Sebelum Pilgub, Berdoalah!

Minggu pagi ini, alarm saya berbunyi pukul tujuh lewat sepuluh menit, tapi saya sudah bangun sejak pukul setengah tujuh. Bukan karena saya kerajinan, melainkan karena saya tinggal di kawasan pemukiman padat penduduk. “Lho, apa hubungannya?” mungkin Anda akan bertanya.

Inilah hubungannya. Karena tinggal di kawasan padat penduduk, otomatis rumah-rumah dibangun berdekatan, bahkan berbagi tembok. Nah! Pagi tadi, saat tetangga saya menyetel lagu dangdut kesukaannya pada pukul setengah tujuh, otomatis saya juga “kebagian” lagu itu. Akibatnya, saya tak cukup beristirahat. Itulah stres nomor 1.

Selesai mandi, saya bersiap-siap untuk berangkat ke gereja. Begitu membuka pintu rumah, saya dikejutkan oleh bau asap. Saya langsung berpikiran negatif, saya mengira daerah rumah saya juga “kebagian jatah kebakaran” yang belakangan ini marak melanda daerah Jakarta Barat. Usut punya usut, ternyata asap itu berasal dari rumah tetangga saya yang lain. Dia rupanya sedang membakar sampah. Saya sedikit lega, ternyata asap tersebut bukan berasal dari kebakaran. Saya pun menyarankan kepada tetangga saya untuk tidak membakar sampah sendiri. Sampahnya cukup dikumpulkan saja ke TPS untuk nanti selanjutnya diangkut ke TPA. Tetangga saya malah marah-marah kepada saya, katanya saya terlalu banyak mengatur. Stres nomor 2.

Saya lalu pergi ke gereja, dibonceng ayah Saya. Kami menuju Gereja Santa Maria de Fatima, Glodok Jakarta Barat. Lalu lintas dari rumah ke gereja semrawut minta ampun. Dan hari ini kesemrawutan itu bertambah akibat rombongan tim sukses dan pendukung salah satu calon gubernur (cagub) Jakarta yang sedang berkampanye. Masih ditambah rombongan wartawan yang sedang berburu berita.

Tentu, bila dibuat jurnal, perjalanan saya penuh dengan deretan rasa stres. Dan memang, hidup di Jakarta, sungguh stres!!!

Buat mereka yang punya pilihan untuk tinggal di tempat lain pasti akan meninggalkan Jakarta. Tapi buat saya, mau kemana? Jakarta adalah tempat kelahiran dan tumbuh kembang saya. Meski kerap membuat stres, toh saya masih betah. Sanak dan kawan semuanya ada di sini.

Kalau sekarang sedang ramai kampanye dan persiapan pemilihan gubernur, tepat sekali bila saya mencoba mengajak Anda semua, tentu saja yang punya hak pilih dan bisa milih untuk gubernur Jakarta menentukan pilihan yang tepat.

Saya rasa, langkah yang tepat adalah berdoa. Biarlah Tuhan yang membimbing kita menentukan pilihan. Saya pun terus berdoa sampai saat ini. Jujur saja, kedua calon gubernur yang maju ke putaran ke-2 ini bukanlah calon yang saya unggulkan. Namun saya percaya, siapa pun yang akan memimpin Jakarta untuk lima tahun ke depan, beliaulah yang Tuhan pilihkan untuk memimpin kita.

Semoga saya dan semua warga Jakarta memilih dengan tepat dan dengan hati nurani jernih serta akal yang sehat. Selamat memilih dan berpartisipasi!

Giovanni Nesya Priresa, OMK Gereja Santa Maria de Fatima, Glodok Jakarta Barat

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.