Senin, 25 September 2017: Membangun Bait Allah

Gotong royong umat bakal Paroki Kuneru Atambua membangun aula. (Romo Kris Fallo)

Bacaan: Ezr 1:1-6; Mzm 126:1-6; Luk 8:16-18


Renungan
Pada pemerintahan Koresh, orang-orang Israel yang dibuang ke Babel pulang kembali ke Israel dan mulai berbenah, membangun hidup harian dan hidup keagamaan. Ezra memotori pembangunan dan renovasi Bait Allah di Yerusalem yang telah hancur dengan menggerakkan sumbangan pembangunan Bait Allah “semua orang di sekeliling mereka membantu mereka dengan perak dan emas, harta benda dan ternak, dan dengan pemberian yang indah-indah, selain dengan segala sesuatu yang dipersembahkan dengan sukarela.”


Begitu pentingnya keberadaan Bait Allah bagi orang Yahudi, sehingga mereka pun mempersembahkan yang terbaik dan dengan sukarela. Tanpa Bait Allah, orang-orang Yahudi tidak dapat melakukan ibadat sepenuhnya, karena sebagian ibadat mereka harus dilaksanakan di Bait Allah.


Fungsinya berbeda dengan bangunan Gereja.


Beberapa kali di gereja, kita mendengar pengumuman dan penggalangan dana pembangunan, perluasan dan renovasi gereja. Dan dana yang diperlukan tidaklah sedikit. Dan jumlah umat yang mampupun terbatas; sehingga mereka berkali-kali mendapatkan proposal demi proposal.


Kita bersyukur bahwa pembangunan gereja menjadi tanda bahwa umat kita semakin berkembang. Tapi juga kita sadari bahwa membangun gereja besar dan megah membutuhkan dana perawatan yang tidaklah sedikit. Bangunan sebaik apa pun tanpa ditopang oleh perawatan tidak akan bertahan lama.


Pembangun menyedot uang begitu banyak, berlipat-lipat dibanding dengan dana-dana kegiatan-kegiatan bidang ataupun timja paroki. Kita tetap harus selalu diingatkan bahwa kita yang pokok dan mendasar adalah membangun dan merenovasi Tubuh Kristus. Konsep bangunan yang memfasilitasi pertemuan-pertemuan harus disusul dengan kesungguhan berpastoral untuk mengelola pastoral.


Pendampingan iman dari anak-anak sampai dewasa pun sampai sekarang belum bisa tertata dengan baik, walaupun sudah ada begitu banyak. Pastoral keluarga berjenjang yang telah disiapkan juga berujung sama. Kaum muda muncul dan menghilang sesuai dengan kegiatannya. Kegiatan anak-anak terbatas pada Sekolah Minggu. Sebagian umat kita yang layak dibantu pun tidak tahu harus kemana mencari bantuan, karena solidaritas untuk mereka sangat terbatas.


Membangun Gereja seperti inilah yang harus menjadi fokus perhatian kita. Fasilitas adalah faktor pendukung. Yang terutama adalah membangun hidup iman umat.


Kontemplasi
Gambarkan bagaimana Ezra menggerakkan umat untuk membangun kembali iman mereka dengan mendirikan Bait Allah.


Refleksi
Bagaimana aku berperan serta secara aktif dalam pembangunan Gereja, Tubuh Kristus? Apakah aku juga mengembangkan sense of belonging untuk merawat fasilitas-fasilitas gereja?


Doa
Ya Bapa, ajarilah kami untuk terus bekerja keras membangun gereja Tubuh Mistik Yesus Kristus, dengan pendampingan iman yang berkelanjutan dan terobosan-terobosan pastoral demi perkembangan iman umatMu. Amin.


Perutusan
Aku menggerakkan umat untuk mencintai Gereja dan menekankan pentingnya pembangunan hidup iman umat daripada fasilitas (Morist-MSF)


Romo Aristanto MSF

Imam anggota Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dan tinggal di Skolastikat MSF di Banteng, Yogyakarta.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: