Semarak Misa Peringatan 1.000 Hari Frans Seda di Unika Atma Jaya Jakarta (1)

MISA semarak memperingati 1.000 Hari meninggalkan tokoh nasional Frans Seda baru saja digelar di Gedung Yustinus Unika Atma Jaya Jakarta. Kali ini, ekaristi mirunggan ini dipimpin oleh dua uskup yakni Uskup Agung Jakarta Mgr. Ignatius Suharyo bersama koleganya mantan Uskup Malang dan Merauke yakni Mgr. FX Hadisumarto O’Carm serta empat orang pastur lain.

Tiga menteri katolik juga hadir dalam perhelatan iman ini yakni Menhan Purnomo Yusgiantoro, Menkes Nafsiah Mboy dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Marie Elka Pangestu. Mantan Menteri Pemuda dan Olah Raga Cosmas Batubara juga terlihat hadir bersama eksponen mahasiswa Angkatan 66 Hari Tjan Silalahi.

Kehadiran Kompas diwakili oleh St. Sularto. Selain pimpinan teras Yayasan dan Unika Atma Jaya, hadir pula dua mantan rektornya yakni Bernadette Setiadi dan Thomas Suyatno.

Beberapa pengurus Yayasan Bhumiksara juga datang menghadiri perayaan iman tersebut. Mendiang Frans Seda termasuk salah satu penggagas berdirinya yayasan nirlaba ini pada tahun 1988.

Bukan sekedar hominisasi

Dalam pesan moralnya melalui homili, Uskup Agung Jakarta Mgr. Ignatius Suharyo menyatakan, hidup ini bukanlah sekedar proses hominisasi (menjadi manusia). Bukan pula sekedar proses humanisasi (menjadi lebih manusiawi). “Melainkan harus menjadi proses divinisasi (menjadi semakin ilahi),” tandas mantan dosen Kitab Suci Perjanjian Baru ini.

Mgr. Ignatius Suharyo lalu merujuk pada Ekaristi dimana proses divinisasi itu terjadi. “Itu terjadi dalam perlambangan dimana dilakukan oleh imam dalam setiap ekaristi yakni pencampuran air ke dalam anggur dan bukan sebalilknya: anggur dimasukkan dalam air. Kita ini harus menjadi seperti  Yesus, yakni menjadikan diri kita tercampur ajur bersama Sang Anggur,” kata Mgr. Suharyo.

Apakah proses divinisasi itu bisa berjalan dengan baik?

Menurut Mgr. Ignatius Suharyo, mendiang Frans Seda telah menunjukkan proses tersebut.  “Yakni menata hidup senantiasa dalam harapan. Itulah yang saya kira bisa ditelusuri mengapa pihak keluarga sengaja memilih bacaan pertama diambil dari Kitab Wahyu 21:1-5a,” kata Uskup Agung  Jakarta ini.

Menurut Mgr. Suharyo, menaruh hidup dalam sebuah keranjang besar bernama harapan akan membawa kita jauh dari dua macam ekstrimisme yakni:

1. Rasa putus asa: Orang beriman tidak boleh berputus asa, karena Allah akan menjadikan segala sesuatu baru (Wahyu 21:5a)

2. Kesombongan:  Kalau ada yang berhasil kita lakukan, itu kita sadari bukan karena semata-mata hasil pekerjaan manusia melainkan karya Allah telah menjadikan segala sesuatu baru. (Bersambung)

Photo credit: Misa Peringatan 1.000 Hari Meninggalnya Frans Seda di Unika Atma Jaya Jakarta (Royani Lim)

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.