Senin, 22 Juli 2019 Pesta Santa Maria Magdalena

Senin, 22 Juli 2019
Pesta Santa Maria Magdalena

“Berkobar dalam cinta, Maria Magdalena merindukan Dia yan dikira sudah dibawa orang” (St. Gregorius Agung)


Peringatan Wajib St. Maria Magdalena mulai tahun 2016 ditingkatkan menjadi PESTA. Keputusan ini ditandatangani pada tanggal 3 Juni 2016 pada Hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus. Pada Misa ini ada Madah Kemuliaan 
     
Antifon Pembuka (Bdk. Yoh 20:17)

Yesus bersabda kepada Maria Magdalena, “Pergilah dan beritahukanlah kepada saudara-saudara-Ku: Aku naik kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.”

The Lord said to Mary Magdalene: Go to my brothers and tell them: I am going to my Father and your Father, to my God and your God.

Doa Pembuka

Allah Bapa Yang Mahamulia, Putra-Mu yang tunggal menyampaikan kabar sukacita Paskah yang mulia kepada Maria Magdalena mendahului para murid lainnya. Semoga berkat teladan dan doanya kami mewartakan Kristus yang hidup dan kelak melihat-Nya meraja dalam kemuliaan-Mu. Sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami, yang bersama Dikau, dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin.

Bacaan Pertama
Bacaan dari Kidung Agung (3:1-4a)

  
“Impian mempelai perempuan.”
Di dalam kerinduannya, sang mempelai berkata: Pada malam hari, di atas peraduanku, kucari jantung hatiku. Kucari dia, tapi tak kutemukan. Aku bangun dan berkeliling di kota; di jalan-jalan dan di lapangan-lapangan kucari dia, jantung hatiku. Kucari dia, tapi tak kutemukan. Aku ditemui peronda-peronda kota. “Apakah kamu melihat jantung hatiku?” Baru saja meninggalkan mereka, kutemukan jantung hatiku. Kupegang dia, dan tak kulepaskan lagi.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

atau

Bacaan dari Surat Kedua Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus (5:14-17)

Saudara-saudara, kasih Kristus telah menguasai kami. Sebab kami telah mengerti bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati. Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati dan dibangkitkan bagi mereka. Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang pun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian. Jadi barangsiapa ada dalam Kristus, dia adalah ciptaan baru! Yang lama sudah berlalu, dan sungguh, yang baru sudah datang!
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = d, 2/2, PS 843
Ref. Jiwaku haus pada-Mu, Tuhan, ingin melihat wajah Allah.
Ayat. (Mzm 63:2.3-4.5-6.8-9; Ul: 2b, 2/4)
1. Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus akan Dikau tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, yang tiada berair.
2. Demikianlah aku rindu memandang-Mu di tempat kudus, sambil melihat kekuatan dan kemuliaan-Mu. Sebab kasih setia-Mu lebih baik daripada hidup; bibirku akan memegahkan Dikau.
3. Aku mau memuji Engkau seumur hidupku dan menaikkan tanganku demi nama-Mu. Seperti dijamu lemak dan sumsum jiwaku dikenyangkan, bibirku bersorak sorai, mulutku memuji-muji.
4. Sungguh, Engkau telah menjadi pertolonganku, dan dalam naungan sayap-Mu aku bersorak sorai. Jiwaku melekat kepada-Mu.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. (Yoh 20:18) 
Katakanlah Maria, engkau melihat apa? Wajah Yesusku yang hidup, sungguh mulia hingga aku takjub.

Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes (20:1.11-18)

 
“Ibu mengapakah engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?”
    
Pada hari Minggu Paska, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur Yesus dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur. Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring. Kata malaikat-malaikat itu kepadanya, “Ibu, mengapa engkau menangis?” Jawab Maria kepada mereka, “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.” Sesudah berkata demikian Maria menoleh ke belakang, dan melihat Yesus berdiri di situ; tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya, “Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?” Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman. Maka ia berkata kepadanya, “Tuan, jikalau Tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku di mana Tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.” Kata Yesus kepadanya, “Maria!” Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani, “Rabuni!” artinya: Guru. Kata Yesus kepada-Nya, “Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa. Tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.” Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid, “Aku telah melihat Tuhan!” dan juga bahwa Tuhanlah yang mengatakan hal-hal itu kepadanya.
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran, dan hidup kami.

Renungan
 

Salah satu sumber ketidakbahagiaan dalam hidup ini adalah sikap mendua atau ambigu. Mestinya dan normalnya, orang yang hidup dalam perkawinan hanya mencintai pasangannya saja. Tetapi lihat saja: ketika salah satu pasangan mulai tertarik dan bahkan memiliki hubungan dengan orang ketiga, orang tersebut bersikap mendua, dan mulailah bahtera rumah tangganya goyah. Begitu pula panggilan seorang yang hidup membiara akan mulai goyah ketika ia hidup mendua. Itulah yang terjadi pada Maria Magdalena pada awal Injil hari ini. Kalau kita membaca teks Kitab Suci secara langsung, ayat 11 yang menjadi awal bacaan Injil hari ini dibuka dengan kata-kata: “Tetapi Maria berdiri….” Dalam teks liturgi, kata “tetapi” memang dihilangkan untuk kebutuhan redaksi pewartaan. Pertanyaannya ialah mengapa ayat 11 dibuka dengan kata “tetapi” itu? Jelaslah bahwa kata “tetapi” adalah kata hubung yang mau mempertentangkan antara kalimat itu dengan kalimat sebelumnya (istilah bahasa: konjungsi pertentangan). Nah, kalimatnya berbunyi: Maria berdiri dekat kubur dan menangis. Sedangkan kalimat sebelumnya berkaitan dengan Simon Petrus dan Yohanes yang masuk ke dalam kubur. Artinya, kedua rasul itu masuk ke dalam kubur dan menyaksikan apa yang terjadi, yaitu Tuhan bangkit, tetapi Maria Magdalena tidak masuk ke dalam kubur, karena ia hanya berdiri di dekat kubur. Maria hanya menjenguk ke dalam, tetapi kakinya tetap di luar, kemudian ia langsung membuat kesimpulan: ada orang mengambil jenazah Yesus! Jelas kesimpulan yang salah, karena Maria Magdalena memang juga tidak sungguh masuk ke dalam kubur. Ia mendua, karena kepala menjenguk ke dalam kubur, tetapi kakinya di luar.
 Begitulah bila orang bersikap mendua, orang tidak hanya tidak bahagia tetapi juga dapat membuat kesimpulan atau keputusan yang tidak tepat. Hanya saja, Tuhan Yesus Yang bangkit bersikap sabar dan menuntun Maria Magdalena. Karena kisahnya berlanjut hingga kesadaran Maria Magdalena bahwa Tuhan Yesus bangkit. Tetapi kesadaran Maria Magdalena itu ditolong oleh Tuhan sendiri. Tuhanlah yang berinisiatif dan menyadarkan Maria Magdalena melalui sapaan personal. “Maria!”. Okelah, barangkali kita telah banyak bersikap mendua dalam iman kita ini, tetapi marilah kita berhenti. Marilah kita menengok dan menghadap Tuhan yang selalu berada di dekat kita dan mengajak kita untuk fokus memandang-Nya, mengasihi-Nya, dan membiarkan diri untuk dikasihi dan diselamatkan Tuhan. (EM/INSPIRASI BATIN 2019)
 

Antifon Komuni (2Kor 5:14.15)

Kasih Kristus mendorong kita, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.

The love of Christ impels us, so that those who live may live no longer for themselves, but for him who died for them and was raised.

Sumber: renunganpagi.blogspot.com

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.