Sejumput Kebijaksanaan dari Bandeng Juwana (2)

IKAN bandeng tidak bisa hidup tanpa aliran air laut. Tanpa aliran kuasa Allah, kehidupan juga tidak berlimpah. Paduan rahmat Allah dan kerjasama manusia menjadikan hidup ini seimbang. Iman adalah kerjasama kita. Iman sungguh anugerah yang membawa sukacita, previlige yang membawa syukur serta tantangan untuk membagikannya. Inilah anugerah besar dalam hidup yang perlu senantiasa mengalir.

Namun kadang kala hidup tidak mengalir, mandeg, tidak seimbang, mengering, kosong dan sesak. Hidup kita terasa kurang garam. Kita tidak membuka channel aliran air laut rahmat Allah. Kita cenderung ingin berpusat pada diri sendiri. Hidup seolah tanpa fokus. Karya tanpa devosi dan inspirasi. Keasingan menjadi beban. Keaktifan menenggelamkan. Kerja menjadi tirani. Kerinduan akan suksesan dan popularitas mengeringkan.

Saat kering inilah saat untuk pause. Kita diingatkan bahwa jalan hidup ini bukanlah peziarahan manusiawi semata. Manusia perlu kembali ke sumber kelegaan, hidup mistik yakni hidup dalam kesatuan dengan Allah. Sebagai orang beriman kita perlu kembali kepada doa. Kita perlu menemukan gaya, ritme serta habitus doa kita sendiri.

Spirit of understanding

Ikan bandeng terkenal banyak durinya namun soal rasa banyak orang menyukainya. Duri kerapuhan diri kita juga banyak. Namun belajar dari tokoh Kitab Suci kita menemukan insight bahwa Allah bukan hanya memilih kesempurnaan namun mereka yang bersedia ambil bagian dalam rencanaNya, rendah hati mengaku dan bergantung padaNya.

Allah menerima kita apa adanya. Dia maha pengampun. Maka Henri Nouwen mengajak kita befriending our brokennes. Pencarian kesempurnaan yang sesungguhnya kadang merupakan pencarian yang menyakitkan. Banyak air mata mengalir. Jangan takut! Itulah pesan indahnya. Semakin menyadari kerapuhan kita, semakin menyadari juga bahwa kita memiliki kekuatan untuk menghadapinya.

Duri paguyuban juga amat beragam. Ada iri hati, konflik, kebencian, komunalisme, isu SARA dsb. Ini seringkali merapuhkan semangat. Pelayanan membutuhkan tanah yang subur dari hidup paguyuban. Secara instinktif kita mengharapkan orang-orang yang cocok sebagaimana geografis yang cocok membuat bandeng Juwana menjadi baik. Sayangnya kita tidak pernah menemukan kondisi hidup bermasyarakat yang ideal.

Tak ada yang sempurna

Tidak pernah ada paguyuban sempurna. Tidak pernah ada kondisi hidup bersama yang sungguh tepat. Namun kita mesti hidup dalam paguyuban. Kehidupan sosial tidaklah serba sekular. Kehidupan sosial berada di dalam rencana Allah. Kehidupan sosial merupakan bagian dari dinamika kehidupan Allah. Lantas, kita berfikir secara toleran manusiawi lebih baik berkata, “You’re not OK, I’m not OK but it’s OK”.

Semangat memahami ini sungguh membantu. Namun kita diajak bukan hanya memahami melainkan merasakan dan menghidupi. Kita ditantang menghidupi duri itu dan bukan hanya memikirkannya. Lebih baik merasakannya bukan sekedar memahaminya. Lebih baik memasuki dan menghayatinya dalam silentium ketimbang memperbicangkannya. Lebih baik membawanya ke dalam hati (tumus ing ati) bukan hanya di kepala saja.

Tidak ada final healing yang datang hanya dari kepala. Kita perlu membiarkan duri masuk ke dalam hati. Kalau sementara orang lebih suka bandeng cabut duri, kita tidak perlu takut karena duri kehidupan itu tidaklah merusak kita. Hati kita bagaikan laut, lebih besar daripada kerapuhan dan duri kita. Maka kita tetap berani maju bersama Allah.

Photo credit: Panen bandeng (Bandeng Puspita)

Tautan:

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.