakat!

Ayat bacaan: Amos 3:3
==================
“Berjalankah dua orang bersama-sama, jika mereka belum berjanji?”

Apa arti kata sepakat? Bagi pebisnis kata sepakat berarti mencapai deal untuk melanjutkan kerjasama sesuai perjanjian. Bagi musisi, kata sepakat itu artinya bisa bersama-sama mengalirkan musik untuk menghasilkan sebuah simfoni yang harmonis dan terdengar menyatu. Intinya, sepakat itu artinya kedua belah pihak sudah setuju dengan keputusan bersama yang telah dibicarakan sebelumnya. Bayangkan apabila anda bersepakat untuk bertemu di sebuah tempat pada jam yang sudah ditentukan. Jika salah satu melanggar kesepakatan, misalnya datang pada jam yang berbeda atau pergi ke tujuan yang berbeda, tentu anda tidak akan pernah bisa bertemu bukan? Seperti itulah sebuah gambaran kesepakatan. Dalam membuat surat perjanjian atau kontrak pun demikian. Kedua pihak harus terlebih dahulu sepakat atas pasal-pasal yang di atur di dalamnya sebelum menandatangani. Tanpa itu, sebuah kontrak tidak akan berlaku. Demikian pentingnya sebuah kesepakatan dalam berbagai aspek hidup kita. Tanpa adanya kesepakatan, kita tidak akan bisa berjalan bersama-sama.

Kesepakatan sering disepelekan atau dianggap tidak penting bagi banyak orang. baik dalam keluarga, pekerjaan, belajar maupun dalam beribadah. Mereka lebih suka berjalan sendiri dan memutuskan segalanya sendiri dan menganggap orang lain tidak penting atau bahkan tidak ada. Coba pikir apabila dalam sebuah gereja jemaatnya hanya datang, duduk, diam, dengar dan kemudian pulang, bisakah gereja itu tumbuh menjadi berkat bagi sesamanya apalagi kotanya? Jika semua unsur di dalamnya berjalan sendiri-sendiri, bisakah sebuah gereja menjalankan program-programnya dengan baik? Jika dalam sebuah keluarga semuanya sibuk dengan dunianya masing-masing tanpa peduli satu sama lain, ayah hanya bekerja, ibu yang penting masak, anak-anak ke sekolah dan bermain bersama teman dan berkumpul hanya sekali-kali saja, bisakah keluarga itu menjadi harmonis dan kuat? Dapatkah sebuah tujuan dicapai jika semua yang terlibat berjalan sendiri tanpa ada kesatuan atau kesepakatan?

Pertanyaan ini mungkin terdengar klise, tapi sebenarnya pertanyaan yang sama sudah ada sejak dulu dan tercatat dalam kitab Amos. “Berjalankah dua orang bersama-sama, jika mereka belum berjanji?” (Amos 3:3). Bisakah dua orang berjalan bersama ke arah yang sama tanpa membuat perjanjian, persetujuan atau kesepakatan terlebih dahulu? Itu tidak mungkin bisa. Sebuah kesepakatan merupakan hal yang memegang peran yang sangat penting agar kita bisa berjalan ke arah yang sama untuk mencapai tujuan bersama. Baik dalam keluarga, pertemanan, pekerjaan, pelayanan atau dalam hal-hal yang spiritual kesepakatan itu merupakan sebuah unsur yang sangat penting, atau kita akan berjalan di tempat bisa jadi malah mundur. Tuhan sendiri sangat mementingkan dan memperhatikan kesepakatan. Dan hal ini dianjurkan dalam begitu banyak kesempatan baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.

Sebuah kesepakatan selalu bisa menghasilkan dampak besar, baik positif atau negatif. Kita bisa melihat sebuah contoh kesepakatan negatif lewat kisah menara Babel dalam Kejadian 11:1-9. Perhatikan bagaimana orang-orang pada masa itu bersepakat mencoba untuk menyaingi Tuhan. Dan hal ini ternyata mendapat perhatian serius di mata Tuhan hingga akhirnya Tuhan merasa perlu untuk mengacau-balaukan bahasa dan menyerakkan mereka. Dalam bentuk yang negatif sekalipun kesepakatan bisa menimbulkan dampak besar. Demikian pentingnya hal ini, sehingga alangkah baiknya apabila kita tidak melupakan sebuah kesepakatan sebagai sebuah unsur yang vital demi mencapai tujuan-tujuan yang baik.

Lihatlah bagaimana Yesus mengajarkan pentingnya membangun sebuah kesepakatan. “Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga.” (Matius 18:19). Tuhan ternyata menganggap penting bagi kita untuk bersepakat dalam berdoa dan meminta sesuatu kepadaNya, dan itu disampaikan oleh Yesus sendiri. Selanjutnya Yesus pun mengatakan “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (ay 20). Jika dua atau tiga orang berkumpul, itu artinya bersepakat, dan dilakukan dalam NamaNya, maka Yesus pun akan segera hadir ditengah-tengah kita. Bukankah ini menunjukkan tingginya sebuah nilai kesepakatan bagi Tuhan?

Jika Tuhan saja menganggap sebuah kesepakatan itu penting mengapa kita tidak mulai berpikir bahwa itu penting mulai dari sekarang? Ingatlah bahwa tidak ada satupun yang maksimal yang bisa kita lakukan apabila kita hanya berjalan sendiri-sendiri. Sebuah keluarga tidak akan bisa harmonis dan kuat tanpa adanya kesatuan di antara anggota-anggotanya. Meski semua melakukan tugasnya masing-masing dengan baik, kekuatannya akan sangat lemah apabila tidak ada kesatuan di dalamnya. Dalam pekerjaan, bisnis maupun pelayanan pun sama. Tidak akan ada program yang bisa berjalan dengan baik, tidak akan ada sebuah pencapaian yang luar biasa apabila tidak didasari dengan kesepakatan. Kita tidak akan bisa tetap tegar atau teguh dalam menghadapi masalah jika hanya sendirian. Pengkotbah mengatakan “Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!” (Pengkotbah 4:9-10). Dan selanjutnya juga diingatkan bahwa dua orang yang bepergian bersama dapat menangkis serangan, tapi orang yang sendirian akan dengan mudah dapat dikalahkan. “Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan.” (ay 12).

Sudahkah kita menyadari betapa pentingnya sebuah kesepakatan dalam berbagai aspek kehidupan kita? Gereja hanya akan bisa menjadi garam dan terang bagi lingkungan atau kotanya apabila jemaatnya mau bersatu, bersepakat dan melakukan bagian masing-masing secara terintegrasi atau terpadu. Sudah saatnya gereja menjadi kumpulan orang-orang kudus yang mau terlibat melakukan langkah nyata bukan hanya bersikap apatis, hanya datang, nonton dan mencari berkat untuk dirinya sendiri saja. Di sisi lain sebuah gereja seharusnya mampu mempermudah orang untuk memberi pelayanan dan bukan sebaliknya malah membangun tembok pembatas lewat peraturan-peraturan atau tradisi duniawi yang terlalu rumit sehingga menyulitkan jemaatnya untuk terlibat. Tuhan sangat memperhatikan kesepakatan, itu merupakan hal yang penting bagiNya dan sudah saatnya kita pun menanggapi sebuah kesepatakan itu dengan sangat serius.

Kesepakatan memegang peranan penting bagi terkabulnya doa kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.