Selamat Jalan Hendra

girisonta makam

HENDRA, ketika beredar cerita inspirasi tentang seorang laki-laki dewasa yang mengajak makan malam ibunya di media sosial, ramai orang meneruskan ke jaringannya. Saya mendapat kiriman cerita tersebut lebih dari lima kali.

Cerita tersebut sebenarnya sudah bertahun-tahun lalu saya dimuat di salah satu seri Chicken Soup yang terkenal itu, saya ingat ceritanya karena memang mengesankan. Saya teringat dirimu ketika cerita singkat tersebut sampai lagi ke hp bututku yang suka bertingkah itu. Dirimu terlintas karena sudah melakukan inti dalam cerita tersebut: kontaklah orang-orang yang kita kasihi, keluarga atau pun sahabat sebelum terlambat.

Hendra, terus terang saya agak kaget ketika di pertengahan Februari menjelang Imlek tahun ini tiba-tiba seorang teman kita bersama meminta nomor telpon saya dengan alasan ‘dicari Hendra’. Wah, ada apa ini, batinku waktu memberikan nomor saya kepadanya untuk diteruskan kepadamu. Heran karena setelah beberapa dekade kita tak bertemu tiba-tiba dirimu ingin menelpon saya. Kapan ya terakhir kita bertemu? Jangan-jangan setelah tamat sekolah menengah dengan baju biru dan muka culun serta lugu itu?

Hendra, walau serasa seabad kita tak berjumpa, saya ingat wajahmu yang sering tersenyum dan tertawa. Saya ingat dirimu tidak termasuk siswa nakal yang sering dipanggil menghadap ke ruang kepala sekolah kita yang segalak Margaret Thatcher. Saya ingat dirimu tidak pernah mengganggu siswa putri seperti beberapa teman kita yang jahil. Kesan baik itu rupanya terekam di memoriku dan muncul seketika waktu namamu dicetuskan.

Hendra, dengan senang hati saya mengiyakan ketika dirimu mengontak via WhatsApp program empunya Facebook yang konon pelanggannya sudah mencapai 800 juta bulan April ini – minus satu hari ini. Dirimu mencoba berteka-teki dengan hanya memberiku inisial nama HS ketika kutanya. Tapi tentu saja itu tidak serumit perkara yang ditangani Hercule Poirot atau si jenius sableng Sherlock Holmes karena saya ingat langsung tentang permintaan nomor telpon kala itu.

Hendra, chatting kita via WA penuh warna kuning dan keceriaan karena saya jadi ikut-ikutan dirimu yang suka menggunakan emoticon senyum manis mata sipit itu. Walau tidak bersuara, saya merasa ‘percakapan’ dengan dirimu enak dan asyik karena disertai senyum.

Kemudian dirimu menelpon setelah menanyakan dahulu apakah boleh ‘mengganggu’. Tentu saja boleh, sama sekali saya tidak merasa terganggu, malah tersanjung kok ada teman begitu lama yang ingat dan bela-belain mau menelpon. Terima kasih ya Hendra.

Kita mengobrol lama, setengah jam kali ya? Kali ini memori saya tidak salah upload, suara dan karaktermu masih sama seperti dulu. Masih penuh tawa dan sopan santun. Kita bicara ngolor ngilur dari mengulang poin-poin sejarah penting setelah tak bertemu sampai kabar dan isu terkini teman-teman lama kita.

Tentu waktu tak cukup untuk mengupas semuanya, maka kita mengatakan ‘lain kali kita bicara lagi’ dan bahkan muncul janji ‘reuni lain kali ikut ya’. Saya waktu itu merasa ‘lebih hebat’ karena pernah reuni kecil dengan teman-teman sedangkan dirimu baru sekarang mulai mendapat kontak teman kita.

Hendra, chatting kita beberapa kali setelah itu singkat sebatas ‘apa kabar’. Tapi itu menunjukkan perhatian dari seorang sahabat ya, dan juga tahu bahwa masing-masing punya kerjaan yang harus dituntaskan. Oh ya, kita bicarakan juga kesukaanmu minum kopi. Sehari minimal dua cangkir ya?

