Seni Ular dan Merpati (1)

Posted on

Ayat bacaan: Matius 10:16
====================
“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.”

Kalau anda pergi ke mall dan mengunjungi banyak butik, anda akan bertemu pramuniaga dengan gaya dan sikap yang berbeda-beda. Ada yang malas-malasan, ada yang terus menguntit setiap langkah anda, ada yang tersenyum ramah, ada yang cuek, dan sebagainya. Mana yang bisa membuat anda tertarik untuk membeli produk yang mereka jual? Disamping soal harga, seringkali keramahan yang menjual akan sangat menentukan apakah kita membeli barang jualannya atau tidak. Ada yang pintar menjual, ada yang cuma sekedar ‘kerja’ dalam artian yang penting masuk dan pulang sesuai waktu. Kalau yang jual sikapnya menjengkelkan, bagaimana mungkin mereka berharap ada pembeli? Seorang teman yang punya toko merasa perlu untuk mendidik para penjaga toko dengan seni menjual dan seni berinteraksi dengan konsumen, dan tampaknya metodenya cukup berhasil. Di masa kesulitan ekonomi dia masih bisa mengalami peningkatan dalam penjualan. Saya berkunjung kesana pada suatu kali dan memang, para pramuniaganya menyambut ramah dan tidak mengganggu kenyamanan konsumen saat melihat-lihat produk, tapi tanggap ketika diperlukan. Elegan sekali, pikir saya. Tidak heran kalau tokonya ramai pengunjung.

Betapa seringnya kita gagal karena tidak tahu mengambil momen yang tepat. Dalam bekerja, dalam kehidupan maupun dalam menjalankan tugas kita sesuai Amanat Agung yang telah disampaikan Yesus sesaat sebelum Dia naik ke Surga. Ada banyak anak-anak Tuhan yang merasa bertanggung jawab untuk mewartakan berita keselamatan, tetapi sayang sekali ada banyak pula dari mereka yang tidak tahu seni melakukan itu secara elegan. Akibatnya mereka terjebak untuk mengikuti cara-cara dunia. Ada yang pakai metode ‘hit and run’, datang, langsung to the point, kalau kira-kira yang diserang marah langsung ambil langkah seribu. Ada juga yang memaksakan kehendak dengan kasar atau bahkan kekerasan. Atau menganggap perlu untuk menjelek-jelekkan orang lain terlebih dahulu agar apa yang mereka sampaikan bisa diterima. Ada beberapa teman yang pernah bercerita bahwa mereka pernah bertemu dengan orang-orang yang bersikap seperti ini. Mereka memaksakan kehendak dan mudah marah ketika orang tidak mengikuti kemauan mereka, hanya karena mereka berasal dari denominasi yang berbeda. Mereka begitu mudahnya menjelek-jelekkan gereja dan jemaat selain mereka dan bersikap sangat tidak simpatik. Jika itu yang dipertontonkan, bukannya menjadi garam dan terang tetapi mereka malah menjadi batu sandungan bagi orang lain. Jangankan membawa jiwa, dekat saja mungkin tidak ada yang mau, atau malah membuat orang pergi menjauh.

Mengapa harus seperti itu sikapnya? Itu sama sekali bukanlah gambaran sikap yang diinginkan Tuhan untuk kita lakukan. Melakukannya harus dengan seni, dan menurut Yesus seni yang pas adalah seperti ular dan merpati. Yesus mengatakan seperti ini: “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” (Matius 10:16). Seringkali medan yang kita hadapi itu berat, kita harus berhadapan dengan situasi-situasi yang beresiko, penolakan dan lain sebagainya. Dalam posisi seperti itu bisa jadi kita bagaikan domba ditengah serigala. Domba dilempar di tengah-tengah serigala? Kalau tidak pintar-pintar, habislah kita. Oleh karena itulah kita diingatkan agar pintar memilih momen dan bersikap. Tetap tulus seperti merpati, bukan karena adanya agenda-agenda pribadi tetapi semata-mata atas dasar kerinduan membawa kabar keselamatan kepada banyak orang. Disamping tulus, hendak pula kita cerdik dalam melakukannya. Bukan dengan paksaan, kasar, dengan menjelek-jelekkan, atau melakukan bentuk-bentuk negatif yang membuat risih orang lain. Melakukan dengan tulus atas dasar kasih dan mengambil jalan-jalan yang baik, elegan dengan rasa hormat dan lemah lembut, itulah yang seharusnya kita pilih dalam mewartakan Injil keselamatan kepada orang lain.

Tidak satupun firman Tuhan yang mengajarkan kita untuk bersikap kasar atau memaksakan kehendak. Itu bukan cara yang benar menurut kekristenan. Tidak dalam hal pekerjaan atau kehidupan, apalagi dalam menyebarkan Injil. Kita justru diingatkan untuk memiliki hati yang lemah lembut. Lihatlah pesan yang sangat indah dan esensial dalam Kolose berikut: “Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.” (Kolose 3:12-14). Ini sikap yang seharusnya ada pada kita dalam menjalani kehidupan kita termasuk didalamnya untuk menjalankan tugas sesuai dengan Amanat Agung.

Ingatlah dua hukum yang terutama seperti yang dikatakan Yesus dimana didalamnya tercakup seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu…Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Matius 22:37,39). Ingatlah bahwa “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain..” (1 Korintus 13:4-5). Tidak ada tempat untuk kasar, memaksa, tidak sopan dan sebagainya dalam kasih, dan ketika kita berjalan dengan dasar kasih, maka kita pun seharusnya melakukan semuanya dengan sikap-sikap seperti yang dijelaskan dalam ayat tersebut.

(bersambung)

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.