Semakin Mendekatkan Hidup Kita kepada Tuhan dan Menghargai Sesama, Mt: 5:17-27

< ![endif]-->

APA maksud bacaan Injil pada hari ini? Yesus mau mencegah agar para muridNya tidak terperosok dalam sikap agama yang kaku, yaitu hanya menuruti aturan dan hukum.

Sebenarnya kalau kita amati semua perintah itu muaranya yaitu agar kita semakin dekat dengan Tuhan dan semakin dapat menghargai sesama. Maka kalau orang menaati perintah tetapi tidak semakin dekat hidupnya pada  Tuhan dan tidak semakin menghargai sesama, maka pastilah ada sesuatu yang tak beres. Perintah demi perintah itu tidak ada.

Kita pun kadang-kadang juga terperosok dengan semangat aturan. Bahkan kita mengira bahwa orang yang suci adalah orang yang taat pada aturan saja. Ada umat yang semakin memperketat aturan paroki, memperumit aturan liturgi, dengan membeuat bermacam-macam aturan, bahkan  aturan lingkungan dan doa yang digunakan pun diatur, sehingga akibatnya muncul istilah sah dan tidak sah.

Dan akibat yang jelas justru dimana ada banyak aturan tanpa alasan,  banyak umat yang menghindar, bukan akan semakin dekat dengan Tuhan, tetapi justru semakin bosan.  Kita mudah sekali menilai orang lain dan diri kita sendiri hanya tergantung dari ketaatan aturan. Kita masih kerap mendengar orang bertanya: Begini itu boleh atau tidak. Ini dosa apa tidak?

yesus-lawan-orang-farisi-ttg-bersih-dan-tidak-bersih

Hidup suci, hidup saleh dan hidup yang berkenan kepada Tuhan itu bukan soal tidak melakukan kesalahan atau dosa, tetapi apakah kita semakin mendekatkan hidup kita dengan Tuhan, dan apakah kita semakin meningkatkan perbuatan kasih kita?.

Semakin kita melakukan banyak perbuatan kasih, kita semakin tidak akan bepikir ini dosa atau tidak dosa.

Kita masih ingat akan kisah seorang muda yang ingin menjadi pengikut Yesus. Dan Yesus menanyakan apakah telah melaksanakan perintah Tuhan? Dan pemuda itu menjawab bahwa ia telah melakukan semuanya sejak kecil. Dengan begitu ia telah menganggap dirinya baik.

Tapi Yesus mengatakan: Juallah milikmu dan hasilnya, berikanlah kepada orang miskin, maka kami boleh mengikuti Aku.

Ternyata bagi Yesus hidup hanya menuruti aturan atau Sepuluh Perintah itu bukan pertanda suci, tetapi baru menunjukkan bahwa orang itu normal. Nah kalau ingin suci dan dekat dengan Tuhan harus membuat sesuatu yang lebih: lebih sosial, lebih berderma, berani berbagi dengan orang lain, lebih menghargai orang lain.

Kalau tidak demikian  Tuhan Yesus akan mengatakan bahwa hidup keagamaan kita tidak lebih dari kaum Farisi.

Kesimpulan renungan ini ialah bahwa melaksanan  perintah  secara  harafiah  itu   tidak cukup, tetapi  kita harus tahu untuk apa itu? Tujuannya apa?  Atau lebih tepat lagi: apa maksud dibalik perintah itu?  Orang  Parisi  dan ahli taurat dikritik oleh Yesus,  justru karena  mereka hanya pelaksana aturan, tetapi tanpa tahu  mengapa dan  untuk  apa mereka harus taat.

Ketaatannya  menjadi  kering dan mandul. Tidak ada cintakasih.

Photo credit: Ilustrasi (Ist)

 

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.