Sekolah Katolik dan Kecemasan Saya (2)

KEKUATIRAN saya tentang masa depan pendidikan katolik terutama jika dikaitkan dengan kompetitor muncul karena adanya beberapa faktor sebagai berikut:

  1. Sekolah-sekolah non katolik sekarang juga sudah menawarkan kualitas pendidikan dan pembinaan karakter yang kurang lebih sama baiknya dengan sekolah katolik. Bahkan bermunculan pula sekolah-sekolah internasional yang mulai dilirik sebagai pilihan karena mengembangkan kurikulum berbasis luar negeri dengan penekanan penting pada aspek bahasa asing.
  2. Sekolah-sekolah berbasis keagamaan non katolik dipandang lebih mampu untuk memberikan nilai plus pembinaan keagamaan yang sama dengan yang dianut oleh murid yang bersangkutan dibandingkan apabila yang bersangkutan belajar di sekolah katolik dengan nilai keagamaan yang berbeda.

Ini baru permasalahan terkait dengan kompetitor eksternal, maka permasalahan pun seringkali datang dari kalangan internal kita sendiri. Beberapa orangtua katolik lebih cenderung memasukkan anaknya ke sekolah negeri karena persepsi terhadap sekolah katolik yang dianggap sebagai sekolah mahal. Sebaliknya beberapa orangtua lainnya dari kalangan menengah ke atas lebih memilih sekolah –sekolah internasional karena berfikir kurikulum internasional akan lebih cocok bagi kemajuan putra/putri mereka.

Saya punya adik bersekolah di sekolah swasta katolik untuk tingkatan SMP. Orangtua saya “terpaksa” harus merogoh kocek lebih dalam untuk memasukkan adik saya ke sekolah tersebut dengan pertimbangan kualitas pendidikan dan penanaman nilai kekatolikan. Namun apakah memang bahwa segala sesuatu yang baik itu harus berbiaya mahal?

Saya pikir “Bisa iya, bisa juga tidak.”

Nampaknya Gereja perlu memikirkan ulang masa depan sekolah-sekolah katolik dengan keadaan zaman yang sudah sedemikian berubah. Sekolah-sekolah katolik sebagai salah satu garda depan wajah Gereja perlu lebih memperlihatkan keberpihakannya kepada orang-orang kecil, lemah, miskin, dan tersingkir, dan bukan sebaliknya mengutamakan mereka yang kondisinya sudah mapan.

Selain itu Gereja pun perlu memikirkan kembali bagaimana mempertahankan dan bahkan sekaligus dapat menambah keunggulan-keunggulan sekolah katolik sehingga dapat tetap menjadi pilihan nomor wahid para orangtua dalam menyekolahkan anaknya. Tentunya orangtua di sini harapannya tidak hanya berasal dari kalangan internal saja, namun juga berasal dari kalangan-kalangan lainnya.

Mudah-mudahan dengan usaha-usaha yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman, kita dapat mempertahankan eksistensi sekolah-sekolah katolik secara lebih kontekstual di tengah masyarakat.

AMDG (Selesai)

Artikel terkait:

Quo Vadis Sekolah Katolik?

Tautan: http://albhum2005.com/?p=691

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.