Seimbang (1)

Ayat bacaan: Markus 1:35
==================
“Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.”

Hari ini saya memperhatikan anak kecil yang sedang diajari naik sepeda oleh ayahnya. Beberapa kali ia hampir terjatuh karena ia masih oleng ke kiri dan ke kanan dalam latihannya. Dilepas sebentar saja oleh ayahnya ia pun goyah dan tersendat-sendat karena kakinya segera menjejak tanah agar jangan terjatuh. Agar bisa mengendarai sepeda roda dua jelas dibutuhkan keseimbangan karena tanpa itu tentu saja kita tidak akan pernah bisa berjalan jauh dengan mengendarai sepeda. Kelak ketika si anak belajar mengendarai sepeda motor, pelajaran mengenai keseimbangan ini pun pasti masih ia perlukan. Dalam hidup ini kita pun membutuhkan keseimbangan. Kita tidak bisa hanya melakukan satu hal saja seumur hidup kita dan berharap kita akan berhasil. Menetapkan fokus jelas perlu, namun keseimbangan pun harus kita anggap penting. Sama seperti belajar naik sepeda, hidup yang berat sebelah tanpa keseimbangan pun akan oleng dan mudah jatuh.

Ada orang yang terus bekerja siang dan malam tanpa henti. Tuntutan pekerjaan dan deadline-deadline atau mengejar target membuat kita kadang-kadang seperti robot yang terus bekerja dan menomor duakan hal-hal lainnya. Keluarga terbengkalai, anak-anak tidak lagi mengenal ayahnya dengan cukup karena jarang bertemu, tubuh menjadi lemah dan gampang ambruk karena jarang berolahraga dan kurang istirahat,  serta menjadi semakin jauh dari Tuhan karena jarang berdoa dan bersekutu dekat dengan Tuhan. Ini sering terjadi pada orang-orang yang terus mengabdikan diri habis-habisan pada pekerjaannya, yang biasanya juga dikenal dengan workaholic. Di satu sisi ia menunjukkan kinerja yang baik dari sisi pekerjaan, tetapi keluarga, kerohanian dan kesehatan menjadi tidak terjaga dan gampang goyah. Ini baru satu contoh dari orang-orang yang habis-habisan bekerja dan melupakan hal lainnya. Ada orang yang hanya berdoa saja tetapi tidak mau bekerja, ada yang terus tidur, ada pula yang mengisi hari-harinya hanya dengan fitness, jogging dan sejenisnya. Berat sebelah, itu akan membawa hasil yang tidak maksimal atau bahkan tidak baik, baik buat diri sendiri maupun buat orang-orang yang berada di sekitar kita. Ketidakseimbangan bisa membuat masalah dalam kehidupan secara luas.

Yesus sibuk bekerja tak kenal lelah selama masa pelayananNya di dunia. Dia tahu betul sejak awal bahwa waktuNya tidaklah banyak, sementara pekerjaan yang harus diselesaikan sesuai yang dikehendaki Bapa sungguh sangat banyak. Dia harus menyampaikan isi hati Tuhan kepada banyak orang, Dia melakukan mukjizat, kesembuhan dan menjamah banyak orang dan sebagainya. Kita mendapati bahwa Yesus pun mengalami kelelahan yang tercatat di dalam Alkitab. Tapi lihatlah bahwa meski demikian Yesus tahu bahwa Dia harus tetap menyediakan waktu secara khusus untuk berbicara kepada Bapa meski beban tugasNya banyak dan berat. Mari kita lihat sebuah bagian singkat dalam Injil Markus yang menggambarkan hal ini. “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.” (Markus 1:35). Yesus memulai harinya pagi-pagi benar, menyepi dari orang banyak dan menikmati saat-saat teduh untuk bersekutu dengan Bapa. Yesus tahu bahwa Dia memerlukan hal itu agar bisa kuat melakukan semua pelayananNya setiap hari. Melihat Yesus tidak ada di tempat, Simon dan murid-murid lain pun bergegas mencari Yesus. “waktu menemukan Dia mereka berkata: “Semua orang mencari Engkau.” (ay 37). simon melupakan pentingnya mengambil waktu secara khusus untuk bersekutu dengan Tuhan dan lebih terfokus kepada pelayanan. Dan lihatlah bagaimana reaksi Yesus setelah Dia meluangkan waktu secara khusus dengan Bapa. “Jawab-Nya: “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.” (ay 38). Dan Yesus pun kemudian berangkat ke seluruh Galilea ,memberitakan Injil, mengusir roh-roh jahat dan melakukan berbagai pelayanan lainnya. (ay 39). Dari bagian yang singkat ini kita bisa melihat bagaimana Yesus tahu membagi waktu dan menjalani hidup dengan seimbang.

Kita bisa melihat contoh lain dari Paulus. Kurang sibuk apa Paulus dalam melayani? Ia terus bergerak tanpa takut meski resiko yang ia hadapi sungguh berat dan mengancam nyawanya. Tapi lihatlah bahwa Paulus pun melakukannya dengan seimbang. Selain bekerja ia rajin berdoa bahkan tetap mau bekerja. “Kamu sendiri tahu, bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku.” (Kisah Para Rasul 20:34). Beberapa kali pula Paulus mengambil contoh lewat olahraga seperti dalam 2 Timotius 2:5, 1 Timotius 4:8, 1 Korintus 9:24-26 dan sebagainya. Sedikit banyak kita bisa melihat bahwa Paulus tahu pentingnya berolah raga, dan sangat mungkin pula ia termasuk orang yang rajin menjaga kondisi tubuhnya dengan olah raga. Disamping itu kita pun melihat bagaimana kepedulian Paulus terhadap rekan-rekan sepelayanannya dan orang-orang yang dilayaninya pada setiap kota yang ia kunjungi. Berbagai surat-suratnya ia tulis dengan tangan sendiri penuh dengan ajaran dan nasihat. Bahkan beberapa kali kita melihat nama-nama yang ia tulis secara khusus, yang menunjukkan perhatiannya yang mendalam kepada kerabat, keluarga atau saudara-saudaranya.

(bersambung)

Loading...

Published by Wilhelmina Sunarti

Membaca firman Allah setiap hari akan menjaga hati kita dari rasa lelah dalam memikul salib kita. Semoga tulisan para gembala yang ada pada website kami bermanfaat bagi Saudaraku semua. Salam damai dalam kasih Kristus...

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.