Sekretaris Dewan Kepausan Pastor Guixot: Jangan Tonjolkan Mayoritas vs. Minoritas

Atma Jaya Dean Prof Lanny Panjaitan Fr. Guixot OK

SEKRETARIS  Dewan Kepausan yang juga merangkap sebagai Wakil Presiden Komisi Kepausan bidang Hubungan Religius dengan Umat Islam Pastor Miguel Ángel Ayuso Guixot dalam beberapa hari terakhir ini mengadakan safari kunjungan kerja ke Indonesia.

Ia datang bersama  Romo Markus Solo SVD,  sekretaris pribadi Kardinal Jean-Louis Pierre Tauran, Presiden Dewan Kepausan Bidang Dialog Antar Agama Vatikan.

Romo Markus Solo SVD adalah putra asli Indonesia, anggota Kongregasi Religius Serikat Sabda Allah (SVD) Provinsi Austria dan berasal dari Flores, NTT.

Dalam kesempatan perdana ke Indonesia ini, Pastor Miguel sangat terkesan dengan antusiasme dan keaktifan para peserta yang hadir dalam acara dialog di berbagai tempat.  “Hasil kunjungan ini melebihi harapan saya,” jawabnya bersemangat ke Sesawi.Net ketika ditanya kesannya setelah acara pertemuan di Unika Atma Jaya Jakarta.

Pastor Miguel dan Romo Markus dengan didampingi tim Komisi HAK KWI menghadiri dialog dengan tiga organisasi Islam terbesar di Indonesia yaitu Nadhatul Ulama, Muhammadiyah, dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Selain itu mereka juga mengunjungi kampus UIN Syarif Hidayatullah dan Unika Atma Jaya, serta KWI.

Kunjungan pejabat Vatikan ke Unika Atma Jaya Jakarta

Kunjungan pejabat Vatikan ke Unika Atma Jaya Jakarta: Rektor Unika Atma Jaya Jakarta Prof. Lanny Panjaitan menerima kunjungan Pastor Guizot, Sekretaris Dewan Sekretaris Dewan Kepausan yang juga merangkap sebagai Wakil Presiden Komisi Kepausan bidang Hubungan Religius dengan Umat Islam. Kedatangan Pastor Guizot ke Indonesia merupakan kunjungannya yang pertama kali. Ia datang ditemani Romo Markus Solo, sekretaris pribadi Kardinal Tauran yang menjabat Presiden Komisi Kepausan bidang Hubungan Religius dengan Umat Islam. (Sesawi.Net/Royani Lim)

Di kampus mereka dipertemukan dengan sejumlah dosen dan mahasiswa dari beragam latar belakang agama, sedangkan di KWI mereka berdiskusi dengan pimpinan ormas dan lembaga kategorial dalam lingkungan Keuskupan Agung Jakarta.

Dialog di Unika Atma Jaya
“Tujuan dialog adalah untuk sharing pengetahuan dan pengalaman dalam kaitannya dengan hubungan antar umat beragama di Indonesia,” ungkap Romo Markus Solo SVD yang merupakan orang Indonesia pertama yang berkarya di sebuah lembaga Vatikan.

Dialog di kampus Atma Jaya dihadiri 30 orang. Rektor Unika Atma Jaya Prof. Lanny Pandjaitan hadir lengkap bersama empat wakilnya. Beberapa dekan diantaranya Dekan Fakultas Psikologi, Fakultas Hukum, Fakultas FIABIKOM, dan Fakultas Ekonomi juga tampak berbaur.

Keberagaman harmonis di civitas academica Atma Jaya kentara dengan hadirnya sejumlah dosen senior dan mahasiswa yang non-katolik. Keberagaman mereka tampak menyatu serasi; Susy Sanie, peneliti dan dosen yang berjilbab duduk diapit Prof. Bernadette Setiadi di sebelah kanannya dan Carya, seorang suhu (bhikuni Budha) dengan jubah abu-abunya.

Suhu Carya merupakan mahasiswa fakultas psikologi yang sedang menyelesaikan skripsi dalam jurusan bimbingan dan konseling.

Sharing bersama

Sharing iman: Pada kesempatan kunjungan ke Unika Atma Jaya Jakarta, Pastor Guizot mendengarkan kesaksian dan sharing iman dari beberapa dosen dan mahasiswa non katolik tentang bagaimana suasana kebersamaan tanpa ada tendensi membeda-bedakan orang berlatar belakang agama berbeda. (Sesawi.Net/Royani Lim)

Susy, doktor ilmu ekonomi Islam, menyatakan diterima dengan baik oleh teman sejawat maupun mahasiswa dan karyawan Atma Jaya. Ia telah mengabdikan diri di Atma Jaya selama lebih dari 30 tahun dan merasa sebagai bagian Atma Jaya.

“Bakti saya di Atma Jaya saya rasa sesuai dengan ajaran Islam. Sebagai peneliti kadang saya mewakili kampus ke daerah-daerah dan penerimaan baik semua walau ada yang heran wakil dari universitas katolik kok berjilbab,” tuturnya pengajar yang mulai bergabung di Atma Jaya pada usia 21 tahun ini.

Suhu Carya mengisahkan pengalamannya selama 4 tahun kuliah di Atma Jaya.

