Sejumput Kebijaksanaan Bandeng Juwana (1)

ALAM semesta ini bagaikan ‘buku” yang bisa terbaca semua orang, baik anak-anak maupun orang dewasa. Alam bisa membuat kita kagum. Bersentuhan dengan alam juga bisa menghantar kita pada penemuan kembali arah yang benar dan kenyataan diri sebagai ciptaan yang rapuh lemah namun memiliki “kapasitas akan Tuhan” (capacity for God).

Secara batiniah, kita terbuka pada yang Ilahi.

Alam ciptaanNya ini bisa dibaca sebagai keuntungan ekonomi, alat kekuasaan, sarana pemenuhan kerakusan, objek penelitian dan sebagainya. Namun bagi sementara orang, alam justru menghantar pada Sang Pencipta. Apa yang biasa seperti ikan bandeng merupakan sabda cinta Allah. Dengan membuka mata untuk mengagumi Allah yang tersembunyi dalam semesta ini, orang menemukan misteriNya.

Bandeng Juwana

Di Juwana kita mengenal bandeng. Bandeng memang bukanlah kekayaan alam Juwana saja. Di sepanjang Pantura, kita bisa menemukan ikan bandeng. Namun bandeng Juwana bagaimana pun juga memiliki nilai khusus di hati pecinta bandeng. Ada yang mengatakan gurih, rasanya tak beraroma lumpur. Enak.

Kecamatan kecil di Kabupaten Pati ini lebih mudah diingat ketimbang Pati lantaran produk bandengnya yang termasyur. Dari bandeng itu muncul beragam produk makanan seperti bandeng cabut duri, bandeng presto (duri lunak), hingga bakso, kerupuk, sosis, nugget, dsb.

Kenapa ikan berwarna sisik seputih mutiara dari Juwana ini memiliki citarasa yang unik? Hal ini rupanya didukung kondisi geografis wilayah Juwana. Areal tambak bandeng tidak jauh dari laut Jawa dan sungai Juwana yang hampir tak pernah mengering. Dengan begitu, petambak dimudahkan dalam menjaga kadar keasaman (pH) air kolam budi daya.

Pengalaman insani

Demikianlah hidup (rohani) manusia. Selama bersentuhan dengan Allah dan sesama, energi kehidupan manusia tidak pernah mengering. Selama memiliki kesatuan yang erat dengan Allah dan berbela rasa dengan sesama, hidup iman berbuah dan bercitarasa unik. Selama meneladani pelayanan para nabi dan berani memasuki misteri ilahi, hidup manusia bisa mencapai kesatuan dan harmoni yang lebih besar. Selama didukung oleh hidup doa dan hidup paguyuban, iman tetap terjaga.

Jauh di lubuk hati manusia zaman ini, ada perasaan tidak aman (insecure) dan tidak pasti (uncertain). Yang kita dengar tiap hari adalah berita buruk: perang, pembunuhan, pelecehan, kampanye negatif, kekerasan institusional, terorisme, penghancuran alam, belum lagi banjir, tsunami, gempa bumi, serta puting beliung.

Banyak orang kini hidup dalam kondisi tertekan, takut, putus asa, bahkan ingin melepaskan diri dari kesesakan hidup. Ada di antara mereka yang kembali ke masa lampau dalam gerakan fundamentalisme. Ada yang mulai terpesona lagi pada magik, hal-hal gaib, supranatural, perdukunan dan sebangsanya. Ada pula yang kembali merasakan pentingnya spiritualitas.

Seperti dikatakan Albert Nolan, kehausan akan spiritualitas merupakan tanda-tanda zaman. Hal ini nampak pada orang yang membutuhkan kekuatan batin (inner strength) untuk menghadapi kehidupan, ketentraman jiwa (peace of mind) dan kebebasan dari perasaan takut dan cemas.

Yang lain merasakan bagaimana hidup mereka terpecah dan terbelah dan mereka membutuhkan sesuatu yang lebih besar yang mampu menyatukan keterpecahan itu. Ada pula yang terluka, sakit dan hancur sehingga membutuhkan penyembuhan (healing). Yang lain merasa terputus, terisolasi dari sesama dan semesta maka merindukan keterkaitan dan harmoni.

Banyak generasi muda yang merasakan ingin bersentuhan dengan misteri yang melampaui apa yang mampu mereka lihat, rasakaan, dengar, sentuh, pikir atau melampaui konstruksi pikiran yang mekanistis dan materialistis. Ada pula orang yang haus secara spiritual itu dalam arti sederhana yakni rindu akan Allah.

Photo credit: Ilustrasi panen bandeng (Ist)

Tautan:

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.