Engkau mengajak saya masuk WA group elementary kita, dan saya akhirnya bergabung. Tapi maaf, hanya beberapa hari saya terpaksa keluar. HP buntut saya nafasnya senin kemis soalnya. Toh selama beberapa hari bergabung lalu lintas chatting yang begitu aktif dinamis menegaskan kembali karakter baikmu. Teman-teman lama kita tentu ada yang degil dan banyak sekali yang suka bercanda. Ada yang mengolokmu tapi dirimu dengan santai menanggapinya. Keinginanmu untuk mengontak langsung mereka lewat telpon dirasa lucu oleh beberapa teman ya.

Hendra, maaf ya saya tidak memenuhi permintaanmu untuk masuk kembali dalam group dan ikut dalam obrolan. HP buntut saya terlalu mahal untuk diganti – maksudnya secara ekonomis saya belum boleh mengalokasikan dana untuk HP baru nan canggih. Maka kita hanya bertukar kata lagi via japri.

Hendra, ketika dirimu masuk rumah sakit di awal bulan April ini, saya tidak tahu sampai dirimu mengajak chatting. Maafkan saya tidak peka, saya merasa bahwa dirimu hanya perlu istirahat beberapa hari di rumah pengobatan itu dan kembali aktif bekerja lagi. Oh ya, saya tertarik dengan pekerjaanmu yang berkeliling dan menjumpai petani-petani pemasokmu. Saya ingin mengobrol tentang pemberdayaan petani atau istilah kerennya community development denganmu, kalau kita bertemu di reuni. Begitu hatiku mencatat.

Hendra, maafkan saya tidak membezukmu waktu itu. Saya hanya dengan ‘sok tau’ memberitahumu agar berobat ke dokter. Tapi rupanya dirimu kenal karena pernah menjadi pasiennya puluhan tahun lalu.

Hendra, hari ini saya akhirnya datang menemuimu, menempuh perjalanan panjang demi dirimu. Dua kali saya berjalan ke halte busway karena rupanya ketika pagi hari kesana, halte busway ditutup karena para kepala negara KAA akan lewat dan mereka orang-orang VVIP maka tidak layak mengalami kemacetan seperti kita.

Saya pergi lagi siang hari, menyusuri jembatan halte busway terpanjang di Indonesia (mungkin di dunia) menuju koridor 9 TransJakarta. Turun di pemberhentian Pejaringan, menyeberang jalan mencari tukang ojek di tengah terik matahari. Akhirnya tiba di Heaven Gedong Panjang dimana dirimu berbaring.

Hendra, saya berbicara dengan abangmu, wajah kalian mirip sekali ya. Dia heran melihatku, belum pernah ketemu tentunya. Ketika saya memperkenalkan diri sebagai teman lama, kami duduk ngobrol lama. Dia bercerita tentang dirimu yang tampak sehat sampai drop beberapa hari ini. Kemudian abang iparmu tiba. Buket bunga putih indah sudah menghias altarmu.

Ada dua, dan dua buket besar ditaruh di pajangan berdiri di kiri kanan altar buatmu. Indah sekali Hendra. Jasadmu sudah dimandikan dan dipakaikan jas elegan, hanya masih menunggu ibumu tiba baru dipindahkan ke lantai 8. Oh ya, ruangmu namanya Taurus, apa sesuai dengan bintangmu?

Hendra, abangmu tampak begitu sedih dan menahan tangis ketika menceritakan tentang sakitmu. Jelas kalian keluarga yang dekat dan penuh perhatian ya. Abangmu bercerita bahwa ibumu kerap membuatkanmu obat tetapi mungkin dirimu kurang memperhatikan dengan baik kesehatanmu sendiri. Tipikal orang muda muda dan penuh semangat ya. Abangmu juga cerita bagaimana dirimu mengorbankan kesehatan dengan bekerja keras membangun bisnismu dulu. Ah, pengorbanan yang dibayar mahal ya.

Hendra, sekarang dirimu sudah bebas dari rasa sakit dan teman-temannya yang merepotkan itu. Selamat jalan teman, nikmatilah istirahat abadimu di surga. Saya yakin dirimu layak berada disana. Terima kasih atas semua senyum ramahmu, terima kasih atas segala sapaan hangatmu, terima kasih atas seluruh persahabatan yang engkau berikan tanpa pamrih. Selamat berbahagia di rumah Tuhan.

Titip salam ya untuk teman-teman lama kita, Hui Suan, Susmanto, Bak Yang, Susilawati dan lainnya.

Loading...

Published by Renungan Iman Katolik

Merenungkan sabda Tuhan di saat hening di pagi hari akan menjaga hati dan pikiran kita dari kuasa roh jahat. Berkah Dalem...

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.