“Saya diterima dengan baik, diperlakukan sama sebagai mahasiswa oleh para dosen dan teman mahasiswa. Memang kadang ada petugas kebersihan atau keamanan yang tampak takjub melihat tampilan saya yang berjubah dengan rambut klimis,” ceritanya sambil tertawa.

“Usul saya diadakan pengenalan pengetahuan tentang agama-agama lain bagi seluruh karyawan, supaya mereka punya sedikit pemahaman terhadap agama lain.”

Di seberang meja duduk Prof. Bahren Umar Siregar, doktor ilmu applied linguistic yang bergabung di Atma Jaya sejak tahun 2005.

“Sebagai muslim, saya minoritas di Atma Jaya. Tetapi sama sekali tidak ada halangan dan pertentangan yang saya alami. Atma Jaya merupakan lingkungan yang menghargai perbedaan keyakinan. Saya bisa beribadah dengan leluasa di sini,” cerita Prof. Bahren tentang pengalamannya bekerja di universitas katolik pertama di dunia yang didirikan oleh awam ini.

Hindari penggunaan mayoritas dan minoritas
Pastor Miguel menanggapi gembira  semua sharing yang muncul, tetapi dia menekankan bahwa penggunaan istilah mayoritas-minoritas tidaklah tepat. “Tidak ada yang mayoritas maupun minoritas; kita adalah satu keluarga umat manusia,” tuturnya mengutip pesan Paus Fransiskus.

Kesaksian

Tak membeda-bedakan: Kesaksian dari Prof. I Made Supancana, guru besar ilmu hukum internasional, tentang suasana kerja yang sangat kondusif di Unika Atma Jaya Jakarta dimana tidak ada perlakuan diskriminatif terhadap karyawan dengan latar belakang agama berbeda. (Sesawi.Net/Royani Lim)

Kesadaran perlunya menanamkan penghargaan atas keberagaman kepada mahasiswa Atma Jaya juga dilakukan lewat mata kuliah Multikulturalisme, yang wajib diambil oleh semua mahasiswa di semua fakultas sejak tahun 2003.

Lingkungan Atma Jaya yang kondusif membuat para pengajar dengan latar belakang agama non-katolik merasa betah. Seperti diutarakan Prof. I Made Supancana, guru besar ilmu Hukum Internasional Atma Jaya yang beragama Hindu, “Saya merasa at home di sini”.

Hal yang sama juga dikemukakan Sofian Sugioko, yang walaupun beragama Protestan pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Ekonomi dan sekarang dipercaya sebagai Wakil Rektor II.

Musuh terbesar dialog: rasa takut
Pastor Miguel menanggapi setiap sharing dan menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan peserta dialog. Pengalamannya tinggal beberapa tahun di negara Islam dan studinya tentang Islamologi memberinya wawasan pemahaman tentang keberagaman di Indonesia. Ia menyatakan kekagumannya atas penghargaan yang tampak di negara dengan populasi muslim terbesar di dunia ini.

Lebih lanjut ia memaparkan pengalaman mereka dalam berkutat dalam bidang dialog antar agama. “Musuh terbesar dalam dialog adalah ketakutan. Takut disebabkan karena ketidaktahuan, praduga dan generalisasi berlebihan sehingga tidak ingin mendengar dan berdialog dengan orang lain,” urainya.

Atma Jaya Dean Prof Lanny Panjaitan Fr. Guixot and Fr. Markus Solo

Kunjungan pejabat Vatikan: Rektor Unika Atma Jaya Jakarta Prof. Lanny Panjaitan menjadi tuan rumah bagi kunjungan pejabat vatikan dari Dewan Kepausan untuk Hubungan Antar Agama Pastor Guizot bersama Romo Markus Solo SVD. (Sesawi.Net/Royani Lim)

“Kita semua berkarya pada tatanan pelayanan manusia. Sayangnya ada pihak yang ingin merusak perdamaian yang terbina. Maka merupakan tanggung jawab kita untuk turut menjaga dan melestarikan dialog terus menerus yang mengarah pada perdamaian,” pesannya.

Pastor Guizot  menyatakan pujian dan penghargaan tinggi kepada Unika Atma Jaya Jakarta yang telah mengumpulkan mahasiswa dan dosen non-katolik untuk hadir dalam kesempatan dialog tersebut. Para mahasiswa juga aktif mengemukakan pandangan dan pengalaman mereka selama berkuliah di Atma Jaya.

“Saya tidak merasakan pembedaan perlakukan dari para dosen dan teman-teman saya. Saya selalu diterima dengan baik, kuliah di Atma Jaya menyenangkan buat saya,” demikian salah satu testimoni dari mahasiswi muslim yang hadir dengan jilbabnya.

Prof. Lanny Pandjaitan menyampaikan rasa terima kasih atas kunjungan wakil Dewan Kepausan tersebut dan berharap agar dialog yang terjadi membawa pengetahuan yang dapat digunakan dalam keseharian civitas academika. Iaa berharap kunjungan tersebut juga memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang Atma Jaya kepada Vatikan.

Kredit foto: Prof. Lanny Panjaitan bersama tamunya dari Vatikan: Pastor Guizot.  (Sesawi.Net/Royani Lim)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.