Semangat 4G di Paroki Santo Yosep Mejasem Tegal

< ![endif]-->

INI cerita sedikit bulan lalu, saat warga Paroki Santo Yosep Mejasem di Kodya Tegal, Jawa Tengah  merayakan Natal tahun 2013 lalu. Misa Natal dimulai pukul 09.25 dan baru saja usai menjelang tengah hari.

Saya menyaksikan, banyak aktualisasi diri berhasil ditampilkan oleh umat dari berbagai lingkungan yang ada di Paroki Mejasem, Tegal. Ada yang datang dari kelompok kategorial, lingkungan/wilayah, anak-anak dan gtentu saja Orang Muda Katolik (OMK). Acara digelar usai perayaan Ekaristi Natal.

Maka dari itu, seluruh sudut-sudut gereja langsung dipenuhi umat, tanpa kecuali seputaran joglo, selasar, aula, dan pasturan. Sebelumnya juga sudah tertampilkan beberapa potong nasi tumpengan yang ikut dilombakan. Usai lomba, maka tumpeng-tumpeng itu akan menjadi makanan bersama bagi sekalian umat yang hadir.

Benar juga, usai berlangsung doa makan dan penyalaan lilin, begitu ada aba-aba ‘serbuuu’ maka tumpeng-tumpeng indah itu sudah menjadi target sasaran umat untuk menikmati hidangan bersama secara kekeluargaan.

Kompleks gereja yang biasanya terasa longgar kali itu sungguh serasa penuh, sesek. Kemeriahan umat terbawa arus oleh suasana kebersamaan yakni merayakan iman sekaligus mensyukuri iman itu sebagai pesta iman dan makan bersama.

Namun, tak seberapa lama kemudian dan usai semua bisa makan kenyang, maka ritual SMP alias sesudah makan ya pulang pun terjadi.

Mejasem Paroki Natalan 2

Pelataran gereja yang semula penuh sesak secara perlahan beringsut menjadi sepi.Anak-anak merengek minta pulang kepada ibunya. Bapaknya anak-anak tak bisa menolak, ketika istri dan anaknya minta diboncengi pulang ke rumah. Sampun tuwuk, Mas! (Sudah kenyang, Mas) begitulah kira-kira isi hari umat ini usai dibuat kenyang oleh makanan tumpengan dan merayakan santapan rohani berupa perjamuan Ekaristi Natal.

Memang menjadi dilema bagi panitia: mau dialokasikan waktunya kapan untuk acara makan bersama ini? Di depan sebelum misa? Jelas susah dan ribet. Di tengah misa, ya pasti tidak mungkin. Pilihan terbaik memang setelah misa selesai, maka inilah saatnya makan bersama.

Ya tidak perlu ‘meributkan’ kenapa SMP –sesudah makan kenyang, lalu pulang—karena inilah jatidiri sebuah perayaan bersama. Tidak perlu idealisme tinggi dengan harapan umat bisa berlama-lama di pastoran. Cukuplah mau mengerti, bahwa sesudah kenyang dan mengikuti perayaan iman, maka waktunya untuk bisa ‘undur diri’ pulang ke rumah.

Merayakan iman

Misa Natal sudah berlalu satu bulan silam. Namun, sisi-sisi lain dari sebuah perayaan iman mengikuti Ekaristi Natal bersama segenap umat Paroki Mejasem Tegal tetaplah tinggal nyaman di hati.

Bagi saya, Ekaristi Natal itu sungguh merupakan sebuah perayaan Natal  bersama; sebuah pesta iman Paroki Mejasem. Artinya, inilah sebuah   perayaan rohani  yang  diselenggarakan oleh  kaum beriman untuk mengungkapkan dan mewujudkan imannya secara komunal.

Baru kalau bicara tentang sedikit idealisme, maka perlulah sedikit semangat lebih  untuk  tetap  setia dan tabah  sampai  akhir; sedikit mau askesis. Saya menyebut hal-hal ini, karena aksesis (matiraga, prihatin)  menjadi  bagian  tak terpisahkan dari  semangat  iman.

Menghargai,  memberdayakan, mau berbagi,  meneguhkan dan menguatkan, menyemangati, memaafkan, dan menerima  yang  lain sesuai dengan  adanya, rela berkorban  nampaknya harus  menjadi  greget yang  nyata dalam tindakan setiap orang beriman. Ini penting agar perayaan  bisa menjadi sebuah gerakan yang sifatnya spontan karena tidak dipaksa-paksa, atmosfir kebebasan, perasaan gembira. Yang penting juga, jangan telalu  terikat pada pakem, karena yang lebih penting adalah adanya wahana dimana iman bisa teraktualisasi dalam sikap  bertanggungjawab setia.

Bagi  warga Paroki  Santo Yosep Mejasem, maka sudah ada wanti-wanti 4G dari Bapak Uskup Purwokerto Mgr. Julianus Sunarka SJ. Itu beliau katakan sendiri dalam kotbah beliau saat resmi membaptis Mejasem sebagai Gereja Paroki baru yang mandiri pada bulan  Oktober 2007.

Rumus 4G itu adalah  Guyub, Gumreget,  Gumregah,  Gumrayah. Semoga resep hidup beriman dan berumat dengan semangat 4G ini tidak menjadi luntur dalam perkembangan waktu. Melainkan menjadi milik rohani bersama, menjadi semangat hidup beriman dan berumat bagi setiap anggota Paroki Mejasem Tegal.

Photo credit: Suasana pesta natal bersama di kompleks Gereja Paroki St. Yosep Mejasem, Tegal, Jawa Tengah (Tarcisius Susanto Adhi)

Tautan: Natal di Gereja Hati Kudus Yesus Tegal, Sebuah Perayaan Iman yang Meneguhkan

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.