Seminari Tinggi TOR Lo’o Damian Menuju Pesta Perak

Halaman Depan Seminari Tahun Orientasi Rohani Lo'o Damian, Atambua (Foto : John Laba Wujon)

ENAM bulan ke depan tepatnya 14 September 2015, akan menjadi momen bersejarah bagi lembaga pendidikan calon imam, Tahun Orientasi Rohani (TOR) Lo’o Damian, Keuskupan Atambua. Pasalnya pada tanggal tersebut, TOR Lo’o Damian akan memasuki usianya yang ke-25 tahun.

Meski baru mencapai usia perak, TOR Lo’o Damian telah mencetak kurang lebih 100 imam. “Para imam ini berkarya di 3 keuskupan, yakni Keuskupan Agung Kupang, Keuskupan Atambua, dan Keuskupan We’etabula Sumba”, ujar Pendamping Rohani (Socius), Rm. Sipri Tes Mau, Pr.

Sebelum 1990, para calon imam ini menempuh pendidikan Tahun Orientasi Rohani (TOR) di Lela, Maumere, Flores. Seiring dengan bertambah banyaknya calon imam dari Keuskupan Agung Kupang, Keuskupan Atambua, dan Keuskupan We’etabula, Sumba, para penggagas bersepakat mendirikan tempat pendidikan baru di Nenuk, Kabupaten Belu, Atambua, NTT.

Ketiga penggagas yakni Mgr. Gregorius Monteiro, SVD, Mgr. Antonius Pain Ratu, SVD, dan Mgr. Kherubim Parera, SVD memilih nama TOR Lo’o Damian. Nama Lo’o Damian itu sendiri berasal dari 2 kata, Lo’o yang berarti tempat persemaian yang berkaitan dengan tempat “pembakaran” untuk menjadi matang. Sedangkan, kata Damian diambil dari spiritualitas Santo Damian dari Monokai, seorang kudus yang membaktikan hidupnya pada pelayanan orang kusta hingga beliau terjangkit pernyakit itu dan akhirnya meninggal dunia. “Pemilihan nama Damian diharapkan membuat para calon imam memiliki pelayanan seperti santo Damian,” ungkap Rm. Sipri, saat diwawancarai di Lopo, Emaus, Keuskupan Atambua.

Beliau juga mengatakan bahwa yang menjadi hambatan selama pendirian dan perkembangan TOR Lo’o Damian adalah kesulitan dalam mempersiapan lahan, dan banyaknya frater yang setelah menerima jubah, semangat panggilannya semakin mengendor, bahkan ada yang mengundurkan diri .

Selama 25 tahun berdirinya, TOR Lo’o Damian telah dipimpin oleh 5 praeses, yang masing-masing praeses memimpin pada kurun waktu yang tidak tentu dan siap dipindahkan sesuai dengan ketetapan uskup. “Yang saya tahu praeses pertama sekaligus perintis TOR Lo’o Damian adalah Rm. Edmundus Nahak, Pr. Praeses kedua adalah Rm. Steve Boik, Pr, selanjutnya praeses-praeses yang memimpin, ada Rm. Valens Boy, Pr, Rm. Herry Fernandes, Pr yang memimpin dalam kurun waktu yang paling lama, yakni 15 tahun, dan praeses yang memegang tongkat kepemimpinan estafet sekarang adalah Rm. Yustus Ati Bere, Pr”, tutur Rm. Sipri Tes Mau, Pr.

Tulisan ini hasil dari Pelatihan Jurnalistik yang dilakukan di Wisma Emaus, Atambua yang diselenggarakan oleh Komsos KWI dan Keuskupan Atambua pada 26 Februari – 1 Maret. Ditulis oleh Putri, Stefania, Maria Flaviana, Luis J.P, Alex Alfa.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.